
"Enak saja, kaulah yang mengikuti aku!" Anggara sedikit berteriak.
"Tidak, mana mungkin aku melakukan itu, jangan menuduh sembarangan." jawab Zahira tak mau kalah.
"Siapa yang tiba duluan?" tanya Anggara masih tidak terima dengan tuduhan gadis itu.
"Aku!" jawab Zahira sangat yakin.
"Kapan kau tiba?" tanya Anggara lagi.
"Tadi pagi!" jawabnya lagi.
Anggara tertawa sinis, "Aku tiba kemarin dan kemarinnya lagi! Aku sudah dua hari menginap disini." Anggara menunjuk dadanya sendiri.
Zahira tercengang mendengarnya, ternyata dialah yang menyusul. Eh tidak, tidak! Bukan menyusul tapi bertemu tak sengaja, mana mungkin Zahira menyusulnya. Gadis itu tampak mati kutu.
"Kenapa diam?" tanya Anggara menatap wajah gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
Zahira duduk berjongkok mengambil buah-buah jeruk yang ia kumpulkan di rerumputan, mengambilnya satu persatu dan memangkunya di dada.
"Sini!" tangan kecilnya meraih bahu Anggara dan memintanya lebih dekat.
"Kau mau apa?"
"Diam." ucapnya lagi, tangan kecil itu meraih kantong jas Anggara dan memasukkan buah jeruk itu hingga penuh, tak puas hanya satu tapi dua sisi kantong ia buat penuh dan hampir tak muat lagi.
Anggara sampai melongo dibuatnya, pria tampan itu jadi bingung harus berkata apa.
"Kau tau berapa harga jas yang sedang ku pakai ini?" tanya Anggara menahan kesal.
"Berapa?" tanya Zahira masih sibuk dengan jeruknya.
"Harganya DUA RATUS LIMA PULUH JUTA!Jangan kau samakan dengan kantong plastik harga Dua Ratus Lima Puluh rupiah untuk wadah jeruk-jerukmu ini!" Anggara geram sekali.
"Aku hanya meminjam kantongnya saja, tidak akan merusak jasmu." bibir merah itu mengerucut.
"Lalu aku harus berjalan aneh, dengan dua kantong berisi penuh seperti anak kecil yang baru saja mencuri jeruk di kebun tetangga begitu?" Anggara masih terus memarahinya.
"Aku tidak punya tempat." jawabnya pelan.
"Buang saja semuanya." Anggara masih tak suka melihat jeruk yang ada di tangan Zahira.
__ADS_1
"Tidak mau, aku sudah bersusah payah memetiknya. Ayo jalan!" Zahira menunjuk arah jalan menuju Vila, dan meminta Anggra berjalan lebih dulu.
Pria itu sungguh kesal, harus berjalan dengan dua sisi kantong penuh dan berat. Sungguh merusak harga dirinya sebagai pemilik perusahaan raksasa. Dan benar saja ada tiga orang warga lewat dan dari jarak lumayan jauh mereka sudah menertawai Anggara.
Semakin dekat mereka semakin memperhatikan kantong jas milik anggara, kiri dan kanan sama penuh dan berat.
"Pak!" mereka menyapa sambil tersenyum.
"Ah, iya Bu. Istri saya sedang mengidam." ucapnya tersenyum, tangan Anggara menarik paksa lengan Zahira dan membuatnya berjalan sejajar.
"Oh, pantes!" jawab ibu-ibu itu serentak dan tersenyum lebar.
"Mari Bu." Anggara mempercepat langkah karena Zahira sudah menatap tajam padanya.
"Apa maksudmu?" gantian Zahira yang marah.
"Ini sebab ulahmu, jangan harap aku akan menanggungnya sendiri." Anggara tak peduli.
"Tapi tidak harus mengatakan aku istrimu!" Zahira kesal sekali.
"Lalu?" Anggara berjalan cepat sehingga Zahira harus berjalan setengah berlari.
"Aku istri orang." ucap Zahira masih terlihat merajuk.
"Aku tidak tau." jawabnya singkat.
"Istri macam apa itu, sampai suami ada di mana dia tidak tahu." ucap Anggara mengatainya.
Zahira berhenti.
