
"Mungkin mereka terburu-buru." Anggara tak ingin istrinya larut dalam rasa sedih.
"Kalau begitu aku pulang Mama, Papa." ucapnya memeluk Ayu, juga mengecup punggung tangan David.
"Ya Sayang, lain kali datanglah ke sini, Mama dan Papa kesepian." ucap David sedih.
"Iya." Zahira tak mampu banyak bicara, tentu seorang David juga Ayu mengetahui jika hati putrinya sedang bersedih.
Di dalam mobil, sepanjang jalan hanya habis berdiam, wajah sendu Zahira dengan tubuh lemas menyandar itu membuat Anggara mengetahui jika Zahira bersedih dengan kepergian Radit. Ia jadi bingung harus melakukan apa agar Zahira tidak terlalu memikirkan Radit, jujur saja ia tidak suka, tidak ingin istrinya memikirkan siapapun kecuali hanya Anggara.
"Sayang, mau makan sesuatu?" Anggara melihat di depan sana ada banyak penjual makanan berbaris rapi, ia ingat jika Zahira pernah meminta jajanan kaki lima.
"Hem?" Zahira menoleh banyak penjual makanan, dan salah satunya membuat perhatiannya teralihkan. "Bubur kacang hijau." ucapnya tak mengalihkan pandangan dari gerobak bubur.
"Baiklah, kita akan membelinya." Anggara mencari tempat parkir, lalu turun bergandengan menuju gerobak bubur yang dimaksud istrinya. Sejenak menghabiskan waktu untuk sarapan berdua di pinggir jalan, membuat suasana hati Zahira kembali membaik.
Dua bulan semenjak kepergian Radit, tak ada yang berubah dalam keseharian Zahira.Hanya ada Anggara yang selalu berusaha membuatnya nyaman, juga memberikan seluruh kebahagiaan sempurna. Menikmati hari dengan penuh cinta, melewatkan setiap malamnya dengan penuh kehangatan. Entah mengapa di pagi itu Zahira merasa malas bangun dan seluruh tubuhnya berat dan nyeri.
"Sayang! Apa ada yang sakit?" Anggara melihat wajah cantik Zahira meringis, dengan tubuh masih menyandar di ranjang.
"Entahlah, hanya pegal di bagian punggung." jawab Zahira masih tak bergerak.
"Kita ke rumah sakit Sayang, Dokter mengatakan jika sebaiknya kau melahirkan secara Caesar saja." Anggara mengelus perut Zahira yang luar biasa besarnya.
"Aku lebih suka melahirkan normal Mas, kapan lagi aku bisa merasakannya." jawab Zahira halus.
"Aku tahu, tapi bayi kita ada dua Sayang, aku takut kau kalah tenaga. Aku ingin kau selalu sehat dan baik-baik saja setelah mereka lahir nantinya. Mereka butuh kasih sayangmu dan yang paling penting, mereka butuh ASI. Jadi kau harus sehat, aku tak mau mengambil resiko." Anggara mengelus pipi Zahira, ia sedang meyakinkan istrinya untuk selalu baik-baik saja.
__ADS_1
"Tapi Mas!" protesnya dengan manja.
"Tidak, sekali lagi ku katakan jika aku tidak mau mengambil resiko. Aku hanya memiliki dirimu, hanya kau yang bisa menyayangi mereka sepenuh hati walaupun aku ayahnya." Anggara tak memberi kesempatan untuk Zahira di protes.
"Mas!"
"Aku tidak mau kehilangan dirimu." Anggara memeluknya erat sekali.
"Aku hanya melahirkan, bukan sedang perang." Zahira mengerucutkan bibirnya di tengah pelukan dan ciuman hangat Anggara.
"Apapun itu, bagiku kau sangat berharga." ungkapan terdalam dari hati Anggara.
"Baiklah." lirihnya, Zahira tak di beri pilihan.
"Kita berangkat." Anggara mengangkat tubuh Zahira, menggendongnya menuju mobil mereka.
"Apa aku tidak berat?" tanya Zahira melihat wajah Anggara sedikit menegang saat menggendongnya.
"Itu olahraga yang menyulitkan." gumam Zahira masih melingkarkan tangannya di pundak Anggara.
