Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
246. Nenek sihir


__ADS_3

'Aku tahu didalam hati Zahira tak hanya aku, ada Anggara yang menguasai hatinya dan Radit masa lalunya. Bersusah payah aku masuk dalam kehidupan Zahira, mencoba mencari celah di dalam hatinya. Sedikit! Tapi aku yakin sedikit itu akan membawaku mendekat, perlahan dengan segala usaha yang ku lakukan, dengan candaan dan sedikit merayu mencoba membuatnya tertawa, hingga berhasil meyakinkannya untuk menjadi teman dan calon pendamping hidupku. Tapi, sekarang aku harus kembali berusaha menyakinkan Zahira, aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjadikannya istriku, satu-satunya cara adalah meminta Mama memberikan restu.'


Lamunan yang cukup panjang, satu jam lebih perjalanan pulang membuat pria hanya membisu duduk menyandar di belakang sopir.


"Kita sudah sampai Tuan." Sopir Reza Mahendra melirik tuannya sedikit, merasa heran dengan pria jangkung itu seperti enggan beranjak dari duduknya.


Reza Mahendra mengangguk, pada akhirnya ia turun dengan langkah lunglai. Semangatnya hilang bersama dengan menipisnya harapan indah untuk hidup bersama Zahira.


"Kau baru pulang?" Nyonya Carolina menyapa putranya.


Malas dan lelah, Reza tak menjawab hanya menjatuhkan diri di sofa empuk ruang tamu.


"Apa yang membuatmu tidak bersemangat? Apakah ada hubungannya dengan Zahira?" Nyonya Carolina menatap Reza dengan menyelidik.


"Mama pasti tahu." jawab Reza masih menyandar dengan kepala menengadah keatas.


"Mama tidak tahu." Carolina terlihat santai.


Reza merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Jangan bohong Mama, karena masalah dan penyebabnya adalah Mama." ucapnya menatap tajam ibunya.


"Mengapa jadi Mama? Mama tidak tahu menahu hubunganmu." tentu dia tak mau di salahkan.


"Tidak tahu menahu tapi ikut campur!" Reza menatapnya dengan kesal.


"Mama tidak ikut campur Reza!" Nyonya Carolina ikut kesal.


"Tidak ikut campur tapi membuat suasana menjadi panas! Mama tahu apa akibat dari ucapan Mama yang hanya membual itu?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Carolina tidak terima, memilih pura-pura tidak mengerti apa yang di bicarakan anaknya.


"Untuk apa Mama mengatakan jika aku sudah di jodohkan dengan gadis di London? Itu sama sekali tak ada gunanya Mama!"


"Tentu saja ada gunanya. Wanita kurus itu terlalu menyombongkan anaknya, aku tidak suka. Dan aku tidak ingin dia berpikir jika hanya anaknya yang paling baik. Tentu ada banyak wanita di dunia ini yang akan menyukaimu, mencintaimu bahkan lebih baik untuk mendampingi dirimu nanti. Kau lebih baik dari wanita itu!" jelas Carolina dengan bangga.


"Dia sudah tahu semuanya tentang aku Ma, dan dia tidak sedang mencari popularitas, dia sudah jauh terkenal dari pada aku! Dan lagi, aku tahu Mama tidak suka karena dia punya anak. Mengapa Mama jadi membencinya? Dia tidak sedang mencari laki-laki kaya untuk menghidupi dia dan anak-anaknya, dia bahkan lebih kaya daripada kita! Jadi untuk apa Mama berbicara tentang status kepada wanita yang yang tidak butuh apapun dari kita, termasuk pengakuan."


"Terserah! Yang pasti aku hanya ingin kau menikah dengan seorang gadis, bukan janda beranak yang hanya akan merepotkanmu. Dan lagi, anak-anak nakal itu aku sangat tidak suka." Carolina mendengus kesal, lelah berdebat dengan putranya yang tetap bersikeras, ia memilih meninggalkan masuk ke dalam kamarnya.


"Mama sangat keterlaluan! Aku tidak peduli Mama suka atau tidak, aku akan tetap menikahi Zahira. Sebaiknya Mama segera pulang ke London, di sana akan lebih menyehatkan untukmu." Reza juga tak mau kalah, pria itu naik ke lantai atas malas kembali bertemu dengan ibunya.


