Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
Kita harus menjadi keluarga


__ADS_3

Pintunya di tutup rapat, Ayra tak peduli pada pria yang masih berdiri terpaku di luar dengan tangan masih terangkat ingin meraihnya.


Terlalu benci!


Dia sudah merusak segalanya, Ayra tidak mau berdamai, apalagi sampai menerimanya sebagai ayah kandung dari anak yang ada di dalam perutnya.


Bukankah kemarin dia membenciku?


Bukankah dia meminta aku pergi?


Air matanya turun deras dengan bersandar di balik pintu, nikmat sekali rasa sakit yang Reza Mahendra berikan sejak malam itu.


"Ayra." suara Reza Mahendra terdengar sambil mengetuk pintu.


Ayra tak bergeming, dunia terasa gelap ketika harus hamil tanpa seorang suami. Ternyata mengandung seorang anak itu sungguh berat jika di jalani seorang diri. Dia masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Reza Mahendra, mengeluarkan seluruh isi perutnya, juga air matanya hingga merasa lega, terkuras keduanya.


Ayra meraba dinding dan berjalan dengan penglihatannya masih bergoyang.


Tangan hangat Reza Mahendra meraih tubuh yang mulai limbung, pria itu merapatkan tubuh lemas Ayra dan menuntunnya ke ranjang.


"Kau keterlaluan masuk ke kamarku tanpa izin!" suara Ayra masih ingin marah walaupun saat ini dia tidak punya tenaga.


"Aku hanya ingin membantumu." Reza tak peduli dan terus mengatur bantal untuk Ayra beristirahat.


"Pergilah!" Ayra membuang muka.


"Anakku ada di sini, mana mungkin aku pergi sedangkan ibu dari anakku sedang terbaring lemas."


Reza sedikit merayu, pria seperti Reza tak akan kehabisan cara untuk menaklukkan seorang wanita.


"Aku bukan wanita murahan yang bisa dengan mudahnya termakan rayuanmu." Ayra masih tak mau menatap Reza disampingnya.


"Aku tidak merayu, aku hanya sedang mengatakan kenyataan. Walaupun bagiku sendiri ini cukup memukul." Reza menarik nafas.


"Kalau begitu pergilah, tinggalkan aku." ucap Ayra lagi.


"Aku akan pergi jika kau sudah lebih baik, jika tidak maka aku akan tinggal di sini."


"Hah! Kau sudah gila!" Ayra menatap Reza penuh amarah.

__ADS_1


"Tidak! Aku sedang menjaga anakku." jawab Reza dengan wajah tak berdosa.


"Tidak ada anakmu! Hanya anakku!" kesal Ayra memukul bantal di sisinya.


"Tentu saja anakku! Aku yang membuatnya." Reza tak kehabisan kata-kata.


"Tidak! Aku tidak mau. Lebih baik kau pergi saja!" Ayra mendorong-dorong tubuh Reza Mahendra.


Pria itu hanya tersenyum tanpa amarah seperti biasanya. beberapa hari ini dia sudah memikirkan untuk menerima kehadiran Ayra. Lagi pula Ayra tak menginginkan ini terjadi, kehadiran seorang nyawa di dalam rahim Ayra membuatnya bisa berdamai dengan diri sendiri. Ya, Reza sudah berdamai dengan diri sendiri.


"Aku tidak akan pergi." ucap Reza mantap, mengendurkan tangan yang mendorongnya sekuat tenaga yang tersisa.


"Dia anakku Ayra." Reza menatap wajahnya dengan serius.


"Aku akan pulang ke London sesuai keinginanmu, aku akan membawanya dan membesarnya. Aku di sini hanya sekedar_"


"Aku tidak akan membiarkan dirimu pergi membawa anakku, kecuali aku akan ikut bersamamu. Kita menikah!"


Ayra membulatkan matanya, pria aneh itu benar-benar sedang membuat Ayra jantungan hari ini, kehadiran yang tiba-tiba, juga memasuki kamarnya tanpa izin, dia benar-benar pusing, semakin pusing karenanya.


Sedangkan di tempat lain, Zahira baru saja tiba bersama Ricky menemui Radit dan Jia, mereka berjalan lebih cepat.


"Wa'alaikum salam." terdengar jawaban dari semua orang, terkecuali Radit yang sudah berdiri dan memandangi wajah Zahira lebih dekat.


