
"Sayang!" David memanggilnya pelan.
Gadis itu masih tak bergeming, matanya tak lagi mengeluarkan air mata, tapi terlihat ada segudang kesedihan yang sedang ia simpan jauh di dalam sana. Wajah polos dan cantik itu sungguh membuat David merasa sedih, terluka dan bersalah. Sejak kecil menjaganya dengan segenap kasih sayang, tak ada sikapnya yang menjengkelkan atau menyakitkan hati, malah Radit lah yang saat ini membuatnya sakit hati.
Jika ayahnya masih ada, sudah pasti dia akan marah besar dan Radit akan habis di tangannya. David terpaku beradu pandang dengan Zahira, menerawang jauh mengingat masa-masa muda bersama sahabatnya, ayah Zahira.
"Maafkan Papa." ucapnya kemudian.
Mendengar kata maaf itu Zahira kembali menangis, air mata beningnya terasa panas jatuh di pipi.
"Papa yang salah." ucap David bergetar, pria itu menangis kali ini, bahu besarnya bergoyang menahan sesak yang begitu banyak di dadanya.
"Papa!"
Zahira sudah tidak dapat menahan gejolak kesedihan itu sendirian, dia memeluk tubuh David dengan sama-sama menangis.
"Sekarang aku benar-benar tidak punya siapa-siapa." tangis Zahira di dalam pelukan David.
"Jangan berkata begitu Nak, Papa akan selalu bersamamu." jawab David masih dengan air mata mengalir.
Sejenak keduanya saling melepas kesedihan hingga akhirnya duduk di pintu dan menyandar di dinding.
"Papa tidak tau jalan mana yang akan kau ambil, Papa tau Radit bersalah dan sudah sangat menyakitimu, namun tak bisa papa pungkiri, papa masih ingin kalian bersama." David menunduk.
"Entahlah Papa, rasanya sakit sekali di khianati. Jika aku bisa memilih, aku lebih baik menyusul ayah dan ibuku dari pada harus merasakan kebahagian palsu ini. Radit sudah menipuku." lirihnya.
"Papa tau nak, kau sedang kecewa. Tapi Papa harap kau jangan berputus asa, masa depanmu masih panjang." David tak mau memaksakan kehendak, walaupun ia masih sangat menginginkan Zahira bertahan. Tapi sebagai orang tua tentu ia tak boleh egois, dia harus memahami betapa hancurnya hati Zahira.
Hingga lelah keduanya menangis dan bersedih, David membujuknya untuk turun ke bawah dan makan, namun sudah pasti ia tak berhasil. Orang yang terluka hati bahkan tidak dapat merasakan lapar, ia sudah kenyang dengan air mata.
__ADS_1
Malam semakin larut, Radit masih menyandar di dinding dengan wajah lebam dan darah di bibirnya sudah mengering. Pria itu tampak putus asa, dengan semua sesal yang menumpuk.
Radit melihat tangga menuju ke atas, dulu saat ia tidak bisa tidur memikirkan Zahira, dia akan naik dan melihat pintu kamar yang tertutup itu sejenak, lalu kembali dengan senyum tipis hingga tertidur bersama bayangan Zahira, rasanya begitu indah mencintai wanita itu. Radit akan menggenggam tangannya saat berada di tempat ramai, ia sangat takut Zahira hilang atau di lirik orang. Meskipun wanita cantik itu tidak menyadari tapi Radit sudah lebih dulu merasakan jatuh cinta yang teramat dalam.
Akhirnya dia beranjak dan perlahan melangkahkan kaki, satu demi satu anak tangga itu ia lewati, pelan dan tanpa suara hingga akhirnya sampai penghujung tangga lantai dua. Dia berdiri sejenak, menarik nafas dan berusaha menguatkan diri, sungguh posisi yang salah itu membuat orang merasa lemah.
"Zahira." panggilnya namun tak sampai di dengar, tampak di ujung balkon itu Zahira sedang memandang rembulan, kebiasaannya sejak kecil jika sedang memikirkan sesuatu, baik itu hal bahagia atau sedih, dia akan melihat satelit itu sangat lama seakan ia sedang mengadu.