Kepalanya semakin pusing mendengar pengakuan ibunya. Sudah tentu rasa tidak suka Nyonya Carolina terlihat jelas di mata semua orang, wanita tua itu tidak akan bisa menutupi rasa suka atau tidak sukanya terhadap siapa saja.


Pantas jika Radit kesal, Ayu kesal, dan juga yang lainnya. Jika Zahira tidak marah itu hanya rasa menghargai terhadap Reza Mahendra saja. Semuanya kacau, sangat kacau, ibunya mengacaukan usaha yang Reza yang lumayan memakan waktu untuk mendekati Zahira.


Sejenak lalu kembali duduk merem*s rambutnya sendiri, kekecewaan terhadap sang ibu kembali terasa, setelah sekian lama ia berusaha melupakan perpisahan kedua orang tuanya, membuat ibunya sibuk dengan hidupnya, dan ayahnya juga sibuk dengan hidupnya. Reza hanya sendiri semenjak sekolah menengah. Hingga beberapa tahun terakhir komunikasi kembali terjalin, mulai membaik namun sekarang sepertinya akan kembali buruk.


Sementara di rumah David, ketiga orang itu tampak sedang menikmati sore yang cerah, minum teh di halaman belakang dengan saling bercerita.


"Apakah perusahaan baik-baik saja?" tanya Ayu kepada Radit, dia memang tidak pernah lagi ke kantor semenjak Radit kembali dari Malaysia hampir Dua tahun terakhir.


"Semua baik-baik saja, Mama tak perlu khawatir." jawabnya sesekali melihat layar ponsel.


"Ya, Mama percaya padamu." ucap Ayu bangga.


"Yang aku khawatirkan saat ini adalah Zahira." ucapnya kemudian, sedikit melirik Ayu lalu kembali melihat layar yang tidak jelas dia sedang mencari apa.

__ADS_1


"Besok Mama akan menginap di sana, Papa juga." Ayu melihat David.


"Ya, tentu saja." David tertawa senang.


"Reza Mahendra tak mau menyerah, tentu akan menciptakan masalah nanti. Aku takut ibunya juga bersikeras dan akan terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkan. Ya, jelas aku tidak bisa diam saja jika Reza masih terus nekat mendekati Zahira." Radit berkata dengan serius.


"Tentu saja, Mama juga tidak akan diam saja." Ayu menyandar di kursinya dengan menatap Radit.


"Kalau begitu aku akan memastikan wanita yang sudah keriput itu pergi dari negara ini dengan segera." ucap Radit dengan tersenyum aneh.


"Kau jangan macam-macam." Ayu jadi khawatir dengan wajah Radit yang sedikit berbeda.


"Tidak, hanya akan meminta Reza untuk mengirim ibunya pulang ke tempat asalnya. Jadi bukan aku yang bertindak, tapi anaknya. Aku hanya perlu memprovokasi sedikit." jelas Radit sedikit tersenyum.


"Terserah, yang pasti aku juga perlu bicara dengan Zahira. Mama tidak ingin dia semakin larut dalam kedekatan Reza dan akhirnya kecewa. Sejujurnya Reza itu baik, hanya aku tidak suka dengan nenek sihir versi eropa tersebut. Rasanya aku juga ingin menjadi penyihir untuk menghabisinya." kesal Ayu.


"Aku rasa itu ide yang bagus." Radit menertawai ibunya.


"Benar! Dan bukan hanya ibunya Reza Mahendra yang takut, tapi juga semua orang." David ikut terkekeh geli membayangkannya.


"Kalian malah bercanda." Ayu memasang tatapan tajam pada keduanya, berlalu masuk ke dapur meninggalkan mereka.


Radit dan David masih terkekeh menertawai wanita yang sudah menghilang ke dalam rumah itu.


"Aku jadi penasaran dengan apa saja yang mereka bicarakan sehingga ibumu kesal sekali."


"Aku tidak tahu, yang pasti menyebalkan." Radit bisa menebak dari raut wajah dan penampilan sombong wanita yang merupakan ibu dari rekan bisnisnya.

__ADS_1


__ADS_2