Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
19. Penasaran


__ADS_3

"Malam ini, dan malam seterusnya kita akan selalu bersama." ucap Radit memeluknya.


Zahira mencoba memejamkan mata sambil menikmati hangat deru nafas yang menerpa wajah ayunya. Nafas yang hangat itu begitu menyejukkan hati, berharap tidur nyenyak dan bermimpi indah.


Radit memandangi wajah yang sudah terlelap itu, begitu indah membuatnya tak mampu memejamkan mata. Bibir itu tertarik melengkung sempurna memandangi gadis yang sedang tertidur lelap, hingga akhirnya ia pun ikut terlelap bersama sampai pagi.


"Selamat pagi Zahira sayang." ucapnya saat wajah cantik itu mengerjap indah mulai membuka mata.


"Radit, kau sudah bangun?" gadis itu terkejut melihat wajah tampan itu sedang memandanginya.


"Tentu saja, aku tak bisa tidur nyenyak memikirkan ada gadis yang begitu cantik di sampingku." ucapnya tersenyum manis.


Zahira membalas senyumnya, tangan kecil itu menyelip di pinggang memeluk tubuh suaminya yang hangat. Begitu juga Radit segera meraih tubuh kecil dan menggemaskan itu, memeluknya erat dengan rasa syukur dan kasih sayang yang begitu meluap-luap tak terkira.


"Aku mencintaimu Zahira." Radit berbisik mesra.


"Aku juga sangat mencintaimu, hingga aku mau menjadi istrimu." jawabnya pelan dan lembut.


"Kau memang istriku." jawabnya semakin memeluk erat.


"Radit, ini hari Jum'at bukan? Artinya besok akhir pekan." Zahira tampak berpikir.


"Memang iya, ada apa sayang?" Radit berbicara dengan jarak wajah yang dekat.


"Malam nanti kita jalan-jalan ke luar saja, papa dan mama tidak akan melarang lagi karena kita sudah menikah." ucapnya dengan binar bahagia.


"Tentu saja Sayang, kita akan bebas melakukan apapun berdua. Tidak ada larangan dan batasan lagi ketika bersamamu. Aku bebas berdekatan denganmu, memandangi dan menyentuhmu." Radit mendekatkan wajahnya mengulang kecupan mesra di pipi Zahira.


"Aku milikmu." jawabnya setengah berbisik di telinga Radit, membuat pria itu tergelitik jiwanya.


"Jangan menggodaku sekarang ini Zahira sayang, aku takut kau tidak sanggup mengimbangi ku." ucap Radit tak melepas pelukannya.

__ADS_1


"Benarkah? Ah, aku tidak percaya." Gadis itu sengaja menggodanya.


"Tidak percaya? Tunggu saja nanti saat semua orang sudah pulang dan tak ada pengganggu, kau akan habis tak bisa berkutik." Radit mengajaknya bercanda, menggelitik perutnya dan membuatnya tertawa.


"Jangan Radit, ini menyiksaku." Zahira tertawa dengan mencoba menghindari serangan tangan Radit yang terus menggelitiknya.


Hingga ia merasa cukup, pria itu berganti memeluk dan kembali mengecup bibir itu seperti semalam, entah mengapa rasanya begitu manis, seperti bunga yang hendak mekar, sari madunya terasa begitu manis harum dan nikmat, dan yang paling penting halal untuk selalu di coba.


Mata itu terus saling menatap, saling menikmati keindahan dan kekaguman dengan sentuhan hangat yang terus saja membanjiri jiwa yang yang begitu meminta. "Kau indah sekali Zahira sayang." Pria itu selalu saja merayu. Kali ini tangan kokoh itu mulai berani, sedikit menyelipkan jarinya di dalam belahan gaun tidur itu. Meninggalkan kesan nakal yang semakin menantang pemiliknya, tapi lagi-lagi Radit menutup kembali kancing baju itu sebelum melahap isinya.


"Kenapa?" ucap gadis itu terdengar parau, wajahnya terlihat kecewa.


"Nanti sayang, jika sudah ku mulai aku tak mau di ganggu." jawabnya kembali mengecup bibir itu sekilas dan beranjak ke kamar mandi.


Zahira menatap suaminya dengan tatapan heran, tapi kemudian dia kembali memejamkan mata sejenak lalu ikut beranjak mandi, suara Adzan sudah memanggil.


