
Zahira tak menjawab, memejamkan mata menikmati pelukan hangat itu sejenak.
"Kau terlihat lebih cantik setelah mengandung, tapi sepertinya ini sudah enam bulan?" ucap Ayu heran.
"Ini empat bulan Mama, aku sedang mengandung anak kembar." jawab Zahira halus, tangan lentiknya mengelus bagian yang membesar itu.
"Kembar?" Ayu seakan tak percaya.
Zahira mengangguk, menatap bola mata Ayu dengan yakin.
"Artinya Papa akan memiliki cucu kembar!" seru David tak kalah bahagia.
"Iya." jawab Zahira tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi dan mata indah menyipit, tapi kemudian senyumnya berhenti bahkan tak bergerak.
Hening
Hening
Semua orang sedang menatap wajah gadis cantik itu berubah kaku, senyum lebar yang terukir sempurna baru saja mendadak menjadi gurat terluka dan sedih yang mendalam, tanpa di duga ia menyandar di sofa dengan menutup dua matanya.
"Zahira!"
Anggara langsung mendekat dan meraih gadis itu ke dalam pelukannya, membuat David menggeser posisi duduknya ke samping.
"Sayang." panggil Anggara lagi, menepuk pipi istrinya.
Masih tak membuka mata, seakan tidurnya terlalu nyenyak dengan nafas yang teratur.
"Zahira Sayang!" panggil Ayu sedih dan bergetar, ia benar-benar khawatir dan ikut mengusap bahu Zahira.
"Zahira, Sayang bangunlah! Jangan tidur seperti ini." ucap Anggara, ujung hidungnya memerah dengan mata coklatnya terlihat seperti ingin menangis.
"Zahira, anak Papa." David ikut memegang kaki Zahira dan menekan ibu jari kakinya.
Anggara semakin takut, memeluk dan membenamkan wajahnya di leher Zahira. Ia sungguh takut. Berkali-kali mengalami kehilangan dan menyaksikan tidur panjang yang menakutkan.
"Uhhh." terdengar suara pelan, matanya perlahan terbuka.
__ADS_1
Anggara melonggarkan pelukannya dan mengatur posisi duduk yang nyaman untuk Zahira.
"Sayang, jangan membuatku takut." ucap Anggara pelan, sungguh terdengar khawatir.
"Aku tak berguna!" ucapan yang entah berasal darimana.
"Apa yang tidak berguna? Kau sangat berarti untukku, bahkan di sini ada anak-anak kita." Anggara memegang sedikit bagian perutnya, menyelami mata bening Zahira dengan sangat memuja, hatinya sedang memohon untuk tidak terjadi hal yang buruk lagi.
"Aku seperti sedang bermimpi." ungkap Zahira pelan sekali, hingga seperti berbisik, dadanya naik turun jelas terlihat dengan posisi menyandar dalam pelukan Anggara
"Apa mimpinya buruk?" tanya Anggara halus dan membelai wajah cantiknya, menggenggam erat jemari lentik itu.
"Rasanya menyakitkan." ucap Zahira hingga menjatuhkan air mata tanpa ia sadari.
Sedangkan David dan Ayu seolah ikut kesulitan bernafas, ia tidak tau harus berbuat apa melihat Zahira menangis tiba-tiba.
"Jika itu buruk, lupakan saja Sayang. Bahkan hidup ini seperti mimpi, kita hanya akan terbangun saat kita sudah mati." ucap Anggara, mengusap air mata Zahira.
"Apa hidup bersamamu juga sedang bermimpi?" tanya Zahira terfokus pada wajah tampan yang begitu menenangkan.
"Mimpi yang indah." jawab Anggara tersenyum manis dengan menatap mesra.
"Maafkan Mama." ucap Ayu, mendadak ia menjadi orang asing saat itu. Bukankah seharusnya dia yang menenangkan juga memeluk Zahira. Tangan halus Ayu meraih jemari lentik Zahira, tak sebebas dahulu ketika dia sering bermanja dan merengek tak mau bekerja. Malah sekarang ia kesulitan untuk hanya sekedar membuatnya merengek meminta sesuatu, dia begitu jauh, jauh sekali meskipun tangannya berada dalam genggaman Ayu.
"Silahkan di minum." Suara Bibi memecah kecanggungan juga sedih yang menyelimuti ruangan itu.
