Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
76. Sudah karatan


__ADS_3

"Katakan apa saja kemungkinannya?" Anggara begitu ingin tahu.


"Pertama dia akan lumpuh, yang kedua dia akan kehilangan sebagian ingatan, atau kehilangan semua ingatan tapi untuk sementara, kita tidak tahu yang mana akan dia alami setelahnya. Jadi dia harus benar-benar di tangani dokter ahli bedah otak." jelas dokter itu.


"Jika tidak di operasi?" tanya Anggara sangat khawatir.


"Jika tidak di operasi lebih menakutkan lagi, dia bisa mati karena darah yang menggumpal di otaknya tidak sedikit."


"Aku tak punya pilihan?" tanya Anggara bergetar.


"Aku akan rekomendasikan dokter ahli bedah otak di Singapura, dia sahabatku dan ibunya merupakan orang Indonesia. Kau akan lebih mudah mengurusnya, dan pastinya dia akan membantumu mendapatkan solusi yang terbaik." dokter itu tersenyum meyakinkan.


"Aku setuju asal itu yang terbaik untuk calon istriku." ucapnya.


Dokter itu tersenyum menatap intens wajah Anggara, ia begitu kagum dengan rasa cinta yang besar dari pria itu.


"Aku permisi." jawabnya beranjak dari ruangan dokter muda itu, sudah pasti ia akan menemui Zahira.


Tangan dokter muda itu terangkat mempersilahkan Anggara, dia masih menatap kagum padanya.


Pintu ruangan UGD itu terbuka, ruangan luas dan ranjang yang besar membuat gadis yang tertidur itu terlihat begitu nyaman. Meskipun peralatan medis masih mengerubungi tubuh lemahnya, namun dia sudah sadar dan sedang melihat langit-langit rumah sakit yang berwarna putih.


Anggara berjalan mendekati ranjang besar itu, tampak gadis cantik pujaan hatinya sedang membuka mata walau mata bening itu tampak lelah dan lemah. Tapi di mata Anggara sorot hitam pekat itu tetap menghanyutkan, tetap menyenangkan, seakan itu adalah lautan yang luas untuk di selami dan tidak terukur kedalamnya.


"Kau sudah bangun sayang." ucapnya lembut, senyum meneduhkan itu tak ketinggalan ia pamerkan.


Mata beningnya terpejam sejenak lalu terbuka kembali seakan mengisyaratkan 'Iya'.


"Aku rindu dengan ocehanmu yang menyebalkan itu." ucap Anggara masih tersenyum, mata coklatnya menyapa setiap lekuk wajah Zahira, menyampaikan rindunya yang tak pernah padam.


Sudut bibir mungil itu kali ini sedikit tertarik, ia tersenyum. Juga, mata beningnya menatap setiap lekuk wajah Anggara yang tampan dan penuh kasih sayang, saat semua orang sudah menganggapnya tak ada, pria itulah yang selalu ada untuknya.


"Mmmh." bibir mungil itu sedikit terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu.


"Nanti saja, kau masih tak cukup tenaga untuk bicara. Kau harus istirahat agar cepat pulih dan berbicara lagi, kita akan membicarakan banyak hal." Anggara mendekati wajah yang masih terpasang oksigen itu.


Bibir mungilnya kembali tertarik sedikit, dia tersenyum lagi.


Anggara menggenggam jemari lentik itu dengan lembut, mengecupnya dengan penuh rindu, dia sungguh-sungguh rindu, ingin rasanya memeluk erat sepanjang malam, tapi itu masih saja tidak mungkin ia lakukan. Yang pasti dia tak akan menyerah untuk mewujudkan hari itu bersama gadis yang ada di hadapannya.


Menikmati rasa aman yang di hadirkan pria dewasa itu, hatinya menghangat, kedamaian menyelusup di relung hati, tubuh lemahnya menjadi sejuk, dia tertidur lelap.

__ADS_1


"Zahira!"


Anggara khawatir gadis itu pingsan atau kembali koma, Anggara menggoyang sedikit bahu gadis itu namun sepertinya tak ada reaksi. Ia akan memanggil dokter dan melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menjadi hangat, tapi tangan lentik nan halus itu mengerat, seakan tak mau di tinggalkan.


Anggara berhenti, dia duduk kembali memandangi wajah teduh yang sedang tertidur, dia cantik sekali.


