
"Radit!" suara itu mengejutkan Radit.
Pria tampan itu tampak lusuh dan tidak bersemangat, semenjak Zahira pergi meninggalkan dirinya ia malas sekolah apalagi bekerja. Hari ini Raditya duduk di depan rumah sahabatnya, ia sedang mengambil soal dan mengerjakan di rumah saja.
"Untuk apa kau datang kemari?" Radit tak begitu suka dengan kehadiran Merry di sana, entah sedang apa ia di rumah temannya.
"Aku sengaja mencarimu." ucapnya lembut, gadis itu tampak berisi dengan perut yang mulai penuh.
"Ada apa? Kau tahu aku sedang pusing Zahira ingin bercerai dan aku tidak mau itu terjadi." ucap Radit jujur.
"Aku tahu, tapi aku juga merindukanmu." jawabnya menunduk sedih.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang, masuklah ke dalam mobil." perintah Radit, gadis itu masuk dan menurut.
"Ini bukunya, kau tidak akan masuk hari ini?" Vino keluar dengan buku di tangannya.
"Tidak, aku banyak urusan." jawabnya sedikit tersenyum menampilkan gigi yang rapi.
Radit langsung pergi melajukan mobilnya, kali ini ia menuju apartemen yang di tempati Merry, sepanjang jalan keduanya tak terlibat obrolan hingga sudah sampai di apartemen Radit mengantar wanita itu masuk ke dalam.
"Radit, bisakah kau tinggal sejenak, hanya satu jam saja." pinta Merry menggandeng lengan pria tampan itu.
"Aku sedang banyak urusan Merry." jawabnya dengan wajah datar.
"Tiga puluh menit saja." pintanya lembut, tangan halusnya semakin memeluk erat lengan itu.
"Baiklah." Radit sedikit melirik wajah pucat itu, dengan perut yang mulai membesar dan wajah polosnya sedikit meluluhkan hati Radit.
Merry mengajaknya duduk di sofa dan terus memeluknya dengan manja, walau tidak ada respon awalnya namun gadis itu tetap memeluknya erat.
Radit menoleh wajah istrinya, tampak wanita itu begitu menikmati dan menghisap-hisap aroma tubuh Radit, sepertinya dia memang sangat rindu.
"Apa ibu hamil memang manja seperti itu?" tanya Radit terus menatap wajah yang terus bersembunyi di bahunya.
"Aku menyukainya, aku juga merindukanmu." jawabnya dengan suara yang sengaja dibuat manja, ia meraih tangan Radit dan meletakkan di perutnya.
__ADS_1
"Kau masih sering mual?" tanya Radit.
Gadis itu mengangguk, terus menatap Radit dengan penuh harap. "Anakmu sungguh menyiksaku." bisiknya lembut, seakan sengaja membangkitkan sesuatu yang sudah lama berpuasa.
Radit tersenyum, mengelus perutnya dan satu tangan itu terangkat memeluk gadis itu dengan lembut. Entah siapa yang memulai hingga nafas mereka bertukar dengan detak jantung meningkat pesat, tangan kokoh Radit mulai mengelus perut itu penuh dengan kasih sayang.
Merry tak ketinggalan terus menempelkan dirinya, tangan kecil dan halusnya mengusap pipi suami yang amat di rindukannya. Sungguh-sungguh rindu itu ingin meledak, dan pagi ini bak gayung bersambut, Radit tak menolah dan menikmati waktu berdua itu.
Satu sisi ingin menolak, namun kalah dengan pikiran kusutnya, 'dia juga istriku, Zahira sudah tak peduli dan gigih untuk bercerai, sepertinya dia memang akan kehilangan benar-benar kehilangan, untuk apa harus menahan jika yang di perjuangkan tidak mau ikut berjuang. Lagi pula di dalam perut ini ada anakku, darah dagingku.'
"Sungguh aku rindu sekali padamu Radit." ucap Merry begitu menginginkannya, tangannya terasa dingin menahan gejolak yang baru saja di mulai.
Radit tak menjawab, ia terus saja melancarkan aksinya.
