
Sore itu juga Radit menuju rumah Ayra, dia ingin menanyakan langsung perihal kehamilan Ayra dan tentang Reza yang jelas sudah kenal sebelumnya dengan Ayra.
"Mas Radit." sapa satpam rumah Ayra.
"Ayra ada Pak?" tanya Radit berbicara masih duduk di mobil dengan kaca terbuka.
"Ada Mas." jawab Satpam tersebut.
Radit turun dari mobilnya, melangkah masuk rumah tersebut.
"Ayra!" panggil Radit sedikit berteriak.
Pintu kamar lantai dasar terbuka, ternyata dia menempati kamar ayahnya saat itu. "Radit, ada apa?" tanya gadis itu kemudian.
Radit duduk di sofa ruangan keluarga yang dekat dengan kamar Ayra. "Aku butuh bicara denganmu." ucap Radit serius.
Ayra duduk berhadapan dengan Radit, gadis berwajah indo tersebut tampak pucat.
"Ayra! Aku ingin menanyakan sesuatu." Radit berbicara pelan.
"Apa?" tanya Ayra tak kalah pelan, ada kecanggungan tersendiri saat mereka berhadapan.
"Dimana kau mengenal Reza Mahendra?" tanya Radit dengan mata sipitnya menatap tajam.
Ayra sedikit terkejut, namun kemudian ia bersikap tenang. "Di rumah Zahira." Jawab Ayra meyakinkan Radit, tentu ia adalah wanita yang berpendidikan dan berpengalaman. Tak sulit baginya menguasai diri.
"Tapi yang ku lihat bukan begitu Ayra." Radit masih menatap Ayra.
"Memangnya apa yang kau lihat? Aku benar-benar baru mengenalnya." jelas Ayra lagi.
"Jika baru mengenalnya, mengapa kau tidak suka padanya. Kau sangat tidak menyukai hubungan mereka. Dan kau tahu, saat ini mereka sedang berencana untuk menikah."
"Apa?" Ayra terkejut, posisi duduknya menegang.
"Ya, jadi jika kau tahu sesuatu maka tolong katakan sekarang. Reza tak akan melepaskan Zahira, aku jamin dia lebih baik bermusuhan dengan siapa saja asal mendapatkan Zahira. Aku sendiri mendengar dari mulutnya, dia benci padaku, pada siapa saja yang akan menghalangi niatnya untuk menikahi Zahira." jelas Radit lagi.
"Dia tidak layak di jadikan suami Zahira, kau harus menghentikannya." Ucap Ayra khawatir.
"Aku tidak bisa jika tak punya alasan." jawab Radit.
"Katakan jika Reza adalah pria yang tidak baik, dia suka mabuk dan berkencan dengan wanita! Kau harus mengatakannya!" Ayra meraih tangan Radit dan memohon.
__ADS_1
Radit menatap Ayra dengan heran, sepertinya tebakan Radit benar jika Ayra tahu sesuatu.
"Aku_" Ayra menarik tangannya dari lengan Radit, menyadari jika ucapannya mengundang kecurigaan Radit.
"Kau tahu dari mana?" tanya Radit lagi.
Ayra tak menjawab melainkan hanya diam dan tampak gugup.
"Ayra! Katakan darimana kau tahu? Kau kenal Reza Mahendra dari mana?" Radit bertanya dengan tegas sekali lagi.
"Hanya pernah mendengarnya." Ayra beranjak meninggalkan Radit menuju kamarnya.
"Ayra!" Radit menahan lengan Ayra.
"Aku sedang mual." Ayra berusaha menghindari Radit namun percuma, Radit tak melepaskannya.
"Ayra, katakan yang sejujurnya apa yang sedang kau tutupi? Aku sudah melihat bagaimana kau bertemu dengan Reza saat di rumah Zahira, kalian berdebat dan dia menyeret mu masuk ke dalam mobilnya, apakah itu tidak cukup untuk membuatmu mengaku?" ucap Radit lebih tegas.
"Itu hanya pertemuan tak sengaja!" jawab Zahira masih mengelak.
"Ayra! Aku juga laki-laki. Aku tahu bagaimana seorang laki-laki menatap dan memperlakukan seorang wanita, dan dapat ku pastikan ada sesuatu yang telah terjadi antara kalian, aku yakin itu bukan hal yang kecil."
