Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
109. Apa tuhan sedang membalas-ku?


__ADS_3

Sepanjang jalan Radit hanya diam menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu terluka mendengar kenyataan bahwa Zahira sedang mengandung anak Anggara. Hampir satu tahun ia menikahi Zahira, bahkan melakukannya di setiap kali bersama, sepanjang hari, pagi, siang, sore dan malam hari, tapi tidak mengandung anaknya. Membayangkan betapa bahagianya pria tua itu memiliki Zahira dan calon anaknya, betapa beruntungnya dia dengan segala kelebihan di dalam diri Zahira, Zahira yang cantik, Zahira yang nyaris sempurna, Zahira yang manja kini akan selalu bersama Anggara.


"Arrrrrrrgggghhhhhhh!!!"


Radit berteriak di dalam mobil dengan meremas rambut lurusnya.


"Radit." panggil Ayu langsung memeluk putranya.


Ini yang Ayu takutkan, apalagi dengan riwayat depresi yang pernah di alami Radit. Ia benar-benar takut jika putra semata wayangnya itu kembali mengalami goncangan jiwa dan harus di rawat, Ayu tidak sanggup membayangkannya.


Hingga tak berapa lama mobil mereka berhenti di rumah kediaman David.


"Sayang, ayo kita masuk, kau tidak bisa seperti ini." Ayu membujuk Radit dengan lembut.


"Turunlah, kita bicara di dalam." David meraih bahu Radit dan segera mengajaknya masuk.


"Mengapa harus seperti ini Papa?" ucap Radit setelah duduk di sofa dengan menunduk.


"Tuhan punya rencana yang indah untuk kalian setelah ini, dan ini adalah awal skenarionya. Kau harus bersabar!" David mendekati Raditya.


"Tapi ini sangat menyakitkan, rasanya aku ingin mati." ucapnya bergetar.


"Mungkin saat Zahira tahu Merry hamil anakmu dia juga seperti ini, dan sehancur ini." David menepuk pundak Radit.


"Apa Tuhan sedang membalasku?" tanya Radit pelan, wajah tampan itu terlihat putus asa.


"Papa tidak tahu Nak, mungkin Allah sedang menunjukan pada Papa, bagaimana menderitanya Zahira saat itu, tanpa ayah dan ibu, dia sendiri dan menangis, menikmati kesedihannya dan itu tanpa Papa dan Mama bersamanya." David ikut bersedih, juga menyesali saat itu tidak bersama Zahira.

__ADS_1


"Papa benar, dan itu karena aku." Radit kembali menitikkan air mata.


"Dan juga Mama." Ayu ikut menyahut.


"Apa masih ada jalan untukku kembali bersamanya?" tanya Radit lagi, berharap mendengar sebuah harapan walaupun itu tak merubah kenyataan.


"Dulu saat Zahira masih dalam kandungan, ayahnya sempat menikah lagi. Kau tahu siapa wanita itu?"


Radit menatap wajah David dengan penasaran, ia benar-benar tidak tahu hal itu.


"Dia adalah Bibi-mu, Bella." jelas David membuat Radit menganga tak percaya.


"Tante Bella?" tanya Radit tak percaya.


"Ya, Bella sangat mencintai ayah Zahira, hingga saat itu ibunya masuk penjara bersama dengan ibumu. Aku dan Aldo sibuk mencari seorang kakek karena dialah satu-satunya orang yang menyaksikan bahwa Reva dan ibumu sedang berhenti saat sebelum kakekmu menabrak mobil ibumu. Tapi malangnya kami tak juga menemukan hingga semakin lama Aldo sudah tidak sabar melihat istrinya menderita di dalam tahanan. Dia memutuskan untuk menikahi Bibi-mu asalkan istrinya di bebaskan. Pernikahan itu terjadi namun tak disangka nenekmu ingkar janji dan yang membebaskan ibumu dan Reva adalah Anggara."


"Dia?" tanya Radit semakin heran, ia tak habis pikir pria itu berperan banyak dalam kehidupan orang tua Zahira juga orang tuanya.


