Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
91. Suara istrinya


__ADS_3

"Ricky, alihkan semua asetku atas nama Zahira." Anggara menghubungi Ricky, asisten andalan yang menyebalkan.


"Kemarin kau sudah menyuruhku! Kau tahu tidak itu butuh proses." Ricky menjadi kesal pada bosnya.


"Aku ingin segera." jawabnya tak peduli betapa rumitnya hidup Ricky.


"Tidak bisakah kau santai sedikit, menikmati waktu bersama istrimu saja." jawab Ricky lagi.


"Tidak." jawab Anggara singkat.


"Dasar." ucapnya terdengar kesal.


"Besok aku tidak bekerja." sambung Anggara lagi.


"Kau bilang ingin segera, tapi kau malah menambah pekerjaanku."


"Zahira sedang hamil, dia ingin aku menemaninya seharian." jawab Anggara lagi.


"Hah, kau serius?" Ricky begitu terkejut, ia sungguh ikut berbahagia.


"Iya, aku berhasil." jawabnya terdengar sangat bahagia.


"Hahaaa, akhirnya pewaris itu akan lahir juga, aku ikut bahagia." jawab Ricky dengan tawanya.


"Itu sebabnya aku ingin kau mengurusnya segera." perintahnya lagi.


"Iya, kau tenang saja."


Anggara memutuskan panggilan ponselnya, ia menghirup udara di balkon itu dengan begitu nikmat, rongga dadanya terasa lega dengan pikiran yang tenang dan tentunya hati yang bahagia.


"Mas." panggilan manja itu terdengar tepat di punggung Anggara, gadis itu menyelipkan tangan kecilnya di antara bahu dan mengusap dada bidang Anggara.


"Apa? Mau sesuatu?" tanya Anggara berbalik dan memeluk tubuh kecil yang hangat itu.


"Tidak, hanya rasanya akan enak jika keluar dan makan di pinggir jalan, aku bosan." jawabnya terlihat menggemaskan.


"Baiklah, kita akan keluar." Anggara mengecup kening yang selalu halus itu, begitu lama hingga sedikit basah.


Zahira terlihat senang, lesung pipinya semakin dalam kala ia merasa bahagia, tak henti bibir merahnya tertarik di kedua sudut. Ia tak pernah merasa memiliki beban, hanya bahagia saja ketika bersama Anggara, entah jika di depan sana, bukan tak mungkin ada sedih yang akan menghadang, karena hidup tak selamanya bahagia, atau tidak selamanya berduka, semua datang bergantian seperti siang dan malam, begitulah aturan alam.


"Kita ke sana saja." ucap Zahira saat melewati taman.


Anggara menoleh, taman hijau yang banyak penjual makanan di depannya. "Tidak buruk." Anggara mencari tempat untuk memarkirkan mobil mereka.


"Ada rujak mas!" matanya berbinar melihat makanan dari buah segar itu.


"Apa sebaiknya kita minta Bibi saja yang membuat, dia pintar sekali memasak." Anggara tak yakin makanan itu higienis.


"Aku mau yang itu." Zahira tampak memohon.


"Baiklah." sudah tentu ia akan mengalah, memesan satu porsi rujak buah dengan bumbu gula aren memang terlihat sangat menggoda.

__ADS_1


"Wangi sekali." Zahira menghisap-hisap aroma bumbu yang dihaluskan itu, berkali-kali ia menelan liurnya dan itu tak lepas dari perhatian Anggara.


"Maaf ya, tolong yang ini untuk istriku. Dia sedang mengidam." Anggara tidak tahan jika harus menyaksikan pemandangan itu lebih lama.


"Aduh mas, 'kan aku pesan lebih dulu!" ibu muda itu menatap kesal pada Anggara.


"Istriku sudah menelan ludah berkali-kali. Begini, aku akan membayar pesanan kalian asal istriku mendapat lebih dulu." Anggara tak kehabisan cara.


"Nah kalo yang itu saya setuju." yang lain juga ikut setuju, jelas setuju ya Mak, soalnya gratis.


"Terimakasih." Anggara segera meraih piring yang terisi penuh dengan buah dan bumbu, mengajak Zahira duduk di sebuah kursi dan segera menikmati makanannya.


"Enak Mas." ucapnya sambil terus mengunyah, bibir merahnya semakin terlihat menggoda karena makanan pedas itu.


"Makanlah." ucapnya masih setia memegangi piring itu.


