Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
77. Kita akan pulang


__ADS_3

Mount Elizabeth Singapura, satu bulan kemudian.


"Dia sudah sadar, hubungi keluarganya." Dokter bermata sedikit menyipit dengan hidung mancung beserta kulit kuning kecoklatan itu terlihat senang.


Hari itu sudah jadwal Anggara kembali ke Singapura, dua hari di Indonesia lalu kembali lagi ke Singapura, dia sama sekali tidak lelah selama satu bulan ini demi menemui Zahira


Setelah operasi tiga Minggu yang lalu, Zahira kembali mengalami koma, gadis itu mengulang kembali tidur panjang tanpa merasakan apa-apa, dan hari ini ia membuka mata. Wajahnya yang mulus terlihat pucat, namun matanya terbuka dengan lebar seperti tanpa beban apapun di kepalanya.


"Sepertinya pasien sudah sadar sejak semalam Dokter." perawat yang membuat semua alat di tubuhnya berbicara sambil terus menatap gadis itu dengan kagum.


"Mungkin saja." ucapnya membantu melepaskan oksigen di wajah Zahira. "Beritahu dokter yang lain, kita akan melakukan pengecekan fisik, aku takut dia mengalami kelumpuhan." Dokter wanita itu memandangi wajah Zahira yang belum menunjukkan ekspresi apa-apa.


Perawat itu mengangguk dan berlalu, hingga tak berapa lama kemudian dia orang dokter dengan dua perawat ikut di belakangnya, mereka melakukan pengecekan keseluruhan.


Sementara di luar, pria tampan setengah berlari masuk ke rumah sakit bertingkat itu, ia langsung menuju ruang Zahira di rawat dan wajahnya begitu tegang setelah mendengar kabar Zahira sudah sadar.


"Apa saya boleh masuk?" tanya Anggara pada salah satu perawat yang berdiri di luar ruangan Zahira.


"Masih melakukan pengecekan keseluruhan pak." sepertinya dia orang Indonesia.


"Aku hanya ingin melihat, aku tak akan mengganggu." jawabnya memohon.


"Baiklah, tapi hanya melihat sampai dokter selesai ya pak?" Perawat itu memintanya berjanji.


"Iya." Anggara mengangguk.


Ruangan luas itu terlihat ramai dengan banyak dokter dan perawat mengerumuni gadis yang kini duduk di ranjang.


Anggara tak dapat melihat wajahnya karena tertutup seorang dokter yang masih sibuk melihat mata gadis itu, tampak dari samping salah satu perawat sudah berumur menggerak-gerakkan tangan halusnya, sesekali ia melihat ekspresi wajah cantik itu dan memintanya menggerakkan jari. "Tangannya berfungsi dengan baik Dok." ucapnya lega.


Lalu kakinya, salah satu dokter menekan telapak kaki Zahira dengan sebuah pena, jarinya bergerak, artinya dia merasakan sesuatu membuat dokter itu tersenyum menatap wajah Zahira.

__ADS_1


"Semua baik Dok!" Dokter yang menangani operasi Zahira tampak lega.


Namun salah satu dokter masih terlihat memperhatikan wajah Zahira, wajah berkacamata itu tampak sedang berpikir.


"Kita hanya perlu memeriksa kepalanya." ucapnya dengan sedikit berbahasa Inggris.


Yang lain mengangguk mengerti.


Sekilas wajah cantik itu menoleh Anggara, tatapannya mencuri namun seperti meminta sesuatu, tangannya masih di gerak-gerakkan dokter wanita yang menanganinya.


Salah satu perawat memberikan air mineral untuknya, Zahira meminumnya sedikit dan lagi matanya mencuri pandang pada Anggara yang hanya diam menyandar di dinding agak jauh darinya.


"Suami anda sudah lama menunggu." ucap perawat muda itu tersenyum pada Zahira.


Zahira menatap wajah wanita itu lalu kemudian kembali mencuri pandang pada Anggara, hanya Zahira yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.


Dari tadi pria itu tak berkedip menatap Zahira, dia sedikit tersenyum ketika mata bening gadis itu menembus sela-sela para dokter yang memeriksanya, sepertinya dia ingin Anggara mendekat.