Akhir dari sholat dua rakaat dengan imam yang tampan tentunya membuat hati Zahira begitu bahagia, tangan kecil itu terulur menyambut dan mencium tangan kokoh suaminya, tangan hangat yang akan menemani dan melindungi dalam sisa hidup ini.


"Iya." Zahira begitu menurut dan tampak sangat mencintai Radit, membuat pria itu semakin bahagia.


"Ayo." Radit memeluknya dan merangkulnya berjalan menuju lantai bawah.


Seperti dugaannya di lantai bawah tampak beberapa orang sudah mulai berkemas menata beberapa barang untuk di kembalikan ke posisi asalnya. Rey dan Alisa juga sudah tampak keluar dari kamarnya walau entah kapan mereka masih ke dalam rumah itu.


"Sayang, kami harus kembali ke London pagi ini. Karena nenekmu sudah tua dan butuh pengawasan mama, Ayra pasti kerepotan di tinggal sendirian dan lagi pula dia harus ujian." Alisa terlihat sudah berkemas, lalu menghampiri Zahira dan memeluknya.


"Iya sayang, aku juga harus bekerja. Maafkan kami yang tak bisa lama berkunjung lebih lama." Rey merangkul keponakannya itu.


"Baiklah, lain kali aku akan mengunjungi kalian agar bisa menghabiskan waktu lebih lama." Zahira hanya bisa pasrah karena memang mereka harus bekerja dan sibuk.


"Tentu saja sayang, kami akan menunggu kedatangan kalian, jadilah istri yang baik seperti ibumu. Cintai dia sepenuh hati, dia akan memberikan segalanya setelah itu." Alisa berpesan pada keponakan cantiknya.

__ADS_1


"Iya Mama." jawabnya lembut, dan memeluk Alisa dengan erat.


"Jaga istrimu dengan baik." Rey memeluk menantu tampannya yang pendiam itu.


"Aku akan selalu menjaganya, paman tak perlu khawatir." jawab Raditya begitu yakin.


Rey menatap keduanya bergantian, lalu kemudian berlalu dengan di antar sopir Ayu yang sengaja ditinggalkan di rumah Zahira.


"Mereka sudah pulang." Zahira tampak bersedih menatap kepergian Rey dan Alisa.


"Artinya kita akan tinggal berdua." Radit menggoda istrinya, tangan lebar itu melingkar di pinggang Zahira yang langsing.


"Berdua atau tidak sama saja." Zahira tak ingin terkena godaan suaminya yang selalu membuat ia penasaran.


"Tentu saja berbeda, jika berdua akan lebih berkonsentrasi." Radit berbisik nakal di telinga gadis itu.


"Entahlah." jawabnya dengan wajah kesal tak mau peduli. Radit tersenyum gemas melihat raut wajah itu, dia tau gadis itu kesal dan penasaran dengan ulahnya yang setengah-setengah.


"Sabar sayang, aku akan membuatmu tak bisa berjalan." Radit kembali berbisik lalu meninggalkan gadis itu pergi ke halaman depan, di sana banyak orang yang sedang mengemas hiasan yang sudah di lepas pagi itu.


"Dia sengaja atau memang tidak mau?" Zahira mengerucutkan bibirnya, berjalan menuju ruang makan.


"Sarapan non?" Mbok Tuti menyiapkan susu dan roti, juga makanan lainnya.


Zahira meraih susu dan langsung meneguknya hingga habis, di susul dengan beberapa potong roti. Membuat wanita yang sudah tua itu tersenyum senang, tingkah gadis itu perpaduan antara Aldo dan Reva yang begitu di hafal mbok Tuti. Reva yang selalu menghabiskan minumannya tanpa sisa, Aldo yang selalu makan dengan fokus tanpa bicara bahkan tidak menjawab tawaran mbok Tuti terlebih dahulu.


"Mengapa tak mengajakku sayang?" Radit ikut duduk di sampingnya. Zahira tak menjawab atau menoleh membuat pria itu mengerutkan keningnya dengan tatapan gemas.


"Masa malam pertama berantem Non?" ucap Mbok Tuti sambil menyiapkan susu untuk Radit.


"Belum Mbok, masih bersiap-siap." Radit menjawab dengan tak peduli, wajah istrinya sudah memerah dan malu.

__ADS_1


__ADS_2