"Ada apa?" tanya Zahira sedikit merasa tak nyaman, mendadak pria itu menjadi agresif.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu bagaimana wajah orang yang sudah ku bela hingga membuatku ada disini dan tidak bisa pulang untuk bertemu seseorang." Radit tak mengalihkan tatapannya.


"Kau ingin bertemu siapa?" tanya Zahira merasa bersalah, matanya berkedip indah.


"Seorang wanita." jawab Radit memasang wajah angkuh, mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


Zahira menatapnya tak percaya, begitu juga yang lain, mereka tampak aneh dengan sikap Radit.


"Kau harus sabar, semua akan selesai dalam waktu dekat." ucap Zahira pelan, sedikit penasaran dengan wanita yang di maksud Raditya. Tapi ia tak perlu bertanya, lagi pula ini bukan waktunya membahas siapa orang yang akan di temui Radit.


"Kita akan usahakan satu Minggu!" Ricky menyela pembicaraan mereka.


"Lama sekali." Radit kembali duduk dan menyandar lelah.

__ADS_1


"Harusnya aku yang tidak sabar di sini, kau ingat aku akan segera menikah." Akbar sungguh tidak sabar menghadapi Radit yang aneh.


"Kau pikir hanya dirimu saja, aku juga ingin mendapatkan wanitaku." Radit tak mau kalah.


"Siapa wanitamu?" Zahira menyahut, rasa penasarannya membuat bibir merah itu bertanya tanpa di sadari.


"Nanti kau akan tahu setelah aku bebas, kau akan menyukainya." Radit tersenyum tipis. Pria itu beranjak kembali masuk ke ruangan pemeriksaan dimana beberapa orang pengacara ada di dalamnya.


Zahira juga membalas senyum tipis Radit. Tiba-tiba nafasnya menjadi berat mendengar apa yang di katakan Radit baru saja.


Atau dia sedang terlambat, datang di waktu yang tidak tepat, berjalan dimana persimpangan terlalu banyak hingga membuatnya kesulitan menemukan tujuan sebenarnya. Mungkin Radit sudah menemukan seseorang pilihan.


"Bagaimana?" tanya Ricky kepada beberapa orang sekaligus keluar dari ruangan bersama Radit, Zahira sedikit terkejut.


"Tiga hari lagi mereka bebas!" Ricko tersenyum senang, pria itu selalu bisa diandalkan.


"Syukurlah, terimakasih banyak Om." Zahira sungguh bahagia mendengar kabar dari asisten suaminya itu.


"Ini sudah tugasku." Ricko memasang kaca matanya dengan gaya khas dirinya.


"Benar, jika tidak berguna maka kau lempar saja dia." Seorang laki-laki mirip Akbar sedikit bercanda.


"Paman Abi." Zahira mengulurkan tangannya.


"Kau masih tak berubah, aku sepupu suamimu. Tapi tak apa-apa, kau sudah terbiasa." ucapnya senang berjabat tangan dengan Zahira.


"Tentu saja, bertemu denganmu membuat aku mengingat Mas Anggara. Dia pasti senang melihat kita berkumpul seperti ini, walaupun dalam keadaan yang sedikit pelik."


"Tentu saja, kita semua harus utuh, selalu menjadi keluarga. Seperti kami saat itu bersama ayahnya, kami semua orang asing yang tiba-tiba menjadi keluarga." ucapnya mengenang, wajah Zahira membuatnya ingat dengan masa muda.


"Ya, aku ingin kita semua menjadi keluarga." matanya mulai berkaca-kaca jika sudah membahas tentang rasa rindu yang sulit di jelaskan.


"Baiklah kalian harus bersabar." Ricko mengajak rekan pengacaranya keluar meninggalkan mereka yang muda, memberi sedikit ruang sebelum Radit dan Jia kembali masuk.


"Terimakasih." Zahira kembali menundukkan kepalanya kepada delapan orang pengacara termasuk Ricko.


"Kau terlalu sederhana." ucap Ricko melihat Zahira, ia berlalu bersama yang lainnya.


Radit kembali mendekati Zahira dan memandangi wajahnya dari samping.

__ADS_1


"Kita memang harus menjadi keluarga, jangan membenciku lagi setelah ini."


__ADS_2