Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
257. Sikap aneh


__ADS_3

Setelah mengirim pesan kepada Ayu, jika sore ini mereka akan datang menginap. Zahira dan yang lainnya bersiap-siap, Ayra, Jia, anak-anak dan Akbar ikut serta.


"Kalian bersama Bibi saja." Jia meminta anak-anak masuk ke mobil yang di bawanya.


"Tidak mau." jawab Satria memegang tangan Zahira.


Namun sebuah mobil silver masuk ke halaman rumah itu.


"Yeay, aku akan ikut Paman saja." Satria langsung mendekati mobil Radit yang baru saja berhenti.


Radit turun dengan sedikit merapikan rambutnya ke belakang, tersenyum dan langsung memeluk Satria yang berlari kearahnya.


"Kita ke rumah Nenek!" Radit mengangkat tubuh kecil Satria, hingga tertawa lepas dan kembali turun.


"Mengapa kemari, kami akan kerumahmu." ucap Akbar pada sepupunya.


"Aku sengaja menjemput anak-anak dan_" Radit melirik wanita yang sejak tadi diam memperhatikan dirinya.


"Ini Kak Ayra." Zahira memperkenalkan.


Radit mendekatinya, mengulurkan tangan dan tersenyum. "Radit." ucapnya.


"Ayra." jawabnya balas tersenyum, tak menyangka melihat mantan suami adiknya, masih tampan sekali.


"Ayo berangkat." Radit mengajak semuanya masuk ke mobil Radit.


"Tapi kami_"


"Pak, biar aku saja." Radit meminta sopir Zahira untuk tidak ikut pergi. Ia tahu Zahira sedikit melotot padanya namun tak peduli.


"Baik Tuan." Sopir Zahira menurut.


"Aku bosnya, mengapa kau yang mengatur?" kesal Zahira, walau pada akhirnya ia masuk juga di mobil Radit.


"Dasar." Akbar menggeleng dengan tingkah Radit, ternyata dia sudah sembuh dari patah hatinya kemarin sore.


Sepanjang perjalanan hanya terdengar celotehan anak-anak berbicara dengan Radit. Sesekali mata sipitnya memperhatikan dua orang wanita di belakang.


Tentu Zahira tahu jika Radit memperhatikan mereka berdua, terutama Ayra. Entah apa yang membuat mata Raditya lebih tajam memperhatikan Ayra. Mungkin karena dia cantik? begitu pikir Zahira.


"Kita sudah sampai." Satria yang duduk di samping Radit langsung membuka pintu, sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ayu dan David.


"Akhirnya kalian datang juga." Ayu menyambut mereka terutama Ayra.


"Selamat datang Sayang." Ayu memeluknya dan mengecup kedua pipinya.

__ADS_1


"Terimakasih Bibi." jawabannya halus.


"Mari masuk, anggaplah rumahmu juga." Ayu berusaha membuat anak kakak angkatnya tersebut nyaman.


"Hei, keponakan yang akan menikah." Ayu juga mendekati Akbar dan Jia, gadis itu menunduk.


Akbar tersenyum menoleh Jia, kemudian memeluk Ayu dengan hangat.


"Tidak usah sungkan, kita akan menjadi keluarga." Ayu berbicara kepada Jia, dan mengelus pundaknya.


"Ba-baik Nyonya." jawabnya gugup, tentu membuat gelak tawa dari semua orang.


"Kau bisa gugup juga?" Radit meledeknya.


"Kau tidak boleh seperti itu." Zahira membelanya, dia tahu sekali saat ini Jia sangat tidak nyaman.


"Hanya bercanda, dia tidak akan marah. Ku rasa dia tidak sepertimu yang tidak bisa diajak bercanda, sedikit-sedikit kau sudah merajuk." Radit hanya melirik sedikit.


"Kau juga sama." kesal Zahira.


"Sudah, baru datang kalian sudah bertengkar. Kapan kalian bisa berdamai." Ayu menggeleng dengan ulah kedua anaknya.


"Dia tidak mau berdamai, dia hanya mau berdamai dengan Reza Mahendra saja. Dan kemudian tidak akan pernah damai, karena ada nenek sihir diantara mereka." Radit duduk tanpa peduli Zahira.


"Kau jahat sekali." gerutu Zahira, tentu ia memilih menjauh, duduk di dekat David.


"Kalian sudah dewasa." David menengahi.