"Jika tak ada yang tejadi, lalu apa artinya ini?" Radit meraih ponsel dan memperlihatkan rekaman saat Reza melihat kotak susu hamil yang terjatuh sore itu.
Ayra menatap Radit dengan terkejut, ia memandangi rekaman cctv tersebut dan menelan paksa ludahnya.
"Apakah dia yang membuatmu hamil?" tanya Radit menatap tajam Ayra.
Ayra tersenyum kecut, menggeleng tak mau mengaku. "Bukan." jawabnya memalingkan wajahnya.
"Kau harus jujur Ayra, jika hanya masalah hamil aku pun bisa menjadi ayahnya. Aku bisa menikahi mu demi agar keluarga kita tidak menanggung malu. Anggap saja aku sedang membalas Budi pada ayahmu yang pernah menyelamatkan hidup ibuku dulu. Itu jika ayahnya adalah orang yang berbeda! Tapi jika yang membuatmu hamil adalah dia!" Radit menunjuk layar ponselnya. "Aku tidak bisa diam saja, membiarkannya menikahi Zahira dan membuatmu menderita. Ku rasa Zahira juga tidak akan mau." Radit berbalik berjalan keluar rumah.
"Radit! Aku tidak mau Zahira tahu!" Ayra meraih bahu Radit, menghentikannya.
Radit menoleh, melihat wajah Ayra yang semakin pucat dan takut.
"Aku mohon." ucap Ayra lagi.
"Artinya benar, Reza yang membuatmu mengandung?" tanya Radit sekali lagi.
Ayra menunduk, tangannya bertaut, tubuhnya bergetar, sepertinya dia menangis.
__ADS_1
Radit meriah tubuh Ayra dan memeluknya sejenak, lalu mengajaknya duduk di sofa kembali.
"Dimana dia melakukanya?" tanya Radit merasa ingin tahu.
"Di London, saat aku menunggu seseorang di apartemen, beberapa Minggu yang lalu."
Ayra menangis hebat, dapat di lihat jika yang di lakukan Reza padanya adalah yang pertama kali sehingga membuatnya sangat bersedih, atau bahkan trauma.
"Mengapa kau tidak jujur saja Ayra." ucap Radit pelan.
"Aku tidak mau Zahira tahu, tapi juga aku tidak rela Reza menikahi adikku, dia terlalu baik untuk pria brengsek itu." tangisnya masih terdengar menyedihkan.
Radit membiarkan Ayra menangis, mungkin gadis itu butuh waktu untuk meluapkan perasaannya. Radit sedang berpikir untuk mendatangi Zahira dan mengatakan semuanya, Zahira harus tahu.
"Aku mohon, jangan katakan apa yang terjadi padaku. Tapi pastikan mereka tidak menikah." Aira kembali berbicara dalam isak tangisnya.
"Aku juga sedang kacau Ayra." Radit mengusap wajahnya berkali-kali.
"Pergilah, yakinkan Zahira." pintanya kepada Radit.
"Lalu kau?" tidak tega melihat Ayra sendirian dan menangis.
"Aku lemas, aku ingin istirahat. Besok aku akan ke rumah Zahira." jawab Ayra menghentikan tangisnya.
"Baiklah, jaga diri baik-baik dan jangan berpikiran macam-macam. Kau tahu mengapa aku tak menikah?" Radit mendekati Ayra.
Ayra menatap Radit.
"Aku tidak bisa punya anak. Jadi jangan sia-siakan titipan Allah padamu." Radit tersenyum sedikit, meninggalkan Ayra yang masih terkejut.
Radit keluar dari rumah itu dengan dada yang mendidih, membayangkan wajah Reza Mahendra ada di hadapannya dan menghajarnya hingga mati. Ya! Itu perlu dilakukan.
Radit masuk ke dalam mobil dan meraih ponselnya, melihat layar rekaman CCTV rumah Anggara yang sengaja standby terhubung dengan ponselnya.
"Reza!" Radit melihat pria itu sedang berkunjung di rumah Anggara, tampak dia sedang bercanda dengan anak-anak.
Radit kembali melaju kencang, rasanya sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Hanya butuh beberapa puluh menit saja, Radit sudah tiba di sana.
Tin
Radit membunyikan klakson mobil, biasanya tak perlu di bunyikan para bodyguard itu akan membukanya, tapi kali ini mereka seperti tak mendengar apa-apa.
__ADS_1