Satu Minggu sudah berlalu, gadis cantik itu sudah bisa duduk dan tersenyum. Gayanya yang lembut dan manja kembali bisa di saksikan, namun tak ada perdebatan kali ini, dia tak mau mendebat pria tampan yang begitu memuja dirinya.


"Kita akan ke Singapura nanti siang, apa kau sudah siap?" tanya Anggara duduk di samping gadis yang menyandar itu.


"Apa harus?" jawabnya pelan.


"Iya, kau harus sembuh." jelasnya menatap wajah cantik itu seperti biasa.


"Apa kau tidak lelah mengurusku?" tanya Zahira lagi.


"Tidak, aku tidak pernah lelah sebelum kau pulang dan menjadi milikku." jawabnya tersenyum mesra.


"Raya?"


Dia mengingat gadis yang bersamanya.


"Dia mendorongku, di bilang aku tidak boleh mati." Zahira menangis, wajahnya menjadi tegang dan takut.


"Iya, dia baik-baik saja." jawab Anggara tersenyum, bertolak belakang dengan apa yang dia sembunyikan.


"Aku_"


"Sudahlah, tidak usah memikirkan apapun lagi, yang terpenting sekarang kita akan bersiap pergi, kau harus sembuh dan pulang dengan senyum bahagia." Mata coklatnya menatap penuh harap.


Dia mengangguk.


"Anggara, pesawat akan berangkat pukul 11:00 semua sudah siap. Kau harus benar-benar menjaga moodnya, akan lebih baik dia tidur di pesawat." Ricky masuk langsung bicara.


"Om!"


Zahira memanggil pria yang selalu fresh itu.


"Iya sayang!" jawabnya seperti biasa.


"Kau? Tidak bisakah kau rubah panggilan menjijikkan itu?" Anggara menatap kesal pada asistennya yang menyebalkan.

__ADS_1


"Aku sudah terbiasa, kau yang harus mengerti." dia tak mau mengalah.


"Aku tidak menyangka kau akan menjadi durhaka padaku." Anggara membuang muka malas menatapnya lagi.


Pria itu terkekeh geli, dia tetap mendekati Zahira yang tersenyum melihatnya, sama seperti dulu ibunya tertawa dan menyukai Ricky.


"Kau harus sembuh, ingat kau harus menemani sisa hidup perjaka tua itu, kasihan dia memiliki pusaka yang sudah karatan." ucapnya setengah berbisik.


Zahira tersenyum geli mendengarnya, itu sungguh benar bahkan dia tak memiliki kekasih.


"Kau pikir aku tidak dengar!" Anggara memukul tangan Ricky yang dekat dengan tangan Zahira.


"Aku hanya memberinya semangat, apa itu salah?" Ricky semakin membuatnya kesal.


"Aku takut." Suara Zahira terdengar lembut, namun membuat kedua orang itu menatapnya.


"Apa yang kau takutkan?" Anggara menggeser Ricky dan memintanya menjauh.


"Aku takut melupakan kalian." jawabannya masih pelan sekali.


"Tidak perlu takut, aku akan mengingatkanmu." Ricky tersenyum dan berlalu pergi dari ruangan itu, dia tahu bosnya yang selalu jomblo itu sedang ingin merayu.


"Dia benar, aku tidak akan meninggalkanmu dan akan selalu mengingatkanmu. Jika kau takut kehilangan aku disini, maka simpan namaku disini." Anggara menunjuk kening Zahira lalu beralih ke dadanya, tak sampai menyentuh namun terlihat begitu mesra.


Zahira tersenyum, dia sedang memikirkan sesuatu.


"Papa!" ucapnya kemudian.


"Dia baik-baik saja sayang." jawab Anggara, ia tak mau gadis kesayangannya kembali menangis karena mengingat keluarga yang sudah membuatnya menderita. Menggenggam erat tangan itu lagi, meyakinkan semua akan baik-baik saja.


"Om!" panggilnya lirih.


"Iya?"


"Terimakasih." ucapnya lagi.


"Tidak perlu berterimakasih, aku senang menemukanmu. Bersiaplah dan selalu berdoa, kita akan berangkat sebentar lagi." Anggara melihat jam di tangannya.


Zahira mengangguk.


"Aku akan meminta Ricko siapkan kebutuhanmu di sana."

__ADS_1


__ADS_2