
"Gadis?" tanya Zahira sedikit terkejut.
"Ya."
"Baguslah! Artinya dia akan menjauh dariku. Bagiku tak ada yang lebih penting dari anak-anak." ucapnya menghembuskan nafas panjang.
Ricky hanya menunggu ekspresi wajah Zahira, namun ternyata Zahira masih terlalu mencintai Anggara. Bisa di lihat dari wajah sendu yang sesekali menatap langit yang jauh, kesedihan jelas terlihat di sana.
"Apa Amelia sudah datang ke sini?" tanya Ricky lagi.
"Sudah Om, semuanya baik-baik saja. Aku tidka boleh stres, lelah dan banyak pikiran." jelasnya sedikit melamun.
"Itu sebabnya aku masih belum mengizinkanmu untuk banyak bekerja, datang kekantor hanya sebagai hiburan. Bertemu orang-orang bisa membuat moodmu membaik, juga mengurangi kerinduanmu pada Anggara." Ricky tertawa, ia tahu Zahira selalu merasakan itu.
"Kerinduanku tak akan pernah hilang. Dia di sampingku saja aku selalu merindukannya, apalagi saat ini, dia ada di tempat yang jauh sekali, aku tak dapat melihatnya. Hanya merasakan bahwa dia selalu menyayangiku, mencintaiku bahkan memberikan nyawanya untuku."
Sungguh air matanya tak bisa diajak bicara, sedikit saja bibirnya berkata rindu, air mata sudah jatuh terlebih dahulu.
"Aku tak menyangka kau akan membalas cintanya sebesar itu." Ricky menatap wajah Zahira yang sedang basah karena air mata.
"Bahkan melebihi apapun." jawab Zahira lagi, dia selalu menunduk jika mengingat Anggara.
"Aku tahu. Dan tetaplah bersabar, semua pasti terungkap. Jaga kandunganmu dengan baik, soal anak-anak kau tak perlu khawatir, ada Jia, Heiko juga aku. Aku selalu mengirim anak buahku untuk mengawasi anak-anakmu dari jauh, sehingga jika ada yang mengincar mereka akan segera tahu."
"Terimakasih, aku tidak tahu apa jadinya aku jika tanpamu, dan orang-orang pilihan suamiku. Harusnya aku sangat beruntung di posisi ini, walaupun bagiku ini terlalu berat."
"Aku akan melakukan semua yang terbaik, semampuku. Aku hanya berharap bisa menemukan orang yang benar-benar bisa menjagamu saat aku sudah tua dan tak bisa melakukan apa-apa." Ricky membuat Zahira sadar jika laki-laki teman juga orang kepercayaan suaminya tidak lagi muda. Usianya sudah lima puluh tahun.
"Aku akan mempertahankan semua peninggalan suamiku, sampai anak-anak bisa menggantikannya." jawab Zahira, meskipun ia mulai khawatir.
"Anak-anak masih lima tahunan, dan aku lima puluh tahun. Tapi aku hanya bisa berdoa, semoga Allah memberikan orang terbaik untuk menjagamu." ucap Ricky penuh harap.
"Bagaimana dengan anakmu?" tanya Zahira, ia tahu jika Ricky memiliki anak laki dan perempuan yang sudah berumur Dua puluh tahunan.
__ADS_1
"Anakku lebih memilih menjadi Dokter. Dan yang perempuan masih sekolah menengah atas." Ricky menarik nafas, ia sendiri kesulitan meyakinkan anak laki-lakinya.
"Bagaimana kalau Jia saja." usul Zahira lagi.
"Bisa. Tapi dia akan kesulitan membagi waktu jika saat ini saja dia fokus menjaga anak-anak." Ricky tak yakin.
"Semoga semua ini cepat berlalu. Karena harta yang paling ku jaga saat ini hanya mereka berdua Om, pewaris suamiku." Zahira memandang foto Sadewa juga Satria sedang memeluk Anggara dengan tertawa lebar.
"Ya." Ricky juga menatap foto mereka.
*
Langit cerah di sore itu, Radit baru saja mengantar Aisyah pulang ke rumahnya. Radit langsung pulang setelah Aisyah masuk di halaman rumahnya.