"Aku ingin memakan ini setiap hari." ucapnya lagi.


"Iya, tapi pelan-pelan Sayang, nanti kita akan membelinya lagi jika kau masih mau." mereka melewati waktu dengan bahagia.


*


Dua Minggu kemudian.


"Perutku terasa nyeri!" Merry keluar dari kamar dengan memegangi pinggangnya, melihat tangga yang cukup tinggi membuat ia semakin nyeri jika harus naik mencari Radit di sana, dia ada di atas dan belum turun dari subuh tadi.


"Bibi!" panggil Merry.


"Panggilkan Radit!" ucapnya terdengar memerintah.


Bibi langsung naik dan segera memanggil Radit, tak berapa lama ia turun dengan terburu-buru.


"Merry!" Radit mendekatinya.


"Perutku sakit, sepertinya akan segera melahirkan." ucapnya meringis menahan nyeri.


"Bukankah seharusnya Minggu depan?" Radit segera mengambil kunci mobil dan merangkul Merry segera masuk ke dalamnya.


"Aku tidak tahu, ini sakit sekali." Merry masih meringis, juga menangis.


"Sabar ya, kita akan ke rumah sakit terdekat." Radit sedikit mengelus perut buncitnya.


Rumah sakit itu tak terlalu ramai, Radit segera turun dan membawa Merry dengan menggendongnya.


"Dok istri saya akan segera melahirkan." Radit terlihat panik, mengikuti dokter itu masuk ke ruang bersalin.


"Tahan sedikit ya!" Dokter memeriksa kandungan Merry, sarung tangan itu ia lepas dan meraba perut buncitnya.


"Masih harus menunggu, sabar ya Bu!" Dokter itu tersenyum.


"Berapa lama lagi Dok?" tanya Radit.

__ADS_1


"Mungkin masih sekitar Empat jam." Dokter itu meninggalkan ruangan.


"Radit, ini sakit sekali." Merry masih meringis dan gelisah.


"Iya, ada aku di sini." Radit mengibur dan memegang tangannya.


"Aku haus." ucapnya lagi.


"Aku akan membeli air mineral untukmu." Radit melepaskan tangan Merry dan keluar dari ruangannya.


Lorong yang panjang di rumah sakit besar itu membuat Radit harus berjalan agak lama, ia sedang memikirkan harus menghubungi siapa untuk menemaninya.


"Mas, pulang nanti aku ingin membeli ayam tepung di kedai yang tadi."


Pelan tapi terdengar suara gadis itu tertuang di gendang telinganya.


"Iya, tapi periksa dulu, kau sering mual sayang."


Juga suara itu, Radit sangat mengenalnya.


"Ayo masuk." ajaknya masih menggelitik telinga Radit.


"Aku terima telepon sebentar sayang, tidak lama." Anggara tak jadi masuk, keluar dari ambang pintu melepaskan tangan Zahira yang sudah berada di dalam lebih dulu.


"Om!" Radit memanggilnya, wajah pria muda itu terlihat tegang.


"Ya!" Anggara juga terkejut dan menurunkan tangannya dari telinga.


"Om dengan siapa?" Radit menatap tajam, seakan ingin masuk ke ruangan di belakang Anggara.


"Dengan istriku." jawabnya tenang.


"Kau sudah menikah?" Radit sungguh penasaran dengan suara yang di dengarnya.


"Iya." Anggara berlalu tak mau berbicara lebih banyak.


Radit terdiam dengan matanya terus mengikuti punggung Anggara, ia sungguh penasaran tapi ia juga harus membeli air minum untuk Merry.


"Ada apa Nak?" Ayu sudah berdiri di hadapan Radit.


"Mama, mengapa Mama bisa ada di sini?" tanya Radit belum habis terkejut juga sedang berpikir.


"Aku datang ke rumahmu, dan ibu menyusul kemari membawa pakaian yang sudah di siapkan Bibi." Ayu memang sedang membawa tas besar.


Radit masih terlihat bingung.


"Ada apa?" Ayu yakin ada yang sedang membuat putranya berpikir.


"Aku bertemu dengan Om Anggara, dia bersama istrinya di dalam sini." ucap Radit membuat Ayu ikut penasaran.


"Benarkah?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Aku mendengar mereka berbicara, dan suara istrinya seperti suara Zahira." Radit begitu yakin, menatap wajah Ayu, juga pintu yang setengah tertutup itu.


__ADS_2