
"Kau pikir aku masih kecil, bahkan aku sudah pernah mimpi basah!" Vino menggerutu kesal pada sahabatnya itu.
Radit tersenyum geli mendengarnya, jangankan mimpi basah bahkan Radit yang seusianya sudah berkali-kali merasakan basah-basahan bersama Zahira. Tapi basah yang halal loh, bahkan dia sudah ingin sekali punya anak.
Bel sudah berbunyi, Raditya dan Vino memasuki kelas mereka. Sekilas Radit melihat Merry sedang menunggu kedatangannya, mata gadis itu tak berkedip saat Radit memasuki ruangan hingga duduk di bangku kelasnya.
"Hay Radit." Sapa Merry dengan lembut, senyum manis tapi sedikit sendu menghiasai wajah cantiknya.
"Hay." Radit menjawab sedikit, lalu kembali fokus dengan buku yang baru saja ia keluarkan.
Tak lama kemudian guru kimia mereka masuk dan memulai pelajaran.
"Bagaiman dengan praktek yang sudah bapak beri tahu kemarin, adakah kelompok yang sudah siap?" Pak Edwin bertanya pada semua muridnya.
"Kami sudah siap pak, hanya jadwal prakteknya saja yang belum siap, karena kami masih belum diskusi soal waktu." Merry menjawab cepat, tentu saja sejenak ia menoleh Radit.
"Tapi aku belum mencari bahannya?" Radit menyahuti Merry dengan suara pelan.
"Sudah ku dapatkan semua, tinggal kapan kita punya waktu untuk mengerjakannya." Merry menjawabnya juga dengan suara pelan, karena posisi mereka tidak terlalu jauh.
"Baiklah, nanti kalian diskusikan dan praktekkan di rumah terlebih dahulu, baru setelahnya kita praktekkan bersama. Mengingat ini adalah praktek ringan, bukan bahan yang bisa meledak." Pak Edwin menjelaskan.
"Baik pak." Jawab Merry setuju, tentu saja ia begitu semangat, kelompok yang di bentuk oleh pak Edwin begitu membuat ia bahagia. Dapat bertemu Radit dan punya kesempatan untuk bicara. Jika di sekolah pria itu terlalu dingin dan irit bicara, membuat Merry bingung harus memulai bicara dari mana, bahkan tak jarang saat Merry bertanya Radit malah meninggalkannya berlalu. Itu sungguh membuat Merry kesal setengah mati.
__ADS_1
"Kita akan mengerjakan itu dimana?" Vino ikut bertanya, dia memang orang yang biasa-biasa saja, sedikit polos, atau bahkan terlalu polos untuk ukuran anak kelas tiga Sekolah Menengah Atas.
"Bagaimana jika di rumahku?" Merry memberi usul. Mata gadis itu begitu terlihat berbinar-binar sesekali melihat ke arah Radit, dan kemudian ke arah Vino.
"Aku setuju, asal kau siapkan makanan yang banyak." Vino mengajukan syarat, tentulah makanan yang paling utama untuk Vino yang sangat suka mengemil.
"Baiklah, tak masalah bagiku." Merry tersenyum mendapat dukungan dari Vino, tinggal Radit saja yang masih terdiam.
"Bagaimana? Ku rasa itu ide yang tidak buruk, jadi janganlah kau menolak, aku akan bersenang-senang di rumahnya." Vino menunjuk kepala Merry, laki-laki yang tampak polos itu begitu gembira.
"Baiklah, tapi aku sudah pasti tidak bisa lama, kalian datang lebih awal, setelahnya aku akan menyusul." Radit tidak suka harus datang ke rumah Merry, namun apa lah daya jika sudah menyangkut tugas dari gurunya, ia tak mungkin menolak.
"Hari Jum'at sore saja ya, jam Dua harus sudah ada di rumahku." Merry menunjuk kedua pria yang sedang bicara padanya. Radit hanya mengangguk setuju.
