
"Ya." Radit menoleh, menatap wajah cantik yang sembab.
"Sebaiknya anak-anak bersama Jia atau Bibi saja." ucapnya melihat kedua putranya terus memandangi wajah Zahira yang sedikit berbeda.
"Aku tidak masalah mereka bersamaku, atau biar aku saja yang mengurus mereka untuk sementara." Radit berkata dengan sungguh-sungguh. Tapi Sadewa dan Satria beranjak dan mengikut tangan ibunya.
"Tidak perlu, mereka sudah terbiasa bersama Bibi, Suster juga Jia." Zahira tak memperlihatkan wajah ramahnya. Cenderung menatap tak suka pada Radit.
"Zahira." panggil Radit pelan, ia merasa sikap Zahira berbeda. Mungkin ia sedang terlalu bersedih. Radit mencoba berpikir demikian.
Satria dan Sadewa hanya menurut, mereka diam tanpa protes tapi akhirnya! "Apa ibu membenci paman Radit?" tanya Satria sudah tidak tahan dengan dugaannya.
"Sebaiknya bersama Suter saja ya Nak, atau bermain dengan Bibi Jia dan Paman Hiko." Zahira memberikan jawaban berbeda.
Radit masih memandangi punggung Zahira dan kedua anaknya, pembicaraan mereka pun masih terdengar.
"Mungkin dia sedang bersedih, perasannya sedang sensitif." Akbar menepuk bahu Radit.
"Aku rasa kalau dia membenciku." jawab Radit sedih.
"Dia sedang hancur, siapapun tak akan mampu menyembuhkan hatinya." Akbar mengajak Radit keluar.
Hari-hari berlalu terasa begitu lambat, waktu terus berputar tanpa mau menunggu. Di awal pekan itu, Satria dan Sadewa kembali masuk sekolah. Zahira tak mau terjadi sesuatu apapun pada anaknya sehingga setiap hari harus di jaga oleh Jia. Namun ini adalah Minggu terakhir Satria dan Sadewa masuk sekolah taman kanak-kanak, karena bulan depan mereka akan masuk sekolah khusus para jenius, kelas khusus seperti ayahnya, yang hanya menyelesaikan sekolah dasar 4 tahun, Sekolah Menengah Pertama 2 tahun, juga Sekolah Menengah Atas 2 tahun.
Suara deru mobil memasuki halaman luas rumah mewah itu. Tapi tak hanya satu, artinya ada mobil lain yang datang. Zahira keluar dan menyambut kedua anaknya.
"Ibu!" mereka meraih tangan Zahira, mengecup pipi kiri dan kanan Zahira.
"Ganti baju ya Sayang!" Zahira mengusap dan memeluk tubuh hangat putra-putranya.
Anak-anak pintar itu mengangguk mengikuti Suster yang sudah siap menunggu. "Paman, tetap di situ ya!" Satria berbalik dan berbicara pada Radit, ia mengangguk setuju dengan senyum manis di wajahnya.
"Zahira!"
__ADS_1
Suara itu membuat Zahira enggan menoleh, ia tahu siapa yang datang, dan sudah pasti hatinya kembali terluka melihat wajah itu.
"Maaf, aku sedang sibuk." ucapnya tak menatap wajah Radit. "Sebaiknya kau pulang." ucapnya lagi.
"Zahira! Aku mohon jangan seperti ini. Aku hanya ingin menghibur anak-anak, aku ingin mengajak ia jalan-jalan dan itu setelah izinmu." Radit mendekati Zahira.
"Aku tidak mengizinkannya. Dan jika ia butuh jalan-jalan, aku bisa melakukannya." Zahira masih tak mau melihat Radit, ia menyamping bahkan memunggungi Raditya.
"Apa aku salah dekat dengan anak-anakmu, bahkan selama ini suamimu mengizinkan aku bersama mereka." ucap Radit butuh penjelasan.
Zahira berbalik menghadap Radit, mata bening itu tak bersahabat, juga wajah cantik itu mendung ketika mendengar suaminya di sebut. "Itu dulu, sekarang sudah berbeda. Dan aku lebih suka kau menjauhi anak-anakku."
"Tapi kenapa?" Radit meninggikan suaranya, ia benar-benar tak paham dengan apa yang dipikirkan Zahira.