Gadis muda itu menatap kepergian mobil Radit hingga menghilang di balik tikungan. Dia sedang bahagia bisa berjalan-jalan dengan Radit, meskipun hanya berkeliling, makan dan berfoto saja.
"Hei, Aisyah."
Seseorang memanggil namanya.
"Bisa bicara sebentar." wanita itu meminta Aisyah membuka pintu pagar rumah.
"Sebentar." jawabnya ramah, dia membuka pintu pagar.
"Maaf mengganggu, tadi aku sedang mengantar pegawai butik dan aku melihatmu." dia melangkah masuk tanpa dipersilahkan.
"Silahkan duduk." Aisyah mempersilahkan Merry duduk di teras rumahnya.
"Kalian baru pulang?" tanya Merry langsung pada intinya.
"Iya. Baru saja Radit pulang." jawabnya jujur.
"Oh." jawab Merry mulai memasang wajah tak suka.
__ADS_1
"Kalian saling mengenal?" tanya Aisyah ingin tahu.
"Tentu saja. Radit dan aku pernah menikah." jawab Merry, sukses membuat Aisyah terkejut.
"Menikah?" tanya Aisyah membulatkan matanya.
"Ya! Kami berpisah karena masalah kecil. Tentu dia mendekatimu hanya karena ingin membuatku cemburu. Dan kau tahu, dia juga sengaja membeli banyak ruko di sekitarku hanya karena ingin mengajak aku kembali." jelasnya lagi.
Wajah cantik Aisyah berubah sendu, ia tak yakin dengan ucapan Merry. Tapi ia juga percaya jika Radit masih mendekati Merry. Lagipula terlalu kebetulan jika toko mereka bergandengan.
"Sebaiknya kau jauhi Radit! Karena yang akan kau dapat hanyalah sakit hati." Merry mengingatkan.
Aisyah menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa, meskipun Radit pernah menikah tentu Aisyah tak apa-apa. Tapi dengan hadirnya Merry, ia jadi berpikir lagi.
"Baiklah, sepertinya kau butuh istirahat. Aku permisi." Mery tersenyum dengan membawa tas di bahunya. Ia melenggang pergi dengan senyum palsu, hatinya sedang merasa menang gadis polos itu sepertinya terpengaruh.
Tak jauh dari sana, laki-laki muda dan tampan itu kini sedang duduk di sebuah kedai kopi, hanya menikmati sore hari sendiri. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat ia mengurungkan meminum kopi.
"Assalamualaikum Ay?" Radit menempelkan ponsel ke telinganya.
"Wa'alaikum salam." jawaban Aisyah di seberang sana.
"Ada apa?" tanya Radit lagi.
"Mantan istrimu datang ke rumah tak lama setelah kau pergi." jawab Aisyah terdengar pelan.
"Oh, baiklah. Besok kita bicara." Radit langsung mematikan panggilan ponselnya, tak memberi waktu untuk Aisyah memberi tahu apa yang sudah di katakan mantan istrinya.
Radit segera membayar kopinya, ia berbalik menuju mobil dan segera melaju pulang.
Malam yang beranjak dengan rembulan sebagai primadona, waktu istirahat untuk semua umat telah tiba. Kata orang, roda kehidupan terus berputar, jika sekarang di atas maka esok bisa di bawah. Jika sekarang sedang berduka, mungkin esok akan bahagia. Atau sebaliknya, kemarin sedang bahagia dan semua baik-baik saja, kini malah sedang kacau, kehilangan, sedih tak berujung, rindu tak bertuan.
"Kau ada di mana Mas?" lirihnya menatap langit yang luas. Kerinduan yang membuat menggigil jiwanya hingga berkhayal betapa hangatnya pelukan seorang Anggara. Walau akhirnya terlelap dengan hati yang sedikit terhibur setelah banyak mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Di rumah yang lain, laki-laki muda juga sedang duduk termenung di depan kamarnya. Menatap langit yang sama, disinari rembulan yang sama, tapi tak tau titik bertemunya.
"Zahira, aku tahu saat ini kau sedang memikirkan dia, dan aku memikirkan dirimu. Ku harap masih ada jodoh setelah semua ini berlalu. Aku akan memperjuangkan dirimu walau seberat apapun itu. Tapi, mengapa sesekali aku ingin menyerah jika melihat betapa kau mencintainya."