'Mengapa benar sekali ucapan itu, istri macam apa aku ini? hingga keberadaan suamiku saja aku tidak tau. Jika saja aku tahu dimana dia berada, di mana dia dan sedang apa, bersama siapa dan mengapa? Mungkin ini tak akan sampai terjadi. Tapi mau apa lagi, semua sudah terjadi dan dia akan bahagia tanpa aku. Sudah tentu, mereka akan segera memiliki anak lalu tinggallah aku bersama sisa kebahagiaan, abadi dalam kesedihan."
"Dari tadi kau menjadi patung di tengah jalan, kau membuat aku berbicara sendiri!" Anggara kembali memutar langkahnya dan menarik tangan gadis itu.
Zahira tak menjawab, ia menurut saja hingga kembali masuk di Vila miliknya.
"Ada apa?" Anggara masih menatap heran, tumben sekali anak kutilang itu tidak berbunyi.
"Tidak!" jawabnya menunduk, Zahira melangkah masuk menuju kamarnya.
"Hey tunggu!" Anggara membuatnya menoleh.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya gadis itu masih tampak lemas.
"Ambil buah sialan ini!" Anggara menunjuk dua kantong jasnya.
"Buat kau saja." jawab Zahira malas, ia kembali lemas mengingat Radit yang sudah membohonginya.
Anggara masuk dan meraih tangan kecil itu. "Ambil atau aku akan minta ganti rugi Lima ratus juta?" Anggara mengancamnya, sungguh malas jika harus mengeluarkan jeruk itu satu-persatu dari kantongnya.
"Baiklah." Zahira mengalah, tangan kecilnya menyelip dan mengeluarkan satu persatu hingga habis.
"Kau sedang patah hati? Wajahmu itu lemas sekali." Anggara menunjuk wajah cantik Zahira yang berada tepat di hadapannya.
"Iya, suamiku memiliki wanita lain." jawabnya mengangkut jeruk itu dan meletakkannya di atas meja.
"Kasihan sekali?" Anggara pura-pura tidak tahu.
"Dia sedang mengandung anak Radit, sedangkan aku malah tidak hamil-hamil." ungkapnya dengan kecewa.
"Lalu kau pergi kemari, melarikan diri dari masalah." tebak Anggara.
"Hem." jawabnya malas.
"Kalian menikah terlalu muda, melindungi diri saja belum bisa, bagaimana melindungi pasangan?" ucap Anggara lagi.
"Kau benar, dan mengapa aku yang harus tersakiti." ungkapnya sedih.
"Kau tak perlu merasa sedih berlebihan, kau masih muda dan cantik, masa depanmu masih panjang."
"Aku tahu, tapi sungguh itu menyakitkan." jawabnya berusaha tersenyum.
Anggara berlalu meninggalkannya, pria itu ingin sekali berbicara banyak hal namun ia ingat masih ada hal yang harus ia kerjakan.
Tinggallah Zahira sendiri kembali meratapi kesedihannya, dia bahkan tidak peduli bagaimana Radit dan orang tuanya sedang pusing setengah mati mencari dirinya.
Sore itu Ayu melajukan mobilnya menuju klinik dokter muda itu untuk menanyakan Zahira. Dan benar saja ia menemukan jawaban bahwa Zahira menginap di sana, namun sayang pagi-pagi sekali Zahira sudah pulang dan itu membuat David juga Radit kembali mengunjungi tempat-tempat yang mungkin di kunjungi Zahira, mereka sungguh sibuk dan khawatir, terutama Raditya, pria itu sesekali mengeluarkan air mata kecemasan dan kesedihan. Dia rindu, sungguh rindu pada Zahira, namun ia belum juga menemukan istri tercinta.
"David, kemana kira-kira Zahira pergi?" tanya Ayu dengan wajah pucat dan lemas.
"Aku tidak tahu sayang, tapi sepertinya dia sedang ingin sendiri, dia tidak ingin ada kita bersamanya." David mengucapkan pendapatnya.
"Dia sedang kecewa David, kecewa dengan kita juga." Ayu kembali menangis.
__ADS_1
"Anak kita memang salah Sayang." David berusaha berpikir bijak, sebagai orang tua memang dia harus mengerti ke duanya, tak hanya Zahira, tapi juga Radit. Walaupun ia masih tetap menyalahkan Radit yang tidak jujur sejak awal. Namun percuma, Zahira sudah terlanjur kecewa, yang telah terjadi sudah tak mungkin bisa di rubah.