
"Nona ingin makan apa?"
"Aku tidak mau makan." jawab Merry terus berurai air mata.
"Nona, sekarang ini tidak ada lagi yang akan mengurus dirimu. Jika Nona masih ingin bertahan, maka harus makan. Jika Nona ingin sembuh, tetap harus makan dan meminum obatnya." Sopir muda itu lelah membujuk.
"Dimana kampung halamanmu?" tanya Merry kemudian.
"Di pelosok." jawabnya singkat.
"Bawa aku ke sana, aku tidak mau di penjara seumur hidup." tangis Merry memohon pada laki-laki yang masih setia mengurusnya.
"Itu tidak menyelesaikan masalah Nona, kau akan menjadi buronan seumur hidup, tidak akan menemukan ketenangan selamanya." jawab laki-laki bernama Ando itu.
"Aku akan sembunyi selamanya, asal tidak di tahan. Aku pernah di sana dan rasanya sangat menyiksaku, aku tidak mau masuk ke sana lagi." tangis Merry, memohon dan memelas.
"Kalau kau tidak mau lalu mengapa kau mengulanginya lagi. Harusnya Nona bertobat ketika sudah merasa bahwa hukuman itu tidak enak."
"Kau tidak mengerti!" kesal Merry.
"Aku mengerti Nona, kau menghabisi seorang pengusaha kaya. Tentu istrinya tidak akan diam saja, belum lagi anak-anaknya besar dan mengetahui siapa dirimu. Pasti mereka juga akan menyiksamu lebih dari ini. Jadi tahanan adalah tempat yang aman bagimu." Ando beranjak dari duduknya.
"Ando! Aku mohon bawa aku pergi dari sini, Aku akan memberikan apapun yang kau mau asal kau bisa menolongku sekali ini saja." Merry menarik tangan Ando dan menangis di telapak tangan pria itu.
"Aku tidak berani Nona, ibuku sudah tua dan sakit-sakitan. Dia akan cepat mati jika aku turut menjadi buronan bersamamu." jelas Ando.
"Aku akan mengobatinya, menjamin hidupnya dengan banyak uang, kau tak perlu bekerja keras lagi. Hanya satu itu syaratnya, bawa aku pergi." Merry terus memohon.
Ando hanya menatapnya sedikit kasihan, tapi tak bisa mengabulkan keinginan Merry.
"Aku tidak mau menjadi penjilat yang menyelamatkan penjahat dan menghianati kebenaran demi uang."
__ADS_1
"Ando! Jangan munafik!" kesal Merry.
"Andaikan aku harus menjadi penjilat, aku akan meminta pekerjaan dan uang pada musuhmu Nona. Aku yakin mereka akan memberikannya."
"Kalau begitu aku akan melayanimu sampai puas, setiap saat kau mau. Asal kau bisa membawaku." Merry membujuknya dengan cara terakhir.
"Maaf Nona, aku punya kekasih yang tidak kalah cantik darimu. Aku laki-laki yang bisa saja mengajaknya bercinta jika aku mau." tolak Ando meninggalkan Merry sendirian.
"Ando! Ando...!" teriaknya sambil kembali meraung-raung tanpa makan dan minum.
Ando masih di luar, tidak benar-benar meninggalkannya walaupun tidak bisa terus bicara dan berdua dengannya. Hanya sedikit kasihan dan memastikan Merry tidak nekat bunuh diri.
...***...
Sore yang cerah, angin bertiup kencang di atas rumah enam lantai itu, membuat gaun panjang dan hijab sederhana Zahira terangkat seakan ikut terbang. Memejamkan mata di tengah terpaan sinar matahari berwarna jingga, suara biola terdengar menyayat hati samar terbawa angin entah berasal dari mana. Hati yang tak bisa diajak berdiskusi jika sudah berkaitan dengan rindu, kali ini menikmatinya di tempat yang tinggi, mana tahu bisa melihatnya di langit, atau di suaranya yang di bawa angin. Atau dekapan hangat yang menelusup hingga ke dalam hati, rasanya tubuh indah itu sedang lelah, ingin mencari tempat bersandar.
"Mas, kau ada dimana?" lirihnya menitikkan air mata.
