
"Tidak. Hanya salah paham dan aku belum selesai bicara dengannya." ucap Radit masih memegang wajahnya.
Ayu datang dengan membawa air hangat beserta kain di tangannya. "Mama akan mengobatimu." Ayu mengajak Radit masuk di kamarnya.
"Lain kali jangan berkelahi, kau tahu orang berkelahi tidak ada yang mendapatkan keuntungan, menang atau kalah sama saja." Ayu terus berbicara sambil menekan sudut bibir Radit dengan air hangat membuatnya meringis.
Zahira tak ikut masuk, hanya memandangi ibu dan anak tersebut dari luar, sesekali Radit menatap ke arahnya.
"Baiklah, kau istirahat saja." Ayu sudah selesai dan beranjak dari kamar Radit.
"Terimakasih Mama." ucap Radit sebelum Ayu keluar.
Ayu hanya tersenyum manis, kemudian menatap Zahira yang setia berdiri di depan pintu. "Tidurlah Sayang, dia memang seperti itu. Masih saja tak berubah jika sudah menyangkut tentang,,,,"
"Mama!" Radit menghentikan ucapan Ayu kepada Zahira.
"Ada apa?" Ayu menoleh Radit.
"Aku haus." ucapnya cepat.
"Baiklah." Ayu berlalu dari kamar Radit.
"Kau menutupi sesuatu." Zahira juga berlalu setelah berbicara.
"Zahira!" Radit beranjak mengejar Zahira, walau tak ada jawaban.
Zahira membuka pintu kamarnya tanpa menoleh Radit.
"Zahira, tunggu." Radit mendorong pintu kamar dan ikut masuk di dalamnya.
"Mengapa kau masuk?" Zahira mendorong Radit walau percuma, tubuh gagah dan tegap seperti David membuat Zahira kesulitan walau hanya menggesernya.
"Dengarkan aku, dia tidak suka kau ada di sini." ungkap Radit pelan membiarkan tangan kecil Zahira berusaha mendorongnya keluar, baginya itu hanya sentuhan manja.
"Tapi tidak harus berkelahi bukan? Kau selalu saja seperti itu, apakah usia dewasa tidak membuatmu berubah?" jawab Zahira masih sangat kesal.
"Aku tidak bisa berubah Zahira, semuanya masih sama. Aku akan bersedia berkelahi habis-habisan untuk membela dan melindungimu." jawab Radit penuh perasaan, menghentikan dorongan tangan kecil Zahira.
"Dia tidak sejahat itu Radit!" Zahira tidak menyukai jawaban Radit.
"Dia memang tidak sejahat itu, tapi tidak seperti itu cara mencintaimu. Anggara saja tidak melarang mu datang dan bersama Papa dan Mama. Lalu mengapa Reza Mahendra tidak menyukai kau ada disini? Dia belum menjadi siapa-siapamu."
"Kau salah paham, mungkin maksudnya tidak seperti itu." Zahira mencoba menjelaskan apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
"Maksudnya dia ingin memilikimu apapun caranya, tak peduli apa saja termasuk kami semua. Dan kalau boleh jujur, aku tidak suka kau dekat dengannya."
"Radit!"
"Zahira, aku memang tidak menyukai suamimu, karena dia sudah mengalahkan aku dalam mencintaimu, tapi aku tidak membencinya. Alasannya adalah karena dia hanya mencintaimu, kau satu-satunya dalam hatinya. Itu membuatku mengalah, mengerti jika kau akan baik-baik saja walaupun sangat tidak mudah untuk mengikhlaskan mu." Radit semakin dalam menatapnya.
"Tentu tak ada laki-laki yang menandingi suamiku." jawab Zahira mulai merasa pedih di matanya.
"Reza sama sekali tak sebanding dengan suamimu, akan lebih baik kau hidup sendiri daripada menggantikannya dengan pria seperti Reza Mahendra."
Zahira menunduk sedih, tentu jika sudah membahas Anggara dia akan merasa kembali berduka.
"Satu lagi, tidak baik bagi seorang janda membiarkan laki-laki asing keluar masuk ke dalam rumahmu. Sekalipun kau tak melakukan apa-apa, tapi kesannya sudah merusak keistimewaan mu, terlebih lagi laki-laki itu bukan orang yang baik."