"Sudah cukup bagiku kehilangan suamiku, dan ku mohon, jangan buat aku kehilangan anak-anak juga."
"Apa maksudmu?"
"Zahira!" Radit ingin meraih lengan Zahira, tapi wanita cantik itu sudah lebih dulu masuk kedalam rumah tak peduli dengan Radit.
"Sebaiknya Anda pulang, Nona sedang dalam kesedihan, dia tidak ingin diganggu." ucap Jia sopan, ia juga berlalu meninggalkan Radit.
Mau tak mau Radit meninggalkan rumah Zahira. Sepanjang jalan ia berpikir tentang sikap Zahira yang berubah semenjak Anggara meninggal. Tak sekalipun ia datang berkunjung ke rumah Radit, tidak seperti ketika Anggara masih hidup, mereka akan datang walau hanya sekedar duduk sebentar bertanya kabar. Radit tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan mantan istrinya, dia tidak pernah bersikap seperti itu disepanjang ia mengenal Zahira, bahkan tetap peduli kepada David dan Ayu meskipun setelah apa yang pernah mereka alami.
*
Awal bulan berikutnya, Radit bersiap dengan rapat besar para pengusaha yang seperti biasa akan dilaksanakan di Hotel Anggara. Pertemuan banyak pengusaha, dan ada hal penting yang akan di umumkan setelah meninggalnya penguasa bisnis itu.
Semua sudah berkumpul di pagi cerah ini, mereka tampak menunggu hal apa yang akan mereka dengarkan, karena ini adalah rapat besar pertama setelah meninggalnya Anggara. Begitupun Radit, pria itu tampak mencari sesuatu yang seperti hilang tanpa wibawa seorang Anggara, yang selama ini menjadi siangan baginya.
"Selamat pagi semua!" Asisten Ricky masuk dengan langka pasti seperti biasa. Penampilan yang segar dan selalu wangi.
Selamat Siang Tuan Ricky." Sebagian menjawab dan sebagian hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Kita akan memulai Rapat." ucapnya, namun melirik jam yang melingkar erat di pergelangan tangan.
Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dengan seorang sekretaris wanita masuk lebih dulu, mempersilahkan seseorang dibelakangnya.
Langkah anggun, cantik, pelan dan sopan. Dia tersenyum sedikit, mengangguk sebagai salam. Kemudian duduk di sebelah Ricky, menempati kursi kebesaran suaminya.
"Selamat pagi Nona, Nyonya!" begitu mereka menyapa bersamaan.
"Ya, selamat pagi." jawabnya halus.
Rapat dimulai, pengumuman kali ini dengan menyebutkan jika Zahira menggantikan posisi Anggara sejak lama. Zahira hanya tersenyum dan mengangguk, ia tak banyak bicara, tapi sikap semua orang tentu menaruh hormat yang besar kepada wanita paling kaya tersebut, kini posisinya sangat dihormati walaupun jarang kekantor dan tidak bekerja.
Rapat selesai dan saling berjabat tangan terutama dengan Zahira. Seperti biasa Radit akan memilih terakhir, sama seperti ketika Anggara masih hidup.
Tapi, ketika ia mengulurkan tangan, malah Zahira tak membalas. Wanita cantik itu meraih berkas dan meninggalkan meja miliknya.
"Zahira!" Kali ini Radit tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara. Ia menghadang langkah Zahira, memaksa wajah cantik itu berhadapan dan saling menatap.
"Radit, tolong pergilah! Tolong mengerti jika aku sedang tak ingin bicara padamu, atau siapapun." ucap Zahira menatap wajah tampan Radit dengan malas.
"Tidak! Aku ingin tahu mengapa kau selalu menghindar dan menatapku benci? Apa salahku?" tanya Radit tak memberi sela untuk Zahira pergi.
"Om, aku ingin pulang." Zahira berbalik dan memanggil Ricky.
"Kau tidak akan kemana-mana sebelum kita selesai bicara!"
"Apa yang harus kita bicarakan?" suara Zahira meninggi.
"Katakan padaku aku salah apa?" suara Radit juga meninggi.
"Kau ingin tahu, atau pura-pura tidak tahu?" Zahira membentak.
"Aku benar-benar tidak tahu dan aku ingin tahu!" Radit juga membentak, mata keduanya saling menatap tajam.
__ADS_1