
Di lantai dasar, David sedang mengelus kepala Sadewa yang tertidur di sofa sementara Satria masih bermain sambil menonton film kartun.
"Tuan, ada yang datang." sopir pribadi David melapor.
"Oh, aku akan menemuinya." David memindahkan kepala Sadewa di bantal, menyelimutinya dan kemudian berlalu keluar.
Dari pintu David dapat melihat siapa yang datang, ternyata dugaannya tidak meleset.
"Apakah ada kepentingan mendesak sehingga kau datang malam-malam di akhir pekan seperti ini?" tanya David di pintu pagar yang sekarang sudah di buka.
"Aku tidak menyangka kau melarangku masuk." jawab Reza menahan kekesalannya.
"Tentu saja, ada putriku dan putraku di dalam. Bukankah kemarin kau melarangnya masuk ke rumah putriku?" David balik bertanya.
Reza terkejut, dia tak menyangka Radit mengetahuinya, dan mengadu kepada David.
Sementara di balkon lantai dua, Radit mendekati Zahira yang sepertinya ingin berbicara banyak hal. Tak ada emosi dan kebencian di mata beningnya, wajahnya lembut, manis dan menggemaskan, seperti saat masih sekolah.
"Apakah ada yang penting?" tanya Radit menatapnya lembut, selangkah demi selangkah kakinya mendekat dan semakin dekat.
"Tidak juga, hanya butuh teman bicara dan itu tentang diriku sendiri." Zahira sedikit gugup.
Radit tersenyum melihat kegugupan yang sudah lama tak dilihatnya dari sosok Zahira.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan apapun itu."
"Sekalipun tidak enak di dengar?" tanya Zahira sedikit menaikkan alisnya.
"Ya, sekalipun itu menyakitkan aku akan tetap mendengarnya jika kata-kata itu keluar dari bibirmu." ucapnya terdengar merayu, matanya menatap mesra.
"Aku tidak bilang akan menyakitimu." Zahira menghindari tatapan Radit.
Radit tersenyum sedikit, namun ponselnya berbunyi mengganggu suasana yang mulai menghangat. Radit meraih ponsel di saku jasnya, membaca pesan yang ternyata membuatnya tidak tenang.
"Zahira, aku harus keluar." ucapnya menyimpan kembali ponsel dan melihat ke bawah, halaman rumahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Zahira penasaran, bahkan Radit baru saja pulang.
"Aku ada perlu sebentar. Sebaiknya kau istirahat." Radit meraih bahu Zahira dan memintanya masuk ke dalam kamar.
"Aku belum mengantuk." Zahira menolak.
"Tapi_"
"Kau mau kemana?" Zahira menatapnya curiga.
"Aku, ke rumah Ayra." jawab Radit bingung mencari alasan.
__ADS_1
Zahira tercengang mendengarnya, tapi kemudian ia mengangguk.
Radit berbalik dan berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru.
Samar terdengar suara saling jawab menjawab, membuat Radit mempercepat langkahnya.
"Aku hanya ingin bertemu sebentar dengan Zahira, itu saja." suara Reza Mahendra terdengar jelas.
Di halaman rumah David masih terjadi pembicaraan yang sengit.
"Dia sedang istirahat." David tak memberi izin.
Berkali-kali Reza menarik nafas, mendadak wibawanya sebagai pengusaha menghilang karena obsesi memiliki seorang janda.
"Apakah kau sengaja membalas _"
Bugh
Tanpa aba-aba Radit memukul wajah Reza Mahendra dengan sangat keras. ia benar-benar kalap melihat wajah pria yang menjadi targetnya beberapa hari ini, kebetulan dia datang sendiri.
Reza menatap tajam, memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Tanpa bicara juga dia membalas dan memukul wajah mulus Radit sekuat tenaga.
Radit yang merasa pukulan Reza menyakitinya tak mau kalah, langsung menendang perut pria tampan berwajah indo tersebut.
"Hentikan." David menengahi keduanya, tak menyangka akan terjadi pukul-pukulan tiba-tiba.
"Bukankah kau yang seperti anak kecil?" Radit menjawab dengan emosi masih menguasai. "Kau melarangku masuk di rumah Zahira, apa maksudmu?"
