Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
33. Zahira kesayangan


__ADS_3

"Radit, aku ingin membeli sesuatu?" ucap Zahira bergelayut manja.


"Apa?" tanya Radit sambil mengecup pipi istrinya.


"Temani aku membeli tas baru di toko langganan mama."


"Baiklah, kita akan ke sana." Kedua orang itu berlalu setelah mengambil card yang di kembalikan pegawai salon. Tanpa menoleh siapapun pandangan Radit hanya tertuju pada Zahira yang cantik, dunianya hanya Zahira saja. "Apa ada yang lain lagi?" sambung Radit.


"Tidak, itu saja."


Suara Zahira masih terdengar dari balik pintu, gadis itu duduk dengan raut wajah yang sedih, ingin sekali ia mengatakan jika Radit sudah melakukan hal itu padanya, namun ia teringat kemarin Radit begitu marah dan emosi saat mereka bicara, bahkan Radit menghina dirinya. Jika saat ini ia mengatakan hal itu, bisa jadi hanya mempermalukan diri sendiri. Dan bukan tidak mungkin Radit menghinanya habis-habisan di salon ini.


Pasrah! Sungguh tidak mungkin ia lakukan, sudah sejauh ini ia melangkah, tidak mungkin untuk mundur hanya karena melihat kemesraan Radit bersama orang lain. Hanya menunggu waktu yang tepat, dan ia sangat yakin waktu itu pasti akan tiba.


"Apa wanita yang tadi biasa datang kesini?" tanya Merry dengan pegawai salon kecantikan yang sedang sibuk merapikan kukunya.


"Pernah beberapa kali." jawabnya sopan.


"Dengan pria tadi?" Merry semakin ingin tahu.


"Iya, tapi lebih sering bersama ibunya atau mertuanya aku tidak tahu, karena wajah ibunya mirip dengan laki-laki yang tadi." jelasnya lagi.


Merry mengernyitkan keningnya, ia tampak berpikir bahwa yang di katakan pegawai salon itu adalah Ayu, ibunya Raditya. Merry semakin penasaran dengan sosok Zahira, sebegitu istimewanya gadis itu bagi keluarga Radit. "Siapa sebenarnya wanita itu?" gumamnya.


"Apa nona?" tanya pelayanan itu merasa Merry berbicara padanya.


"Ah tidak, kau lanjutkan saja." ucap Merry sedikit tersenyum.


*


Di malam hari Zahira sedang bersiap, merias wajahnya dan memakai gaun yang tadi siang di belikan Radit. Gaun berwarna ungu dan hijab berwarna sama membuat Zahira begitu elegan, cantik sekali, malam ini mereka berdua memakai baju yang senada. Cantik dan tampan terlihat sangat pas tanpa ada kurang sedikitpun, benar-benar pasangan yang sempurna.


Zahira beranjak, ia berbalik untuk membantu Radit memakai jasnya. Begitu cantiknya wajah di hadapan Radit membuat pria itu memeluknya, sedikit mencium pipinya begitu mesra.

__ADS_1


"Rasanya aku tidak ingin berangkat ke Hotel om Anggara." Bisik Radit terus memeluknya.


"Setelah pulang kita akan menghabiskan malam Minggu ini berdua sayang." ucap Zahira, tangan lentik itu sudah selesai dengan jas Radit.


"Tapi rasanya itu akan sangat lama." ucap Radit mencubit hidung mancung Zahira.


"Tidak, hanya satu jam lebih." Zahira tersenyum menggoda suaminya.


"Bagiku itu lebih dari satu tahun." ucapnya pasrah, mengiringi Zahira turun ke bawah menuju mobil mereka dan berangkat menuju hotel Anggara.


"Sayang, nanti di hotel jangan jauh-jauh dariku. Aku takut akan banyak laki-laki yang melirik dan mengajakmu berkenalan." Radit menggenggam tangan kecil Zahira.


"Tidak Radit, aku ini sudah menjadi istrimu." Zahira tersenyum merayu, kepalanya menyandar di bahu Radit yang sedang fokus menyetir.


"Aku tidak rela orang lain memperhatikan wajah cantik istriku." ucapnya lagi.


Zahira tersenyum lebar, bahagianya di cintai, di sayangi dan di cemburui oleh Radit yang tampan. Radit selalu memperlakukannya dengan begitu istimewa, selalu nomor satu dan tidak pernah marah apalagi membentak dan sebagainya. Selama enam bulan ia menjadi istri Radit, kebahagian itu begitu terasa sempurna. Hanya satu hal lagi yang belum terwujud dari keinginan mereka, memiliki anak seperti yang selalu Radit minta. Tapi mungkin Allah belum mempercayakan mereka, sehingga sampai saat ini Zahira masih belum mengandung.