"Terimakasih." jawab Ayu menghapus butiran bening yang sempat jatuh di pipinya.
"Ini teh hangatnya Non Zahira." Bibi sengaja memberikan teh hangat untuk majikannya, sudah terbiasa bagi Bibi memberikan minuman itu seperti arahan Anggara, teh hangat akan membuat seseorang yang lelah berpikir kembali tenang.
"Terimakasih Bibi." Anggara meraih cangkir itu dan memberikan pada Zahira. "Minumlah sedikit Sayang."
"Kau tidak lelah selalu mengurusku?" tanya Zahira belum meminum teh dari tangan Anggara.
"Tentu saja tidak." jawab pria itu tulus sekali.
"Aku seperti wanita yang tidak mengerti apa-apa." ucapnya sedih.
__ADS_1
"Minumlah sayang, jangan berpikir seperti itu." pinta Anggara lagi.
Zahira meminum sedikit. "Aku lelah." ucapnya.
"Kita istirahat." Anggra langsung menggendong dan membawanya naik ke lantai Dua. Tak ketinggalan David dan Ayu juga mengikuti mereka.
Ayu juga David tak mampu bicara, baru saja berbincang bahagia malah sekarang kembali bersedih.
"Kau wanita yang pintar, bahkan kau sudah bekerja dengan baik saat itu. Kau sudah berhasil menangani satu proyek hingga selesai, juga beberapa proyek yang masih terus kau kelola sebelum akhirnya kau kecelakaan." jelas Anggara sambil menatap tetap menaiki tangga sambil menggendongnya.
"Itu semua karena dirimu." jawabnya membuat langkah Anggara sedikit terhenti.
"Kau mengingat sesuatu." ucap Anggara, menunggu Ayu membuka pintu kamar mereka, mata coklat itu tak luput dari wajah cantik dalam pelukannya.
Dia tersenyum, tapi juga menangis, hingga Anggara meletakan tubuh besar itu berbaring di ranjang.
"Aku selalu bersamamu, dari dulu hingga saat ini, juga nanti. Tak perlu ada yang harus kau khawatirkan Sayang, aku juga tak pernah merasa lelah, tidak akan pernah lelah." Anggara menggenggam tangan Zahira dan mengecupnya berkali-kali.
"Tuan, Dokter Nina tidak bisa datang kemari." ucap Jia, gadis itu sedang mengatur nafas karena naik dengan terburu-buru.
"Kalau begitu siapkan mobil." Anggara meraih ponsel juga dompet miliknya. Kembali pria itu menggendong Zahira segera membawanya ke rumah sakit.
Hingga Sore menjelang, Ayu dan David masih tampak menemani Anggara duduk di kursi tunggu dengan pikiran cemas.
Begitu juga Anggara, selain menghawatirkan Zahira yang mulai pulih dan terlihat lemah, ia juga takut terjadi sesuatu dengan bayi kembar mereka. Pemeriksaan berlangsung satu jam dan harusnya sudah selesai, tapi dokter malah belum terlihat keluar dari ruangan Zahira.
Terdengar suara pintu terbuka.
Anggara segera beranjak dan mendekati Dokter Nina yang baru saja keluar. "Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Anggara sudah tak sabar lagi.
"Tidak ada yang perlu di khawatir, semuanya baik-baik saja. Hanya dia perlu di rawat hingga besok, kami ingin tahu sejauh mana perkembangan ingatan istri Anda, karena seharusnya saat ini ia sudah sembuh total."
"Tidak masalah Dok." jawab Anggara, pria itu sedang berpikir bahwa memang seharusnya begitu, tapi mengapa Zahira masih tak menunjukkan ingatan itu kembali, hanya sedikit-sedikit saja lalu kemudian ia kembali seperti biasa.
"Apa istri Anda memiliki masa lalu yang kurang bagus?" tanya dokter itu pelan, mungkin ia takut Anggara tersinggung.
"Ya, itu benar Dokter." jawab Anggara membenarkan.
__ADS_1
"Otaknya sudah sembuh total, tapi ingatannya belum sepenuhnya pulih. Sepertinya ia sedang menghindari rasa sedihnya sendiri, sehingga ia malas untuk berusaha mengingat." jelas Dokter Nina mulai mengerti.