"Setelah olah raga menyenangkan selama sembilan bulan, aku layak membayarnya dengan menggendong anak dan istriku." ucap Anggara mesra, tentu tak hanya ucapan. sentuhan hangat yang selalu membuat Zahira nyaman sepanjang jalan menuju rumah sakit.
"Mas, aku takut!" tak henti menggenggam tangan Anggara, lebih tepatnya saling menggenggam dalam rasa kasih sayang.
"Aku bersamamu, bahkan kita pernah melewati ketakutan yang lebih dari ini Sayang. Kita harus berjuang sekali lagi untuk menggendong anak-anak kita, kau pasti bisa, harus tenang dan ingat jika ada aku yang tidak bisa hidup tanpamu, juga anak-anak kita tak akan bisa hidup tanpa ibunya yang cantik." sebuah kecupan hangat kembali berlabuh di kening halus Zahira.
"Aku sangat bahagia, aku bahagia bersamamu. Kita sudah berjanji akan membesarkan mereka bersama." ucapnya dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tentu. Istriku harus semangat demi anak-anak kita." Anggara membujuk, menenangkannya.
"Demi suamiku juga." jawab Zahira menatap penuh cinta, ucap Zahira membuat mereka saling menatap.
"Hanya pasien saja, Tuan silahkan tunggu di luar." seorang perawat meminta Anggara keluar.
Tangan yang masih bertaut itu sungguh tak rela saling melepaskan. Anggara ingin sekali memaksa ikut, tak rela meninggalkan istrinya sendiri berjuang di ruangan yang dingin.
"Dia akan baik-baik saja." suara Ayu membuat Anggara kembali menarik nafas. Ah dia sedang tidak fokus bahkan hanya sekedar bernafas.
Proses operasi yang lumayan, satu jam yang telah terlewati namun jantung Anggara masih saja berdegup tak beraturan, cemas berlebihan membuat pria itu tidak bisa duduk dengan tenang. Ia berdiri, berjalan kesana-kemari lalu duduk lagi, setiap orang yang melihatnya akan dengan mudah mengetahui jika dia sedang gelisah. Kali ini ia duduk dengan menutup wajah tampannya, memejamkan mata sejenak dan berdoa agar Allah menyelamatkan mereka bertiga, Zahira dan dua anaknya. Tak hanya sekali bayangan buruk melintas dalam benak Anggara, entah itu kehilangan atau bahkan harus memilih. Tentu Anggara tidak mau memilih, tapi jika harus maka Anggara akan memilih Zahira. Ya! Zahira tercinta.
"Keluarga ibu Zahira!"
Suara dokter mengejutkan lamunan yang semakin tak tau arah itu, Anggara berdiri dengan segera.
"Selamat, Anda menjadi seorang Ayah, kedua putra Anda sudah lahir dengan selamat." Dokter mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tapi setelah beberapa detik masih tak mendapat balasan dari Anggara. Dokter itu menatap heran.
"Istriku?" tanya Anggara pelan namun terdengar khawatir.
Dokter Amelia tersenyum. "Dia baik-baik saja, hanya belum sadar." ucapnya mengerti, jika laki-laki di hadapannya sangat menghawatirkan istrinya.
Suara tangis bayi bersahutan di bawa keluar oleh dua perawat untuk di pindahkan menuju ruang bayi. Momen yang tak pernah terbayangkan oleh Anggara akan memiliki dua bayi laki-laki sekaligus. Hatinya terasa sesak tapi bukan bersedih, melainkan sedang di penuhi kebahagiaan yang utuh. Air mata pria itu jatuh tanpa terasa bergulir mengalir di sudut bibirnya.
"Ini putra-putra Anda Tuan Anggara." Dokter Amelia meminta dua perawat itu mendekatkan bayi merah itu pada ayahnya.
"Ya, terimakasih banyak." ucapnya pelan. sedikit bergetar dengan banyaknya rasa syukur di dalam hati.
__ADS_1
"Aku akan ikut memandikan cucuku." Ayu berjalan mendekati dua suster tersebut, mereka masuk menuju ruang bayi meninggalkan Anggara yang masih terpaku tak percaya, di sisi lain ia bahagia, namun ia masih tidak tenang dengan belum sadarnya Zahira.
"Terimakasih ya Allah, hadiahmu luar biasa." berkali-kali mengusap wajah tampannya yang sedikit basah karena air mata bahagia.