"Aku tidak suka kau dekat dengannya!" jawab Reza juga dengan nafas naik turun.
"Heh, kau pikir bisa memisahkan aku dan Zahira?" Radit mengusap sudut bibirnya yang terasa asin. "Kau dengar baik-baik! Sekalipun dunia terbelah dua, aku dan Zahira tidak akan pernah bisa berpisah. Bahkan perceraian tak kan membuat aku menjauh darinya, begitupun dia tak akan bisa jauh dariku. Apalagi hanya karena kau! Seorang laki-laki brengsek penjahat wanita, perusak dan pembohong ingin memisahkan kami? Kau ingin memilikinya? Apa di rumahmu tidak punya cermin?"
"Jaga ucapanmu! Kau tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu semuanya! Hanya menunggu waktu Zahira pasti akan tahu, dan kau akan terlihat seperti sampah." geram Radit masih di pegang David.
"Kaulah yang sampah bagi Zahira! Kau hanya mantan suami yang masih mengharapkan dia kembali." Reza tak mau kalah menghina Radit, dia memberontak ingin menyerang Radit lagi.
"Paling tidak aku hanya pernah tidur dengan dua wanita saja dalam hidupku, dan satunya karena tidak sengaja. Tidak seperti dirimu! Kau pasti tahu maksudku. Atau aku akan mengatakannya sekarang pada Zahira?"
"Kau mencoba mengancam ku?" Reza tersenyum sinis.
"Aku tidak mengancam, hanya sedang mengetahui kenyataan."
"Papa!"
Suara yang membuat keduanya menoleh cepat.
__ADS_1
"Zahira." mereka semua menatap Zahira yang berjalan kearah mereka.
"Sayang, masuklah." David tak ingin Zahira terlibat keributan dengan dua orang pria yang memperebutkannya.
"Tapi Papa, apa yang kalian ributkan?" Zahira melihat wajah Radit dan Reza bergantian.
"Tidak ada Zahira, aku hanya ingin bertemu denganmu." jawab Reza, melepaskan tangan bodyguard dan sopir David dari lengannya.
"Sebaiknya kau pulang." David angkat bicara meminta Reza segera pergi.
Zahira menoleh Radit, ia bingung dengan apa yang sudah terjadi, tentu penyebabnya bukan hal yang kecil.
Radit merangkul bahu Zahira, sengaja membuat Reza semakin terbakar.
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Zahira menoleh Reza Mahendra lagi yang tak melepas pandang padanya.
"Hanya sedikit salah paham, nanti aku ceritakan." Radit mengajaknya segera masuk.
"Zahira." Reza memanggilnya lembut.
Zahira menoleh, menatapnya masih sangat heran.
"Ayo masuk." ucap Radit dengan satu tangan memegang pipinya.
"Tapi_" Zahira menoleh Reza lagi, melihat pipi pria tampan itu juga memar dan sedikit berdarah di sudut bibir sama seperti Radit.
"Pulanglah." David mengulang permintaannya kepada Reza dengan lebih sopan.
Reza akhirnya masuk kedalam mobil dengan kesal, masih bisa di lihat punggung Zahira di rangkul oleh Radit memasuki pintu rumah itu. Reza tahu Radit sengaja memanas-manasinya.
Sementara di dalam rumah itu, Radit langsung pergi ke kamar untuk membersihkan wajahnya, Zahira menunggunya di luar.
Tak lama kemudian Radit sudah keluar dengan wajah lebih segar walau masih merah di pipinya.
"Radit!" suara Ayu bersama David berjalan cepat ke arah Radit.
"Kau bilang akan ke rumah Ayra." Zahira menatapnya penuh tanya.
"Aku hanya,,," Radit semakin bingung menjawab pertanyaan Zahira.
"Mengapa harus berkelahi?" tanya Ayu lagi memegang pipi Radit yang tampak memar.
Radit tak menjawab, hanya diam saja dengan menatap wajah Zahira, mereka saling menatap dengan pikiran masing-masing.
"Mama akan mengambil air hangat." Ayu meninggalkan mereka kembali ke lantai bawah.
Masih saling menatap, "Apakah ada hubungannya denganku?" tanya Zahira.
__ADS_1