Dua dokter dan beberapa perawat sudah keluar, meninggalkan satu perawat dan dokter muda yang menangani Zahira saja.


Anggara tersenyum, menunduk dan mendekati wajah yang penuh harap itu. "Terima kasih sudah kembali untuk ke dua kalinya." kedua tangan kokohnya menekan kedua sisi di samping kaki Zahira, ia setengah berjongkok mendekati wajah yang mendongak seakan menyaksikan pemandangan indah di wajahnya yang tampan.


Mata bening itu terlihat indah dengan bulu mata tebal menghiasi bak lautan yang dalam memanggil untuk masuk kedalamnya.


"Dua jam lagi kita akan melakukan pemeriksaan kepala." Dokter muda itu tersenyum, meninggalkan Zahira dan Anggara.


"Terimakasih Dokter." ucap Anggara ?menoleh sejenak.


Kembali ia memandangi gadis cantik itu, duduk di dekatnya dengan wajah selalu tersenyum. "Makan sedikit ya?" Anggara melihat seorang perawat mengantar bubur untuk Zahira.


Tangan kokohnya meraih mangkuk yang masih di pegang perawat muda itu, menyendok sedikit dan meminta Zahira membuka mulutnya.

__ADS_1


Zahira membuka mulutnya sedikit dan mulai menikmati bubur dari tangan pria dewasa yang penuh karisma, bubur yang hambar dengan sedikit rasa manis itu terasa enak jika yang menyuapi adalah pria tampan.


Hingga beberapa suapan dan kemudian gadis itu tak mau membuka mulutnya lagi.


"Sekali lagi." Anggara membujuknya.


Dia menggeleng pelan, hingga Anggara memberikan minum padanya.


"Nanti kita akan membeli ayam tepung kesukaanmu."


Zahira menatapnya seakan-akan ingin tahu banyak hal.


"Kau sangat menyukainya, hingga membuat asistenku kebingungan kemana harus mencari ayam tepung tradisional itu." jelas Anggara lagi, dia memahami banyak hal, dan dia sudah bisa menebak Zahira sedang berada dalam kekosongan ingatan.


Zahira masih tak bicara.


"Esok atau lusa, kita akan pulang ke rumah kita." ucap Anggara lagi memancing jawaban dari bibir mungil yang dulu selalu menjawab apapun perkataannya.


"Pulang?" ucapnya pelan.


"Ya, kita akan pulang. Di rumah kita ada taman bunga yang luas dan indah, kau akan senang bermain bersama kupu-kupu yang berterbangan. Kau juga tak akan kesepian, karena di rumah kita ada banyak orang yang akan menemanimu juga melayani semua kebutuhanmu, kau adalah ratu di sana." ucap Anggara dengan begitu indah.


Bibir merahnya tersenyum merekah indah, ia sedang membayangkan berada di rumah itu. Matanya terlihat berbinar tentu ia ingin segera berada di sana.


"Kita akan selalu bersama." rayunya lagi.


Dia mendekat, kepala yang berbalut kerudung tipis itu menyandar di bahu kokoh Anggara tanpa diminta.


*


Berbeda di tempat lain, David sudah lebih baik semenjak pengobatan yang ia lakukan di Penang Malaysia. Pria gagah dengan banyak bulu di wajahnya itu sudah kembali masuk bekerja, tapi lebih banyak melamun di dalam ruangan yang ada dua meja itu. Tentu ia sedang teringat akan Zahira yang sering berada di sana bersama Anggara, gadis itu sering merengek dan membuat jengkel rekan bisnisnya, walau akhirnya dia akan menuruti apa maunya.

__ADS_1


"Andai kau masih ada Nak, andaikan saja aku tidak mengizinkanmu menikah muda dengan Radit, kau tak akan pergi secepat ini." dia meratapi kepergian Zahira.


"Aku bahkan merasa lebih jahat terhadapmu, aku tidak memenuhi semua kebutuhanmu dan menganggapmu masih belum dewasa, aku juga bersalah."


__ADS_2