Ucapan yang membuat Zahira menatapnya, sedikit tak percaya Radit akan berbicara seperti itu, namun ada benarnya, Zahira baru menyadari itu.
Radit berlalu meninggalkan Zahira di kamarnya, merasa sudah cukup berbicara dan mengeluarkan semua yang mengganjal. Walau entah apakah malam ini ia dapat tidur nyenyak memikirkan banyak hal yang akan terjadi esok hari.
David benar-benar menahan Zahira di sana dengan alasan masih ingin bersama anak-anak. Pagi itu keseruan di rumah dua lantai itu kembali terjadi, suara sorak hore dari kedua putra Anggara membuat David dan Ayu ikut tertawa.
Tak ketinggalan Radit ikut bermain berebut bola dengan mereka, semua orang berkumpul dengan tawa dan senyum lebar menghias di wajah masing-masing.
Zahira membiarkan momen tersebut berlangsung, asalkan anak-anak bahagia dia juga akan bahagia. Tentu sekarang dia sedang bahagia, merasakan lengkapnya keluarga walaupun tanpa Anggara. Ya, Anggara masih ada, di hati Zahira.
Reza Mahendra
Nama tertera di layar ponsel, sedikit tersenyum ia menerima panggilan tersebut.
"Ha_"
Radit merebut ponsel Zahira dan menyimpannya di saku celana.
"Radit!" Zahira menatap tak percaya padanya.
"Sayang ajak ibumu bermain." Radit meminta Satria dan Sadewa mengajak Zahira bermain.
"Tidak,, tidak. Berikan ponselku." Zahira mengejar Radit, meminta ponselnya.
"Tidak, kau harus bermain." Radit tak memberikannya, terus bergerak lincah kejar-kejaran dengan anak-anak.
"Radit." sedikit memohon.
"Kalau bisa kau ambil sendiri." Radit tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak berani." Zahira melihat ponselnya ada di saku celana bagian belakang.
"Tentu saja." Radit menertawainya.
Zahira benar-benar kesal, dia butuh bicara dengan Reza atas keributan semalam.
Radit memancingnya masuk ke dalam rumah, dengan gaya santai dan tanpa melirik berjalan menuju ruang tamu.
Zahira mengejarnya dan mencoba meraih ponsel tapi kalah cepat. Radit sudah meraihnya lebih dulu dan menggenggamnya.
"Radit, berikan padaku." pinta Zahira lagi.
Kembali Zahira mencoba meraihnya, sedikit ragu karena tatapan pria itu menjadi tajam dan penuh arti.
"Radit!" kesal Zahira, Radit memegang ponselnya dan mengangkat ke atas.
Zahira naik di sofa dan merebutnya, wajah cantiknya menekuk dengan bibir mengerucut.
Dan
"Ah."
Radit menangkap tubuh yang hampir terjatuh, pinggang rampingnya pas sekali di lengan kokoh Raditya.
Sejenak saling bertatap mata seolah waktu sedang berhenti.
"Kalau ingin di peluk bilang saja. Aku pasti bersedia." ucap Radit melirik wajah yang tak sengaja menempel di bahunya.
Zahira turun dari sofa, dia mendapatkan ponselnya, tersenyum menang dan berlalu pergi.
Radit menatapnya tak percaya. "Anggara sudah merubah dirinya?" gumam Radit kembali mengejar.
"Halo Mas, Assalamualaikum." Zahira yang menghubungi Reza kali ini, sengaja menjauh dari Radit.
"Wa'alaikum salam Sayang." jawabnya masih seperti biasa. "Apakah kita bisa bertemu?" ucap Reza lagi.
"Bertemu?" Zahira terdengar sedang berpikir. "Sepertinya tidak bisa, bagaimana besok saja, bukankah kita ada pertemuan besok di kantor Mama. Hem, maksudku Radit." Zahira mengingatkan.
"Apakah tidak bisa di kantormu saja, atau kantorku." jawabnya terdengar tidak suka.
"Bulan depan di kantormu." ucap Zahira tersenyum, dia memang memiliki kuasa untuk menentukan tempat mereka rapat.
"Baiklah Ibu Zahira Putri yang cantik. Asal pergi bersamamu aku akan ikut kemana saja." Reza mulai merayunya.
__ADS_1
"Aku juga ingin bicara serius padamu. Besok setelah rapat kita harus bertemu." ucap Zahira terdengar sedikit menakutkan di telinga Reza Mahendra.