Tidak terasa ia sudah berada di depan kampus elit itu, lama menunggu kehadiran kekasih hati yang sudah sangat ingin ia memeluknya. Hingga hampir tiga puluh menit, tampak gadis cantik dan imut melangkah anggun menuju mobil Radit.
Radit bergegas membuka pintu dan keluar menyambut Zahira. Tangannya meraih buku dan tas yang di bawa Zahira, begitu tak sabar memeluk dan mengecup pipi mulus dan wangi seperti aroma vanila yang selalu membuatnya rindu.
"Radit malu di lihat orang." Suara lembut itu terdengar sedang merengek, semakin membuat gemas Radit yang sedang mengecup pipinya, malah turun ke bibir yang sedang bicara.
"Kenapa harus malu, kau milikku." Radit menghisap bibirnya sendiri yang terasa basah karena mencium Zahira.
"Terserah kau saja." Zahira masuk lebih dulu ke dalam mobil dengan tangan Radit belum lepas merangkul lengannya.
__ADS_1
Radit tersenyum, ikut masuk ke dalam mobil meletakkan buku dan tas Zahira yang cukup berat untuk di bawa terlalu lama. "Kita pulang saja, agar tidak di lihat orang." Radit tersenyum mengedipkan sebelah matanya, membuat Zahira pasrah dengan ronde yang akan diminta Radit padanya.
Mereka tidak menyadari, tak begitu jauh darinya seorang wanita sedang terdiam menyaksikan kemesraan yang begitu membuatnya cemburu. Ciuman hangat Radit begitu membakar hatinya yang sedang menahan rasa cinta, pelukan Radit membuatnya kesal karena dia sungguh menginginkannya.
Tapi.
"Aku tidak menyangka seorang Radit melakukan itu dengan begitu bernafsunya, di depan umum?" Merry berbicara sendiri. "Wanita berhijab itu selalu saja bermesraan dengannya, sebegitu dekatnya mereka hingga melakukan ciuman di depan kampus." Merry tampak berpikir, "Apa seorang Radit begitu menyukai hal seperti itu, hingga tidak mampu menahannya."
Merry sengaja mengikuti Radit saat pulang sekolah, dia berharap bisa mengetahui tempat tinggalnya. Tapi malah pemandangan itu yang dia dapat, Merry jadi membayangkan betapa nikmatnya di cium oleh pria tampan itu. "Ah aku rasa aku sedang tidak waras!" Ucapnya kemudian mulai melajukan mobilnya.
Sementara di tempat lain, David dan Ayu sedang menghabiskan waktu makan siang berdua, mereka sedang mengobrol banyak hal.
"Sepertinya Zahira sudah mulai bisa mengendalikan perusahaannya." David berbicara dengan penuh keyakinan.
"Syukurlah, ayah ibunya sangat pintar mana mungkin anaknya tidak hebat, hanya mungkin selama ini ia tidak memikirkan hal itu, karena dia pikir ada Radit yang akan mengendalikan semuanya, tapi syukurlah sekarang dia sudah punya keinginan untuk bekerja." Ayu begitu lega.
"Itu berkat Anggara, dia berhasil meyakinkan Zahira untuk belajar bekerja. Dan lagi Anggara juga belum benar-benar melepaskannya, dia masih mengontrol proyek yang di kerjakan Zahira." David menambahkan.
"Dia memang baik sekali." Ayu tersenyum sambil tangan kanannya mengaduk minuman dan menghisapnya.
"Tadinya aku takut Anggara jatuh cinta pada Zahira, tapi ternyata tidak, dia benar-benar membantu dengan begitu tulus." David menatap wajah Ayu dengan lega sama seperti istrinya.
"Apapun itu, yang paling penting sekarang Zahira sudah menerima perusahaan itu, dan itu memang miliknya. Sebentar lagi kau bisa pensiun." Ayu terkekeh.
__ADS_1
"Kau juga sayang, Radit akan bisa mengendalikan perusahaan milikmu." David juga tersenyum bahagia.