"Harusnya aku juga seperti itu." ucap Radit seakan menemukan cara untuk menyelesaikan masalahnya, tapi lagi-lagi itu sudah terlambat.


David kembali tersenyum. "Jika kau jujur pada Papa sejak awal Nak, tapi ini sudah terjadi. Papa harap kau bisa ikhlas dengan ini semua, karena semua yang terjadi tidak luput dari kehendak Allah semata. Kau memiliki anak dari wanita yang tidak kau cintai, juga Zahira kini akan memiliki anak dari Anggara. Mungkin sudah takdirnya anak-anak kalian lahir di waktu dan sesuai janjinya masing-masing. Kita tidak bisa melawan kehendak-Nya, tapi kita bisa berdoa dan berusaha. Jika masih ada jodoh, suatu saat kau akan kembali bertemu dengannya di waktu dan keadaan yang lebih baik." nasehat David padanya.


"Aku tidak yakin Anggara akan melepaskan Zahira, dia begitu berharga untuk pria tua itu." ucap Radit menatap pintu keluar.


"Tentu saja Nak, perbaikilah semua kekacauan ini, awali dari dirimu. Kau tidak bisa terus-menerus bersedih dan menghancurkan diri sendiri, siapkan dirimu sebagai laki-laki yang baik, karena laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Jika kau merasa Zahira itu nyaris sempurna, maka kau juga harus mendekati sempurnanya itu. jadilah pria yang kuat, tangguh dan bertanggung jawab seperti Anggara."


"Papa!" Radit tidak suka ayahnya memuji pria tua itu.

__ADS_1


"Dengarkan Papa! Dulu dia sangat mencintai Reva, sangat mengaguminya. Dan hanya sebatas mengagumi, menyaksikan wanita yang di cintainya hidup bersama laki-laki lain, bahkan dia membantu Aldo dalam urusan bisnisnya. Apa itu tidak sakit?" tanya David pada Radit.


Radit terdiam, dia masih tertarik mendengarkan.


"Dia menahan cintanya, dia tidak pernah mengganggu hanya melihat dan memastikan wanita tercintanya bahagia. Itu berlangsung bertahun-tahun, bahkan saat Zahira lahir ke dunia, Anggara adalah orang yang paling bahagia, dia membelikan sebuah Vila untuk Zahira, dia seringkali datang untuk menggendong dan bermain dengannya. Dia begitu ikhlas berteman dengan laki-laki yang menjadi saingannya, yang seharusnya dengan mudah ia singkirkan."


"Aku rasa aku tidak bisa seperti itu." Radit membuang pandangannya, raut wajah tampan itu masih terlihat kusut juga emosi.


"Itu sebabnya kau kehilangan Zahira, dan dalam posisi ini, kau tidak akan hidup tenang jika masih berpikiran untuk merebut Zahira dengan paksa."


"Aku masih sangat mencintainya Papa."


"Papa tahu." David menepuk dan mengusap pundak Radit. "Kau laki-laki, jadilah laki-laki hebat, yang dapat di jadikan tempat berlindung oleh wanita yang kau cintai, dan Papa akan mendukungmu." ucap David yakin.


"Mama juga akan mendukungmu." Ayu ikut merangkul bahu putranya, memberikan senyum keyakinan yang sama seperti David.


"Bantu aku menjadi Direktur di perusahaan Mama." pintanya pada Ayu.


"Tentu, itu memang milikmu." Ayu menatap bola mata sayu Radit, seketika wajah bersedih itu tersenyum dengan sedikit harapan.


*


"Dimana istriku?" Anggara berjalan terburu-buru masuk di ruangan besar rumahnya.


"Ada di atas Tuan." jawab Kay yang sedang berdiri di ruang tamu dengan wajah datarnya.


Anggara berlalu menaiki tangga, segera menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang!" panggilnya membuka pintu dengan sedikit kasar.


Setengah terkejut karena pintunya di buka dengan kasar, juga langsung di suguhi pemandangan yang membuatnya takut. "Kenapa dengan wajahmu!" Zahira berteriak.


__ADS_2