
"Dokter, pasien berteriak dan mengamuk!" seorang perawat mendatangi dokter di sebuah ruangan.
Dokter itu segera berlari menuju ruangan yang tampak sudah ramai.
"Tepi, Dokter nak masuk!" perawat itu meminta para pasien yang ada di pintu itu segera menyingkir.
"Dokter, obat yang awak minumkan tak di telan." salah satu perawat yang memeganginya melaporkan.
"Pegang lebih kuat." perintah dokter itu segera mengeluarkan obat di kantong jasnya dengan sebuah suntikan siap menusuk lengan pria yang sedang menjerit dan menangis.
"Dokter, aku tidak gila! Aku hanya ingin bertemu Zahira, jika tidak aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Aku ingin dia tetap di sisiku." Radit memohon untuk tidak di suntik.
"Tenang ye, kalau nak jumpa Zahira Radit kene sembuh cepat. Jangan melawan, minum obat dengan rajin jangan di buang." Dokter itu merayunya karena pria muda itu masih melawan sekuat tenaga.
"Dia meninggalkan aku Dok, dia pergi!" tangisnya lagi.
Sedikit rasa iba, dokter itu membiarkan Radit mengeluarkan semua kesedihannya.
"Radit sayang Zahira?" tanya Dokter itu pelan dan lembut.
Radit mengangguk beberapa kali, "Aku sangat mencintainya Dok, tapi gara-gara aku dia pergi. Dia kesakitan, dia pasti kepanasan, dia tersiksa, dia ketakutan." tangisnya semakin pilu, kali ini dia terduduk lemas.
"Radit tak boleh terus menangis, Zahira akan ikut bersedih. Ingatkan die dah tenang di sane, die dah tak payah pikir dunie yang serba salah ni. Kite hanya boleh jalankan tugas kite sepanjang umur yang di berikan Allah, lepas tu bile tugas kite dah habis, Allah panggil kite untuk balik, jangan kau tangis orang yang dah pegi dulu, itu tak baik." Dokter wanita itu menasehatinya, sambil tangan halusnya menancapkan jarum suntik di lengan Radit.
"Dok, aku ingin pulang." ucapnya pelan.
"Iye, kalau Radit dah sembuh mestilah Papa dan Mama akan jemput. Jangan buangkan obat lagi ye!"
Radit mengangguk dengan air mata masih mengalir, pria itu tersandar lemah. Para perawat langsung memindahkan Radit di ranjang miliknya.
"Kesiannye!" salah satu perawat menatap sedih pada Radit yang mulai tertidur.
Dokter itu tersenyum, ia tahu perawat muda itu mengagumi pasiennya.
"Cinta memang boleh buat orang menjadi sakit." ucap dokter itu berlalu.
__ADS_1
Sementara di kediaman Ayu, wanita empat puluhan itu tampak sedang khawatir. Dia duduk menyandar menikmati air mata yang menghangatkan pipinya, meratapi nasib putra semata wayangnya begitu menyedihkan.
Dulu di saat muda dia sempat mengalami Depresi berat, namun yang merawatnya adalah wanita yang tak senagaja menjadi saudara. Reva, ibu dari gadis malang yang sudah pergi dengan cara mengenaskan membawa kesedihan dan sakit hati karena ulah putranya.
"Mengapa harus seperti ini, tidakkah bisa jikalau aku saja yang menanggung semua derita itu? Jangan putraku, jangan putriku." ucapnya masih menangis.
David baru saja pulang dari kantor milik Zahira, pria yang tampak lemas itu semakin putus asa melihat istrinya menangis dengan begitu sedih.
"Ada apa sayang?" tanya pria itu duduk mendekatinya.
"Radit kembali mengamuk David, dia masih sangat tersiksa dengan kepergian Zahira." ucapnya dengan air mata terus berjatuhan.
"Kita tak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menjalani semuanya dengan ikhlas. Kita sudah menyia-nyiakan gadis yatim piatu yang dititipkan Tuhan pada kita, kita sedang di hukum." David berucap pelan penuh kepasrahan, membuat istrinya semakin menangis.
"Kita orang tua yang jahat?" tanya Ayu dalam tangisnya.
