
"Aku harap kau sudah benar-benar memikirkannya Zahira, jangan sampai setelah kau bercerai kau malah menyesal. Kau tahu, setelah kau melepaskannya, artinya kau sudah menyerahkan suamimu pada wanita lain, apa kau yakin hatimu tak akan lebih sakit?" Anggara menasehatinya, sungguh ia tak mampu egois.
"Tapi semua keadaan ini menyakitkan, tak ada satu keputusan pun yang tidak menyakitiku. Aku mohon kau berikan aku pengacara untuk mengurus perpisahanku." pintanya dengn mata berkaca-kaca.
"Apa sebaiknya kau minta pada Papamu saja." Anggara merasa David pasti membantunya.
"Aku tak ingin melihat Papa kecewa, aku juga tidak mau melihat mama menangis. Tapi aku juga tak ingin kecewa dan menangis, aku ingin berusaha bebas dari semua ini." jelasnya berusaha menguatkan diri.
"Sebaiknya kau temui Radit lebih dulu, dia masih suamimu. Jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, kau cari aku, aku akan melakukan apa saja untukmu." Anggara menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini." ucapnya dengan suara pelan, mata beningnya tampak mengeluarkan air mata.
"Kau masih punya aku yang siap mengorbankan segalanya, jangan bersedih dan yakinkan hatimu." Anggara berbicara dengan jarak yang dekat.
"Terimakasih." ucapnya menunduk.
"Kita akan mengantar Zahira lebih dulu." ucap Anggara pada asistennya, pria itu mengangguk dengan senyum mengembang, sepertinya dia sedang bahagia. Tentu saja dia bahagia, bosnya sedang menikmati waktu bersama wanita tercintanya. Sungguh ia berharap bosnya itu ada akan segera melepas gelar perjaka.
"Om!" panggilnya setelah tak lama lagi akan tiba di rumahnya.
"Ada apa?" tanya Anggara lembut.
"Kemarin kau bilang mengetahui semuanya dalam sehari. Apa kau juga tahu dimana wanita itu berada?" tanya Zahira menatapnya ingin tahu.
"Oh, itu_? Itu kau tanyakan saja padanya." Anggara menunjuk Ricky yang sedang menyetir.
"Apa kau tahu dimana pelakor itu?" Zahira menanyai Ricky.
"Iya." jawabnya singkat dengan mata fokus menatap ke depan.
"Dimana, aku ingin bertemu dengannya?" Zahira tak mengalihkan pandangannya dari pria yang menyetir itu.
"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu, tapi kau jangan menghabisinya." Ricky menoleh sekilas.
"Untuk apa? Rugi sekali aku menghabisi wanita seperti itu." jawabnya dengan wajah di tekuk.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantu semuanya. Kau hanya tinggal katakan apa yang kau mau." pastinya jika sudah bersama Zahira Anggara tak akan mampu melarangnya.
"Terimakasih." jawab Zahira senang.
"Pulanglah." Anggara melihat rumah Zahira di depan mereka.
"Terimakasih sudah bersamaku." ucapnya sendu.
"Tentu saja aku akan bersamamu, sekarang aku selingkuhanmu." Anggara menggodanya lagi.
Zahira menoleh, ia menatap lelah pada pria yang sedang tertawa itu.
Zahira masuk setelah satpam senior itu membuka pintu.
"Kemarin pak David nyariin non, terus mas Radit juga." ucap pak satpam itu cemas.
"Biarkan saja pak, sekarang aku hanya sendirian, Radit sudah menikah lagi." jawab Zahira memberitahu masalahnya. Ia ingin pak satpam tau jika Zahira sedang tidak baik-baik saja.
"Tapi, mas Radit ada di dalam Non." jawabnya menghentikan langkah Zahira.
Ia berhenti, namun akhirnya melangkah kembali. Menarik nafas dan mencoba tegar menghadapi laki-laki yang teramat ia cintai, laki-laki tumpuan hidup namun kini sudah milik orang lain. Walaupun masih miliknya namun lambat laun ia akan memilih bersama anaknya.