Langkah pelan itu semakin dekat, dan dapat di dengar olehnya.
Dia menoleh.
"Untuk apa kau datang padaku?" tanya Zahira, membuang muka dan memunggunginya.
"Aku tau aku salah, tapi bisakah kau mendengar sedikit penjelasan ku Zahira?" Radit menatap sedih pada wanita yang membelakanginya.
"Aku tidak pernah mencintai Merry sedikitpun, aku juga tidak pernah menginginkan ini terjadi. Dia menjebakku hingga akhirnya dia mengandung, awalnya aku tidak mau Zahira, tapi aku takut dia menyerahkan rekaman CCTV itu padamu. Aku takut kau marah, Mama dan Papa marah, dan aku tidak mau kehilanganmu." jelasnya pelan dan sungguh berharap Zahira dapat mengerti.
"Lalu apa yang membuatmu membohongiku, kau menghilang di beberapa waktu dan menemaninya pergi periksa kehamilan kau pikir aku tidak akan tau?" Zahira menoleh sejenak tersenyum sinis.
"Aku tidak tahu jika akhirnya akan begini, aku hanya menemani tidak lebih dari itu." Radit menunduk lemah.
"Kau menginginkan anak itu Radit." Zahira yakin tebakannya benar, terlihat jelas saat mereka memeriksakan kehamilan Merry Radit selalu dekat dengannya.
Dia tak menjawab.
Zahira tersenyum getir, hatinya kembali hancur, sungguh kejam kenyataan menimpa dirinya.
"Aku tidak tega jika harus membuang anak itu Zahira, walaupun aku tidak menginginkan ibunya, tapi tidak bisa memungkiri itu darah daging ku." Radit berkata jujur.
__ADS_1
"Aku mengerti Radit." jawabnya dengan berlinang air mata.
"Maafkan aku Zahira, aku tidak ingin kita bertengkar seperti ini." Radit berusaha merayunya.
"Aku tidak ingin bertengkar, aku hanya akan mencoba ikhlas. Dan aku rasa aku harus mengalah." ucapnya dengan menahan air mata.
"Tidak Zahira, aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak ingin pernikahan kita hancur karena hal ini aku tidak menginginkannya Zahira." Radit meraih tubuh kecil itu dan memeluknya.
Zahira tak menjawab, dia sudah tak memiliki kekuatan untuk menjawab.
"Aku mohon kau mengerti dan memaafkan aku, sekali ini saja Zahira." Radit semakin mengeratkan pelukannya. "Zahira tolong dengarkan aku sekali ini saja!" Radit Dan menangis.
"Kau dan aku memang saling mencintai Radit, tapi kau dan Merry juga memiliki ikatan yang tak kalah kuat, bahkan lebih kuat dari cinta kita, yaitu anakmu."
"Tidak Zahira aku mohon!" pria itu bersimpuh memegang kedua kaki Zahira.
"Aku juga terluka Radit, tolong kau juga mengerti aku." Zahira berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Radit, namun ia tak mampu karena laki-laki muda itu memeluknya begitu erat, bahkan untuk bergerak saja dia tak bisa.
"Tapi tidak dengan berpisah Zahira, aku tidak akan mampu." ucapnya lagi dengan suara menyedihkan.
"Kau akan cepat melupakan aku Radit, ada anakmu di sana sudah pasti kau akan bahagia. Aku mohon beri aku waktu untuk menenangkan diri." ucapnya pelan.
"Aku tidak akan melepaskan mu." Radit masih bersikeras.
"Aku hanya ingin istirahat Radit, aku lelah." jawabnya lagi.
Hingga lama mereka tak saling menuruti, tetap bertahan dengan keinginan masing-masing. Dan akhirnya Radit mengalah membiarkan istrinya istirahat di kamar tanpa dirinya, seperti dulu, pintu kamar itu tertutup rapat.
Radit masih tak mau beranjak, ia tidur di depan pintu dengan hati tak menentu.
__ADS_1