"Benar sekali." jawab Radit, ucapan David yang seolah bijaksana itu adalah bentuk pembelaan pada Zahira.


Pukul 19:00 selepas isya, makan malam yang lumayan menyenangkan. Hanya sedikit aneh, ketika Ayra makan sedikit dan kemudian ke kamar mandi hingga berkali-kali.


"Maaf Nyonya, ada yang datang." Asisten rumah tangga Ayu menghampiri.


"Siapa?" tanya Ayu masih sibuk memberikan lauk untuk kedua cucunya.


"Teman Mas Radit, juga Tuan David. Namanya Reza Mahendra."


"Uhugk uhugh." Ayra tersedak hebat. Hingga tidak tahu harus meraih air putih.


"Ini." Radit memberinya air minum.


"Terimakasih." jawab Ayra segera meneguk air putih hingga habis.


"Biarkan dia masuk." jawab Ayu pada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Baik Nyonya."


"Ada apa Sayang? Apakah kau sakit?" tanya Ayu kepada Ayra.


"A_"


"Selamat malam semuanya, maaf aku datang mengganggu." suara Reza memotong ucapan Ayra.


Sejenak kemudian mata Reza dan Ayra bertemu, sulit diartikan tapi Radit menangkap tatapan keduanya, dan itu seperti sedang bicara.


"Tidak mengganggu, silahkan duduk dan makan bersama." David memang baik, mempersilahkan Reza duduk bersamanya dengan Zahira ada di tengah-tengah mereka.


"Terimakasih, aku sudah kenyang. Tapi tidak menolak jika duduk di sini." jawabnya melihat Zahira yang masih sibuk memotong makanan.


"Duduk di meja makan tapi tidak makan?" sahut Zahira kemudian memasukkan makanan ke mulutnya.


"Aku sudah kenyang melihatmu makan." rayunya dengan senyum lebar memperlihatkan gigi berbaris rapi.


Zahira hanya membalas senyumannya, kemudian lanjut menghabiskan makanan.


"Mengapa datang kemari." tanya Zahira beranjak lebih dulu bersama Reza menuju ruang keluarga.


"Aku sengaja menyusulmu, bukankah pembicaraan kita tadi pagi belum selesai?" Reza melangkah mengiringi Zahira.


"Masih ada hari esok Mas, mengapa harus terburu-buru. Lagi pula jawabannya sama saja." Zahira mengajaknya duduk di ruang keluarga.


"Zahira, aku harus bagaimana agar kau yakin padaku? Menikahlah denganku, kita akan hidup bersama. Aku janji akan mengurus kalian dengan baik walaupun aku tidak mungkin lebih baik dari Anggara, aku akan berusaha. Aku akan benar-benar menganggap mereka anakku, kau tahu aku tidak bermain-main tentang perasaanku padamu, juga anak-anakmu, anak kita. Katakan padaku aku harus bagaimana, kau minta apa, kau mau aku seperti apa?" Reza benar-benar bicara serius, tanpa berbasa-basi.


"Mas aku tidak bisa, aku tidak mau membuat ibumu marah. Aku juga seorang ibu, aku tidak ingin putra-putraku membantah apa yang aku katakan, tentu jika mereka membantah hatiku akan sakit sekali." jelas Zahira pelan, tak mau Reza tersinggung.


Reza menundukkan kepalanya, dia sedang bingung dengan hidupnya sendiri. Ada ketakutan yang besar di dalam hatinya, takut kehilangan kesempatan untuk menikahi Zahira.


"Mas, kau percaya jodoh?" tanya Zahira lembut.


Reza mengangkat kepalanya menatap Zahira.


"Kalau jodoh tak akan kemana, sekalipun aku tak mau, kalau jodoh sudah memilih, suatu saat akan menjadi milikmu juga." ucapnya lembut, terdengar sedang merayu.


Reza tertawa kecil. "Kau pandai sekali, aku jadi tidak tau harus kecewa atau apa?" ucapnya menatap lembut.


Zahira ingin membuatnya mengerti, namun sulit sekali memaksakan apa yang dia yakini, entahlah.


Hingga beberapa puluh menit kemudian, di rasa sudah cukup bertemu Zahira, ia memilih berpamitan.


"Hati-hati mas Reza." ucap Zahira hanya berdiri di ruang keluarga, karena Sadewa meminta di temani.

__ADS_1


"Ya, hubungi aku jika ingin pulang." Reza mengusap kepala Sadewa.


__ADS_2