"Anakmu akan senang merasakan kehadiranmu." ucapnya lagi terus merayu.
Semakin lama semakin panas membuat gadis itu tak henti memuja Radit suaminya, menikmati berbagai macam gaya dan meluapkan rasa yang menggila, Merry yang memang sangat ingin, rela melakukan apa saja untuk memanjakan Radit dan membuatnya bahagia. Ia tak akan melewatkan kesempatan ini, ia akan membuat Radit selalu mengingatnya, selalu mengingatnya!
"Sayang kau benar-benar pintar sekali." akhirnya ucapan itu keluar dari mulut pria yang sedang kacau itu.
Merry tersenyum senang dengan terus melakukan apa yang dia bisa, terus menggelitik, menggoda dan mempermainkan Radit, ia begitu lincah dan berkuasa, tanpa ragu apalagi sungkan, ia terus membuat Radit memanggil namanya 'sayang'.
*
Hingga sore hari, di apartemen itu tampak sepi.
"Sasa mengapa Nona Zahira belum kembali?" tanya Kay dengan wajah khawatir.
"Raya juga tidak pulang-pulang Kak." Sasa juga terlihat khawatir.
"Kita harus mencarinya." Kay meraih ponsel dan keluar dari apartemen itu bersama Sasa.
"Halo tuan, Nona Zahira belum pulang, tadi dia ke kampus tapi hingga sekarang belum pulang." Kay menghubungi Anggara.
Tentu saja kabar itu membuat Anggara khawatir, pria itu juga meminta Ricky untuk segera ke kantor Zahira, mungkin saja gadis itu ada di sana.
__ADS_1
"Tidak ada di kantor, aku sudah mengeceknya." Ricky langsung menghubungi Anggara.
"Di kampus juga tidak ada!" Kay menghubungi Anggara.
"Di rumahnya juga tak ada, mungkin di rumah David." jawab Anggara dengan khawatir.
Anggara langsung meluncur tanpa peduli apapun lagi, entah mengapa ia merasakan Zahira akan meninggalkannya.
"Pak David ada?" Anggara tiba lebih dulu, tak lama kemudian dua mobil ikut memasuki halaman rumah David.
"Ada pak." Satpam senior itu menjawab hormat.
"Anggara!" Ayu begitu terkejut melihat banyak orang masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Apa Zahira ada disini?" tanya Anggara.
"Tidak, Radit bilang Zahira ada di apartemen dan tidak mau di ganggu." Ayu menatap mereka semua penuh tanya.
"Kami ada di apartemen menemani Nona Zahira tapi tadi pagi dia pergi ke kampus dan belum kembali." jawab Kay dengan wajah datarnya tapi terlihat khawatir.
"Kemana dia?" Ayu juga ikut khawatir.
"Coba kalian cari dimana saja, aku khawatir dia tidak baik-baik saja." Anggara meminta Ke tiga orang bawahannya untuk mencari.
"Apa Zahira bersamamu akhir-akhir ini?" Ayu memicingkan matanya, ia tahu persis Anggara tidak akan sekhawatir itu jika bukan Zahira.
"Dia meminta Ricky untuk menjadi pengacaranya, aku hanya ikut mendengar, tidak ikut campur apapun." jawab Anggara.
"Pantas saja, putraku tidak akan menang jika berhadapan denganmu." Ayu memasang wajah dinginnya.
"Aku hanya ingin membantunya, dia tidak layak menderita berkepanjangan tanpa siapapun di belakangnya." Anggara tampak tenang.
"Kami tidak ikut campur karena mereka anak-anak kami, tidak berbeda sedikitpun." Ayu masih mencari sesuatu di wajah Anggara.
"Aku akan mengambilnya jika hanya air mata yang dia dapat dari putramu." Anggara tak ingin menutupi.
__ADS_1
"Kami juga tidak ingin seperti itu." Ayu menatap tajam kali ini.
"Kau membiarkan putramu memiliki uang dan kekuasaan, menggandeng pengacara untuk membelanya, tapi membiarkan Zahira sendirian tanpa siapa-siapa." jawab Anggara tegas.