Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
206. Bukalah sedikit saja hatimu


__ADS_3

Zahira memalingkan wajahnya, takut Radit berharap lebih jika Zahira sampai memakan makanan itu.


"Sayang, bersama Bibi Jia dulu ya! Paman perlu bicara dengan ibumu."


Satria dan Sadewa menurut, mereka sedang fokus dengan apa yang dilihatnya di layar ponsel.


"Makanlah sedikit, perutmu kosong bagaimana bisa sehat!" Radit membujuk.


Tak mendapat jawaban, sepertinya wanita itu masih enggan berbicara atau menerima sesuatu dari Radit.


"Zahira! Tolong bukalah sedikit hatimu untuk menerima aku sebagai teman jika saudara terlalu istimewa untukmu. Lupakan sejenak bahwa kita pernah menikah."


"Sayangnya aku tidak pernah lupa!" jawab Zahira masih menggenggam selimut di sela jarinya.


"Artinya aku masih tersisa di sini." Radit menunjuk dada Zahira. Yang tentu saja membuat wanita cantik itu menatap tajam.


"Benar kan?" tanya Radit lagi dengan mata tak berkedip, sengaja mencari jawaban sendiri di wajah cantik yang dulu menemani hari-harinya.


"Radit, keluarlah! Jangan membuatku lelah." Zahira menarik nafas dan membuang kasar, ia benar-benar tidak bisa berdekatan dengan laki-laki penggoda seperti Radit.


"Aku tidak akan keluar sebelum kau makan sesuatu." Radit kembali menyodorkan jeruk ditangannya. "Dulu tak hanya dari tanganku, bahkan dari bibirku kau akan memakannya." bisik Radit membuat Zahira semakin kesal, mata indahnya melotot.


"Pergi!" tangan lentiknya tak di sadari mendorong bahu Radit.


"Makanlah jika ingin aku pergi." Radit tersenyum menang.


"Aku tidak mau jeruk!" ungkapnya kesal.


"Kau mau makan apa?" Radit bertanya dengan lembut, dia sungguh masih sangat mengistimewakan Zahira.

__ADS_1


"Bubur saja." Jia memberikan bubur ayam yang masih hangat, sepertinya baru saja Ricky membelinya.


"Baiklah, aku akan menyuapimu." Radit mulai membuka kotak makan itu, menyodokkan bubur ke mulut Zahira.


"Aku makan sendiri saja." jawab Zahira halus, ia berusaha mengatur posisi duduknya, di bantu Radit meletakkan bantal lalu makanan di atas pangkuan Zahira.


Akhirnya jawaban dari bibir mungil itu tak lagi marah, ucapan lembutnya kembali terdengar. "Makanlah yang banyak, baru setelahnya aku akan keluar." ucap Radit sedikit tegas.


"Kau mengancamku? Bagaimana jika tidak enak?" Zahira menatap Radit dengan tatapan protes.


"Kalau tidak enak aku akan menyuapimu, dengan bibirku bila perlu." Radit kembali berulah.


"Radit! Aku masih istri Anggara! Walaupun suamiku sudah mati, tapi di dalam perutku ada anaknya! Jadi ku mohon untuk tidak mengatakan hal yang tidak layak ku dengar. Dan tolong jangan mengingatkan aku tentang-"


"Kita pernah menikah, hidup bersama sejak kecil dan aku selalu menyayangimu, mencintaimu hingga saat ini. Itu tak bisa dirubah Zahira, jadi jangan berpikir kau akan jatuh cinta pada laki-laki yang baru kau kenal dari pada aku yang sudah pasti tidak akan pernah bisa jauh darimu apapun yang terjadi, sekalipun kau menjadi istri siapapun! Aku akan tetap di sekitarmu, kau tidak bisa merubah itu. Jadi silahkan jatuh cinta pada siapa saja, tapi tetap tak bisa kau menjauh dariku. Sebelum aku mati seperti Anggara! Baru kau bisa bebas."


"Makanlah sedikit!" Jia mendekati Zahira yang kini tertunduk sedih. Dia tidak menangis, atau sudah tak punya air mata, tentu kata-kata Radit bukanlah candaan baginya.


"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Zahira menciptakan keheningan karena Jia tak akan mampu menjawab.