"Aku hanya sedang berpikiran seperti itu." jawab David lagi.
"Nyonya ada yang datang mencari." seorang satpam menghampiri Ayu dan David yang sedang saling berdiam dengan pikiran masing-masing.
"Siapa pak?" tanya Ayu pelan.
Ayu mengusap air matanya, beranjak dan segera menemui gadis yang datang.
"Merry!"
Ayu menatap gadis itu, langkahnya mendekat dengan perlahan.
"Tante." suara lembutnya menyapa.
"Masuklah." ajak Ayu, sungguh berbeda jika dulu Zahira yang datang. Gadis itu akan memanggilnya dengan penuh rindu, memeluk dan mencium pipi Ayu dengan manja.
Entah karena Zahira yang menyayangi atau karena Ayu juga sangat menyayanginya, yang pasti mereka akan benar-benar melepas rindu dan mendengarkan bibir mungilnya terus bicara. Bahkan jika merajuk dia akan langsung masuk kamar dengan Radit yang menjadi sasaran kemarahan David dan Ayu.
Dengan sesak ia menarik nafas, "Ada apa?" tanya Ayu berusaha lembut dan menerima.
__ADS_1
"Apa Radit sudah bisa di temui?" tanya gadis itu masih dengan suara pelan. Perut buncitnya selalu setia di elus dengan begitu halus.
"Kami baru saja mendapat kabar bahwa dia sedang mengamuk dan menangis atas kehilangan Zahira." jawab Ayu tanpa harus berbohong.
Merry menunduk, hatinya bergemuruh hebat. "Mengapa harus Zahira?" hatinya berucap.
"Ku harap kau bersabar, ingatlah saat dia sembuh nanti Radit akan datang dan menanyakan anaknya. Dia menginginkan anak itu jadi jaga dia dengan baik." Ayu tak bosan mengingatkannya, sebagai seorang wanita dia tahu benar jika mengandung tanpa suami adalah hal yang menyiksa batin dan menguji mental.
"Aku hanya berharap dia akan segera sembuh dan dapat menemani aku saat melahirkan anaknya." jawab Merry penuh harap.
"Aku juga selalu berdoa agar dia bisa sembuh, dia masih punya harapan untuk kembali dengan sehat." Ayu sedikit tersenyum.
Merry ikut tersenyum, tapi sudut matanya menangkap wajah pria gagah yang hanya menatapnya dari jauh. Mata hitam pekatnya seakan ingin membunuh, membuat Merry lebih memilih untuk pura-pura tidak melihat saja.
"Apa bulan ini kau sudah periksa?" tanya Ayu lagi.
"Sudah Tante, usia kehamilanku tujuh bulan." jelasnya menghitung.
"Artinya kau akan melahirkan dua bulan lagi." Ayu melihat perut itu memang sudah sangat besar.
"Iya." jawabnya singkat.
"Uangmu sudah ku kirim Minggu lalu untuk dua bulan sekaligus." jelas Ayu.
"Terimakasih Tante." ucapnya dengan wajah polos.
Ayu seperti kehilangan bahan untuk bicara, sedikit memijat pelipisnya dan menyandar lelah. Dia sungguh pusing dengan jalan hidupnya sendiri, bahkan dengan kehadiran Merry dia memaksakan hatinya untuk tidak egois.
"Kalau begitu aku permisi Tante, aku akan pulang dan beristirahat." gadis itu beranjak dari tempat duduknya, sedikit susah payah degan perut yang semakin berat.
"Hati-hati di jalan." ucap Ayu padanya.
Dia mengangguk, sedikit tersenyum dan berlalu dengan taksi di depan rumah mertuanya sudah menunggu. Hatinya masih terus berkecamuk dengan berbagai rasa, sungguh kehadirannya belum dapat di terima di rumah itu, bahkan tatapan menghunus itu tampak begitu kejam untuk seorang wanita yang sedang mengandung cucu dari keluarga mereka. Entah jika nanti setelah seorang cucu itu lahir dan memperlihatkan wajahnya, mungkinkah tatapan tajam itu akan berubah menjadi hangat?
.
__ADS_1
.
Biar semangat update, Jangan lupa like dan Vote-nya ya....😍😍