Di dalam sudah lumayan ramai, malam Minggu seperti ini tentu akan banyak orang menghadiri perayaan atau pesta. Lain hal jika itu hari kerja, orang-orang akan sibuk dengan aktivitas masing-masing, tak jarang sebagian orang malah mengabaikan undangan perayaan.


"Mama." Zahira memanggil Ayu yang berada tak jauh darinya, tangan kecil Zahira terlepas dari lengan Radit dan segera mendekati Ayu.


"Sayang kau cantik sekali." Ayu memeluk dan mencium pipi Zahira, begitu seorang Ayu selalu menyayanginya.


"Aku merindukan mama." ucap Zahira lagi, masih tak mau lepas dari pelukan Ayu.


"Mama juga sayang, terkadang mama ingin berkunjung tapi takut mengganggu." ucap Ayu setengah berbisik di akhir kalimat.


"Mama!" Zahira merengek malu-malu semakin membuat Ayu gemas dan tertawa.


"Hay Tante!" seseorang menyapa Ayu, mengganggu aktivitas saling melepas rindu dengan Zahira.


"Oh, hay Merry! Kau juga datang?" Ayu masih merangkul Zahira.

__ADS_1


"Iya, bersama papa." ucapnya tersenyum ramah, mata gadis itu mencuri pandang pada Zahira yang sedang menyandar dan bergelayut manja di bahu Ayu.


"Oh begitu. Ini kenalkan putri kesayangan Tante, Zahira." Ayu menoleh Zahira.


"Dia teman Radit kan mama?" tanya Zahira tersenyum ramah.


"Iya sayang, ayahnya rekan bisnis Radit juga. Ah rupanya kalian sudah saling mengenal." Ayu hanya tersenyum dan berusaha bersikap baik, sudah tentu Ayu merasa ada yang aneh dengan tatapan gadis itu.


"Aku belum tahu namamu." Zahira mengulurkan tangannya.


"Merry." jawabnya, menyambut tangan kecil berjari lentik itu, kulit yang halus putih bersih dan lembut, Merry selalu memperhatikan Zahira.


"Zahira." Suara khas itu terdengar mendekat, Zahira segera menoleh sumber suara itu.


"Om Anggara, selamat atas peresmian Hotel baru ini. Sepertinya hotel ini sangat nyaman." Zahira memuji Hotel besar itu, yang sudah pasti sangat nyaman, Hotel besar berbintang milik orang yang sangat kaya.


"Terima kasih, ini ku hadiahkan satu buah kamar VIP untukmu. Jadi malam ini kau boleh menginap tidak usah pulang." ucap Anggara serius, tangannya memberikan card.


"Benarkah?" Zahira terlihat senang, wajah cantik itu tersenyum dengan memamerkan lesung pipi kebanggaannya.


Anggara hanya ikut tersenyum, tak menjawab apapun. Melihat gadis itu senang tentu ia juga ikut tersenyum, walau terkadang otaknya menjadi traveling ke laut dan ke angkasa. Hanya berusaha menepis pikiran untuk menyelam dan terbang bersamanya, karena Anggara tahu dia istri orang. Lagi-lagi Ia kesulitan membuang rasa cinta yang salah.


"Kau baik sekali." Ayu ikut menimpali.


"Hanya hadiah kecil." Anggara berlalu dengan langkah elegannya.


Merry yang tak ikut bicara semakin bingung dengan kondisi yang ia berusaha selidiki. Zahira tampak mengenal semua pengusaha berkelas, melampaui dirinya yang merupakan anak pengusaha. Tapi ia tidak melihat Zahira bersama orangtuanya, malah sibuk bermanja dengan Ayu.


"Sayang, apa yang dia berikan padamu?" Radit mendekat, walau awalnya ragu karena ada Merry juga di sana, Radit tahu Merry sangat penasaran dengan Zahira dan mungkin saja dia sedang mendekati istrinya.


"Kamar VIP, kita akan menginap disini." ucapnya senang sekali.


"Baiklah, sesuai keinginanmu." Radit tersenyum senang membiarkan Zahira menyelipkan tangan kecilnya di bahu Radit, memeluk dan memperlihatkan kemanjaannya. Mata sipit itu melirik sekilas wajah gadis yang berusaha membuang muka karena Radit begitu menyayangi dan memperhatikan Zahira saja. Tentu ia tidak peduli!

__ADS_1


__ADS_2