"Aku tidak ingin siapapun Jia!" ungkapnya pelan, air matanya menetes lagi. "Aku hanya ingin membesarkan anak-anakku, aku sudah cukup jatuh cinta dengan suamiku saja. Aku tidak mau siapapun lagi."


"Jika tidak ingin siapapun maka jadilah wanita kuat seperti yang di inginkan Tuan Anggara. Atau jika tidak maka Nyonya akan selalu mendapatkan kejaran dari laki-laki yang menyukaimu. Mereka baru yang terdekat, mereka sudah jelas bukan orang baru bagi Nyonya. Dan masih banyak lagi nanti yang akan mengejar Nyonya, entah itu karena cinta, atau bisa juga karena harta. Nyonya harus siap dengan segala kemungkinan, bahkan rasa cinta yang di penuhi ambisi akan menciptakan permusuhan untukmu nanti. Jika saat ini ingin sendiri, maka harus bisa menghadapinya sendiri. Tapi jika tidak mampu, maka pilihlah salah satu." ucap Jia tanpa merubah ekspresi wajahnya. Datar dan dingin.


"Jia, jangan membuatku takut!" ucap Zahira bergidik ngeri dengan ucapan Jia.


"Itu benar Nyonya, dan dapat di pastikan akan segera terjadi. Laki-laki di luar sana sedang berpikir bagaimana cara untuk mendekatimu, jika harta kau punya banyak, mungkin tampan dan cinta akan mereka tawarkan. Orang tulus tidaklah banyak, tapi terkadang kita sendiri sulit membedakan. Bahkan kata orang bisa bajing*an tapi kepadamu bisa saja jadi pahlawan, semuanya sulit di nilai ketika cinta sudah bicara. Jadi pilihlah dengan benar kepada siapa Nyonya akan jatuh cinta. Walaupun bukan saat ini, ku harap Nyonya bisa menjaga diri agar tidak memberi celah kepada laki-laki yang salah."


"Apa maksudmu Reza?" tanya Zahira.

__ADS_1


"Pak Reza Mahendra bukan orang jahat, cerdik dan handal mirip seperti Tuan Anggara, mereka bahkan berteman cukup lama. Tapi dia adalah seorang pemain wanita, banyak artis dan anak pengusaha yang mengejarnya, namun belum ada kata serius baginya. Dia tidak jatuh cinta melainkan hanya bermain-main. Aku tidak tau jika padamu, manusia bisa berubah, tapi menurut sebagian yang pernah di tolak olehnya, dia adalah orang yang buruk! Tapi masih lebih baik daripada orang asing." jelas Jia lagi.


"Aku tidak sedang berpikir untuk dekat dengannya, hanya khawatir jika dia sering datang dan anak-anak menyukainya." Zahira menghela nafas berat lagi. "Aku harus bagaimana Jia?" Mengulang pertanyaan yang sama.


"Jalani saja. Yang terpenting Nyonya sehat dan bisa keluar besok pagi." ucap Jia.


"Seandainya Mas Anggara masih ada." kelurahan yang tidak akan ada jawaban.


Jia hanya tersenyum, dengan sabar menyuapi majikan yang sedang putus asa.


...***...


Sementara si tempat lain, Merry sedang duduk sendirian di luar rumah sederhana miliknya, wajahnya di tekuk, tak ada senyum di wajahnya.


"Papa keterlaluan mengirim pesan kepada Radit agar tidak menemuiku!" kesalnya sambil duduk gelisah di teras rumahnya.


Bosan dan rindu, tentu tempat yang sepi seperti itu membuat wanita muda berkhayal yang indah-indah, apalagi mempunyai objek yang tampan seperti Radit. Langit yang cerah dengan bintang bertaburan di atas sana, indah sekali jika dinikmati berdua, menyandar di bahu Radit yang hangat.


"Radit!" rengeknya sendiri.


Kretek


Merry menoleh cepat, dia terkejut, Mungkin binatang, begitu saat ini ia berpikir.


Kresek


Bugh


"Aaaaaakhhhh...!" Mery menjerit kencang dengan segera melompat dan berusaha berdiri berlari menuju teras belakang.

__ADS_1


__ADS_2