
Pagi hari ketika habis dua rakaat di rumah David, doa orang suami istri itu tampak lelah dan malas pergi kekantor. Semangatnya yang selalu stabil untuk pergi kekantor itu kini berubah ingin selalu istirahat di rumah dan menjauh dari pekerjaan.
Terlebih lagi saat beberapa rekan bisnisnya menanyakan tentang pernikahan Radit dengan putri pak Anwar yang di sembunyikan. Ayu semakin tidak percaya diri untuk berbicara tentang anak-anak dengan mereka dan akan memilih menghindar dari semua pembicaraan di luar pekerjaan.
"Sayang, aku ingin bicara padamu." suara David memecah lamunan wanita cantik semampai itu.
"Iya?" dia menoleh.
"Aku tidak suka anak Anwar itu datang kemari, jujur saja melihat wajahnya membuat aku ingat akan kehilangan Zahira." sekilas dia melirik Ayu dan kembali fokus pada roti di piringnya.
"Aku juga tidak menyukainya David, tapi aku juga tidak bisa menolak kehadirannya jika di dalam perutnya ada darah kita, anak Radit putra kita." Ayu ikut mengisi piringnya dengan Roti.
"Tapi aku tidak ingin terulang lagi di datang kemari, bukankah sudah ku katakan hari itu pada ayahnya bahwa aku tidak mau melihat dia dan juga anaknya." tatapan mata David menajam ketika mengingat hari itu.
"Tadinya aku juga begitu David, tapi ingatlah dia sedang mengandung darah dagingmu juga, tidak kah kau menginginkan seorang cucu." Ayu ingin David mengerti.
"Terserah saja, yang pasti kemarin adalah terakhir dia datang kemari, karena jika dua kali aku takut akan membuatnya kecewa." David menunjukan wajah tak suka.
"Aku tahu kau sangat menyayangi Zahira, tapi cobalah mengerti David, sedikit saja." Ayu berkata pelan sekali.
"Aku akan mengerti jika bukan dia orangnya, tapi entah mengapa aku tak bisa menerimanya walau sedikit." David menatap Ayu.
"Tapi Radit menginginkan anak itu, jangan membuatnya lebih gila walaupun kau tidak suka." Ayu membujuknya.
"Aku pergi dulu." David tak menjawab dan berlalu tanpa mencium kening istrinya. Tadinya pria itu tak berniat pergi ke kantor, tapi sepertinya moodnya sedang naik turun.
"David!" panggil Ayu namun tak di dengar pria itu, jalannya cepat sekali sudah pasti dia sedang menahan emosi.
*
__ADS_1
Satu Minggu semenjak hari Radit mengamuk, pria itu kini mulai berangsur pulih. Dia lebih menurut dan mendengar apa yang di ucapkan dokter juga Nurul yang selalu setia menemaninya.
Seperti hari ini, Pria itu menikmati suasana taman depan rumah sakit itu besama Nurul. Wajahnya terlihat lebih tenang dan yang paling penting dia sudah mulai bisa di ajak bercerita.
Meskipun mereka hanya bercerita tentang hal yang ringan namun sesekali terselip sebuah kalimat yang membuat Nurul tak mampu menjawabnya.
"Aku merasa kehilangan Ummi." ungkapnya terdengar sedih.
"Semua orang akan merasekan kehilangan, Radit tak payah pusing pikirkan pasal tu. Ummi juge pernah merasekan kehilangan, sedih sangat. Biarlah Allah yang tentukan arah jalan kehidupan kite, bile kate Allah senang, senanglah hidup kite, bile kate Allah belum waktunye senang, tentu kite kene sabar." Nurul menjelaskannya.
"Aku ingin sembuh Ummi." ucapnya lagi.
"Mestilah, Radit akan sembuh cepat bile Radit rajin ibadah, belajar ikhlas, semua dah di tentukan Yang Maha Kuase. Sesal tak ade gune." Nurul melihat Radit sudah lebih tenang, bahkan arah bicara pria itu tak lagi menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
"Semua manusia mesti pernah lakukan kesalahan, dan sesuai aturan sesal selalu Ade di belakang. Waktu Mane boleh balik, tapi kesempatan untuk berubah dan baiki kesalahan diri tentu masih Ade. Jangan gunekan sise hidup untuk menyesal, rugi!" Nurul tersenyum memberi semangat.
"Aku akan mencobanya Ummi."
Benar jika usianya terlalu muda untuk merasakan kehilangan, lebih tepatnya terlalu muda menikah dan mengemban tanggung jawab yang sama sekali belum dia paham. Kala itu hanya rasa cinta saja yang menguasai dirinya, ingin memiliki, takut kehilangan, juga hasrat jiwa muda yang sulit di kendalikan. Tak pernah terlintas akan ada cobaan yang menghadang di setengah perjalanan, dia sungguh belum siap, bahkan masih terlalu bodoh untuk mengambil keputusan.
*
"Mas, bukankah nanti malam kita akan menikah, lalu kau mau kemana?" Zahira menyusul langkah pria jangkung itu baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.
"Hanya sebentar sayang, ada rekan bisnisku dari luar kota ingin bertemu. Kasihan dia sudah jauh-jauh datang, aku juga harus profesional." Anggara membenarkan kancing kemeja yang mengintip di balik jasnya.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Zahira masih berdiri di hadapan Anggara.
"Laki-laki dan perempuan, dia membawa putrinya yang akan meneruskan bisnis orangtuanya." Anggara tak berbohong.
__ADS_1
"Dia akan menyukaimu." ucapnya dengan wajah di tekuk.
"Kita akan menikah, untuk apa peduli dengan orang yang suka atau tidak suka." Anggara mengusap kepala yang terbungkus hijab itu.
Dia tak juga beranjak, tak juga rela melepas Anggara pergi.
Anggara meraih bahu Zahira dan sedikit mengusap lengan kecil itu. "Istirahat dan minta apa saja pada Bibi, atau mau di pijat? Kau bisa memintanya. Persiapkan dirimu untuk nanti malam." ucapnya sedikit merayu.
"Tapi_"
"Aku tidak akan lama." janji Anggara.
"Janji?" Zahira membuka lebar mata beningnya.
"Iya." pria itu tersenyum.
"Pergilah, jangan lupa pulang lebih cepat. Aku tidak mau menjadi janda sebelum menikah!" ucapnya berbalik kembali ke kamar miliknya.
Anggara terkekeh geli mendengarnya, tentu ia tak akan pernah melewatkan pernikahan yang sudah sangat lama di tunggu.
*
Cipta alam terkadang membawa suka, malam yang cerah dengan hamparan langit biru bertaburkan bintang mengelilingi rembulan yang tampak sedang tersenyum. Suasana nyaman, sejuk dan damai di rumah mewah itu membuat sekitar seratus orang yang hadir merasa ikut bahagia.
Meja kecil itu sudah tersedia dengan sebuah kotak kaca yang indah berisikan berlian berwarna putih bersinar mengisyaratkan nilainya yang tak layak di dengar orang biasa. Tampak pria dewasa itu sudah duduk dengan tenang menunggu seseorang yang belum juga menampakkan batang hidungnya, tentu saja di dalam hatinya sangat yakin bahwa yang akan muncul adalah sosok bidadari cantik sekali, yang akan menemani sepanjang sisa hidupnya.
"Kau gugup?" Asisten itu tak ketinggalan menggoda bosnya.
"Diam!" jawab Anggara.
__ADS_1
"Pengantinnya sudah turun, dia cantik sekali." suara seseorang membuat pria itu menoleh.