Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
198. Pasang CCTV


__ADS_3

"Aku tidak menerima kesalahan, sekecil apapun!" Radit menatap tajam wajah Merry.


"Aku janji." Merry memeluk lengan Radit dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.


Sore hari Radit kembali menghantarkan Merry pulang kerumahnya, alasan tak membawa mobil membuat ia merengek kepada Radit untuk pulang bersama .


"Lain kali bawa mobil sendiri, karena aku sedang sangat sibuk akhir-akhir ini." ucap Radit ketika mereka sedang di jalan.


"Iya." jawab Merry menurut, yang penting baginya bisa pulang berdua dengan Radit adalah hal yang paling membuat bahagia di dunia ini.


Sepanjang jalan Radit tak bertanya atau bicara apapun, tatapan lurus ke depan, datar dan dingin. Namun tak masalah bagi Merry, itu sudah biasa dia rasakan semenjak masih sekolah.


Hingga tak berapa lama kemudian, mereka sudah tiba di rumah Merry.


"Aku langsung pulang!" Radit tak beranjak dari posisi duduknya.


"Ayolah!" Merry memohon agar Radit ikut masuk kerumahnya.


"Ini sudah sore, lagipula -"


"Tidak ada alasan." Merry tak melepas lengan Radit.


"Baiklah." Radit pasrah kali ini, sekilas mata sipitnya melirik mobil mewah di teras samping masih ada, artinya masih ada Anwar di sana.


"Ayo masuk!" ajak Merry lagi, menarik tangan Radit.


Hingga di dalam ruang tamu, Merry pergi ke ke kamarnya terlebih dahulu. Sementara Radit melihat sekeliling ada foto dan lukisan, juga tampak di luar jendela ada tanaman hias yang masih baru, rumah yang terlihat mengasing itu lumayan nyaman.


"Sedang apa?" Merry mendekati Radit.


"Hanya melihat sekeliling. Rumah sepi seperti ini apa tidak kau pasang CCTV? Radit menoleh Merry.


"Ada, tapi tidak semuanya, karena aku belum mengatur kembali isi rumah ini." jawab Merry senang dengan usul Radit.


"Oh." Radit kembali melihat sekitar. "Kau minta Didit saja yang memasang ulang, pegawai tokoku itu juga menerima pemasangan CCTV. Kau tinggal katakan sesuai maumu dan tidak usah membayar, nanti aku yang akan membayarnya." tawar Radit kepada mantan istrinya itu.


Merry tercengang dengan tawaran Radit, sungguh itu adalah perhatian yang besar baginya. "Baiklah! Besok aku akan -"

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku masih mampu untuk membayar jasa pemasangan CCTV untuk putriku." tiba-tiba Anwar berjalan mendekat ke arah mereka.


Radit berusaha tidak terkejut, tersenyum dan bersikap ramah. "Aku tahu, bahkan kau sudah lebih kaya dari sebelumnya." ucap Radit menatap wajah Anwar yang juga memperhatikan dirinya.


"Hem, itu hanya keberuntungan yang terkadang tidak bisa diprediksi. Aku rasa kau mengetahui banyak hal tentang diriku! Dan sepertinya aku harus waspada." Anwar menatap tajam.


"Oh, ayah mertua! Jika kau tidak melakukan kesalahan harusnya tidak perlu waspada terhadap diriku. Lagipula aku ini bukanlah Polisi, tapi mengapa saat ini aku merasa jika kau lebih takut padaku daripada Polisi." seakan menantang tatapan mantan mertuanya.


"Sebaiknya jauhi putriku, tak ada untungnya bagimu dekat dengan putriku. Lagi pula Anggara sudah mati, bukankah itu suatu keberuntungan untukmu? Semua orang tahu kau masih sangat mencintai janda kaya itu." Anwar tersenyum menang.


"Papa!" Merry tak suka dengan apa yang di bicarakan Anwar.


"Ya, terkadang apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan harapan. Ada kalanya berbalik arah dan membenahi perasaan adalah hal terbaik daripada memaksakan kehendak. Tapi jika kau tidak suka aku dekat dengan putrimu, aku akan menjauh!"


"Radit!" Merry meraih bahu Radit.