Zahira berbalik perlahan, ia sungguh terkejut dengan kehadiran Radit di atas rumahnya.
"Kau bisa masuk angin jika terus di sini." Radit mendekatinya, rambut ala opa-opa itu juga diterpa angin, mengobrak-abrik bagian depan hingga berantakan.
Zahira masih tak bicara, menatap wajah tampan itu dengan entah, sekalinya sendu tapi bukan karena Radit, dia sedang memikirkan Anggara.
Radit membuka kemeja coklatnya, menyelimuti tubuh Zahira yang sejak tadi menikmati hembusan angin.
"Mengapa kau bisa ke sini?." tanya Zahira pelan. Melihat tubuh gagah Radit hanya terbungkus kaos polos berwarna putih.
"Aku tahu semuanya tentang dirimu, bahkan hatimu Zahira." Radit masih menatapnya dari dekat, memegang kemeja di bahu Zahira karena angin sangat kencang.
"Kau tidak tahu." Zahira menunduk.
__ADS_1
"Apa yang aku tidak tahu? Kau sedang merindukan suamimu?" Radit masih menatap wajah Zahira, mencari bola bening itu, sudah lama sekali tidak melihatnya dari dekat.
Zahira meraih kemeja Radit, agar tidak di pegang oleh pemiliknya. "Aku sangat rindu, apalagi saat seperti ini, aku sangat butuh dirinya." Zahira memegang perutnya sedikit, tentu Radit dapat melihat itu.
"Aku akan menjagamu, memastikan kau dan anak-anak baik-baik saja. Jangan khawatirkan apapun." Radit menenangkan Zahira.
Sulit menjelaskan, Zahira memilih diam. Kembali menatap langit yang biru, cerah sekali.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi mulai saat ini." tiba-tiba Radit berbicara serius.
Zahira menoleh, ia heran dengan ungkapan Radit. "Maksudnya?"
"Aku hanya ingin menjadi saudaramu, juga paman yang baik untuk anak-anakmu. Aku tidak akan mengusik urusan pribadimu asal kau bahagia."
Zahira masih bingung.
"Jika Reza Mahendra adalah pilihanmu, maka aku akan mendukungmu." Radit menatap langit, kembali kepahitan itu terlihat di wajah tampannya. "Ku lihat kau bisa tertawa dan bahagia jika bersama dia, jauh berbeda jika sedang bersamaku. Kau malah menangis." Radit menoleh Zahira yang juga menatap Radit dengan heran.
"Kau bicara apa?" Zahira membuang pandangannya.
"Zahira." Radit meraih bahu Zahira dan meminta berhadapan dengannya. "Maafkan aku atas semua yang sudah terjadi, aku sudah menyakiti hatimu, mengecewakanmu, bahkan nyaris membuatmu kehilangan nyawa." mata sipit Raditya terasa pedas dan berkaca-kaca. "Juga atas kehilangan suamimu, aku sudah membuatmu menderita untuk kesekian kalinya, aku yang menjadi penyebab anak-anak kehilangan ayahnya. Aku juga yang sudah membuatmu kesulitan, hamil tanpa suamimu."
Zahira membalas tatapan penyesalan dan kerinduan Raditya.
"Seandainya aku bisa menebus semuanya dengan bersamamu, tentu aku akan sangat bahagia, tapi sepertinya itu tidak mungkin." Radit memejamkan matanya sejenak. "Aku sangat mencintaimu Zahira, dari saat kita masih kecil." setetes air bening jatuh dari sudut mata Raditya. "Hingga saat ini masih kau saja yang aku cintai, meskipun aku tahu pada akhirnya cinta itu bisa berubah, seperti kau yang sangat mencintai suamimu, dan aku tak berarti apa-apa."
"Radit, aku juga minta maaf, aku juga terlalu egois. Hidup dalam kemanjaan bersamamu membuat aku lupa seberapa berartinya dirimu dalam hidupku." ucap Zahira kembali menangis, ingatan masa kecil itu masih jelas di kepalanya.
"Itu bukan kesalahan Zahira." Radit tersenyum diantara kesedihannya.
Wajah cantik itu menunduk, tampak melipat dua tangan di dada karena dinginnya udara menjelang Maghrib, tubuhnya menggigil.
__ADS_1