Ponsel berwarna hitam itu bergetar, Zahira ingat saat malam itu ada pesan yang masuk, mungkin itu adalah Merry, tangan kecil itu meraih ponsel suaminya.
"Radit apa kau baik-baik saja?" isi pesan singkat.
Zahira menarik nafas, ia mencoba tenang dan membalas pesan tersebut.
"Aku baik-baik saja." Zahira mengirim balasannya.
Tak lama kemudian pesan balasan itu datang, "Aku rindu padamu."
Deg
Zahira terpaku menatap ponsel itu, mulutnya terbuka menahan sesak dan pedih. Sakit sekali rasanya jika suami di rindukan orang lain. Tangan kecil itu bergetar dengan jari-jari terasa dingin, jantung yang sedang berdetak itu seakan mengerucut.
__ADS_1
"Zahira!" Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi begitu senang mendapati Zahira ada di kamarnya, sungguh ia sangat lelah mencari Zahira kemana-mana tak menemukannya tapi kini ia ada di kamar. Radit segera mendekat dan memeluk tubuh kecil itu dengan erat.
Tangan kecilnya tak membalas, sejenak malah melepaskan pelukan hangat itu.
"Zahira aku mohon kau jangan pergi." ucap Radit, wajah tampannya semakin terlihat kurus.
"Maaf Radit, aku sudah memutuskan merelakanmu untuk Merry. Mereka lebih butuh dirimu daripada aku." Zahira menunduk, hatinya bagai tertusuk dan teriris mengucapkan kata-kata itu.
"Tidak sayang, aku tidak mau berpisah denganmu. Kau tahu sejak awal aku hanya mencintaimu, bukan Merry atau siapapun." jawabnya memohon.
"Kau tidak boleh egois Radit, sebagaimana anak dan istri butuh ayah dan suami, aku juga butuh kebebasan untuk menyembuhkan rasa sakit ini. Aku tidak akan mampu bertahan dengan keadaan yang kau buat, kau tak akan mampu meninggalkan anakmu demi aku, aku juga tak mau menjadi wanita yang egois memaksamu memilih antara aku dan anakmu nanti. Jadi biarkan aku mengalah, anggaplah saat ini kau sedang menolongku."
"Aku tidak mau Zahira, aku tidak akan mampu hidup tanpamu, aku yakin aku tidak akan sanggup." Radit kembali duduk menekuk kakinya dan memeluk kaki dengan kepala dipangkuan Zahira.
"Harus mau Radit, biarkan aku sendiri."
"Tidak akan, tidak akan pernah Zahira.
"Jika kau tidak mau, aku yang akan menggugatmu." Zahira melepaskan tangan Radit dan berdiri.
"Zahira tolong, beri aku kesempatan sekali saja." Radit memohon.
"Pergilah ke rumah istrimu yang lain, dia sedang merindukanmu." Zahira menunjuk ponsel Radit sambil berlalu pergi.
Radit meraih ponsel dan melihat isi pesan singkat, sejenak lalu tangan besar itu mengepal erat, meninju bebas di udara.
"Zahira!" panggilnya menyusul keluar.
Di lantai bawah terlihat Zahira sedang masuk ke kamar tamu dengan membawa sepiring cemilan dan air putih. Radit segera turun dan menyusulnya ke kamar besar itu, namun sayang pintunya terkunci dan lagi-lagi tak ada sela untuk berbicara apalagi melepas rindu padanya.
Tiga puluh menit Radi menunggu pintu itu masih tak kunjung terbuka, hingga terdengar suara deru mobil di halaman depan.
"Zahira!" suara itu memanggil namanya.
"Dia ada di dalam kamar Ma." suara Radit begitu pelan, wajahnya semakin menyedihkan.
__ADS_1
Ayu menatap wajah putranya yang tampak semakin putus asa.
"Zahira meminta berpisah Ma." ucapnya sedih, begitu juga dengan Ayu, ia tak kalah sedih. Ia ingin menjerit sekencang-kencangnya meratapi kehilangan Zahira, sudah pasti hubungan antara mereka akan hancur.