"Kau ingin mempermainkan perasaan putriku?" tanya Anwar mulai kesal.


"Tidak!" jawab Radit yakin.


"Kita menikah dan tinggal di rumah yang lain. Apa kau mau?" tanya Radit dengan tiba-tiba.


Mulut mungil Merry sampai di terbuka lebar, juga mata yang membulat saking terkejut dan bahagia tak terkira.


"Tidak! Kau pasti sedang ingin menyakiti putriku. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" marah Anwar lebih mendekati Radit dengan mata semakin tajam.


"Untuk apa aku melakukannya? Apa aku punya alasan?" Radit membalik pertanyaan.


Anwar semakin geram, walau tak menjawab tapi hatinya tahu jawaban dari pertanyaan Radit.


"Papa! Tolong berhenti! Aku dan Radit sedang memperbaiki semuanya." Merry memohon.


"Kau jangan bodoh Merry Sandra!" bentak Anwar. "Jika kau ingin uang Papa akan memberikan sebanyak yang kau mau, tapi jauhi dia!" tunjuk Anwar kepada Radit.


"Papa!" rengek Merry lagi, namun akhirnya ia menyusul Radit yang sudah melangkah menuju teras.


Mungkin jika di teruskan perdebatan itu akan menjadi sangat panjang, dan Radit tidak butuh itu. Walaupun masih terselip rasa penasaran tentang Anwar yang kini kaya mendadak. Bagaimana bisa pak tua itu menguasai sebagian saham Daniel?

__ADS_1


"Radit!" panggil Mery lagi ketika sudah di depan rumah, melihat Radit benar-benar tampan duduk menyandar di mobilnya.


"Tidak ada gunanya berdebat dengan orang tua!" ucap Radit lagi.


"Maaf! Papa hanya khawatir denganku." ucap Merry menyandar di samping Radit.


"Dia pantas curiga, tapi apa yang harus dicurigai? Aku jadi memikirkannya." Radit menoleh Merry.


"Tidak ada, Papa memang seperti itu." jawab Merry tersenyum.


"Mengapa kau tidak mengikuti kata Papamu? Bukankah hidup enak dan tak perlu bekerja akan menyenangkan bagi kalian para wanita?" tanya Radit masih menatap wajah Merry.


"Entahlah, aku hanya butuh ketenangan. Dan ternyata Papa menyusulku!" ungkapnya kemudian menunduk.


"Dia menyayangimu." ucap Radit, tentu membuat Merry semakin bahagia.


"Aku tahu, dan aku ingin kau juga bisa menyayangiku." ungkapnya lembut.


"Tapi, ayahmu tidak akan mengizinkan dengan mudah. Apalagi sekarang dia memiliki uang banyak, dia tidak lagi menginginkan aku menjadi menantu." ungkap Radit dengan keraguan.


Merry tampak berpikir, apakah disaat Radit sudah menyukainya malah Anwar yang tidak mengizinkan. Merry benar-benar bingung saat ini.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan." Radit sedikit tersenyum, dan itu sangat manis sekali.


Suara mobil keluar dari halaman rumah Merry, sepertinya Anwar akan pergi.


"Papa!" Merry menghampiri Anwar yang juga membuka kaca mobilnya.


"Papa akan pergi, jika tidak sempat nanti malam, besok Papa akan kembali." Anwar melirik Radit.


"Iya. Hati-hati Papa!" Merry melambaikan tangannya ketika mobil itu melaju.


Sementara Radit hanya memasang wajah biasa, tetap duduk di mobil bagian depan dan terlihat santai.


Cahaya jingga mulai menerpa di wajah mereka, sore yang indah dengan suasana damai dan hijau di arah jalanan depan rumah Merry membuat tenang ketika melihat dan menarik nafas lega di sana. Ditambah lagi dengan wajah tampan Radit yang tak pernah berubah, hati Merry kini sedang berbunga-bunga. Impian memiliki suami tampan dan gagah seperti Radit sudah di depan mata, dia sungguh akan mempertahankan kebahagiaan itu kelak, apapun yang terjadi, tidak ingin gagal yang kedua kali.


"Ayo masuk, hari akan gelap." ajak Mery meraih bahu Radit, senyumnya manis sekali.

__ADS_1


__ADS_2