
"Arrrkhhhh!" teriakan dari suara laki-laki tua itu sungguh membuat iba, namun tak menyurutkan senyum sinis di wajah dingin Jia.
"Aku sangat kasihan sekali padamu Tuan An-" Jia menghentikan kata-katanya, kemudian tertawa terbahak-bahak kali ini. Dia sedang merasa bahagia dapat melihat wajah orang yang menghinanya meringis seperti itu.
Sedikit terdengar teriakan dari dalam toilet wanita, Anwar hafal betul siapa di dalam sana.
"Lepaskan putriku!" Anwar memberontak, wajah yang kesakitan itu bercampur khawatir.
"Aku rasa Nyonya Zahira terlalu baik hati untuk menghabisi putrimu, mungkin hanya sekedar memotong tangannya? Atau merobek bibirnya? Atau....?"
"Tidak! Lepaskan dia!" Anwar semakin memberontak, namun Jika yang sudah terlalu geram sejak lama tak akan memberi ampun padanya.
Jia mendorong Anwar dengan paksa, mendapat perlawanan yang lumayan dari Anwar, semakin membuat Jia emosi dan lebih menguatkan ototnya.
"Papaaaa!" teriakan itu masih sayup terdengar, membuat Anwar semakin bersedih tidak bisa berbuat apa-apa.
Di dalam sana, Zahira sedang menatap Merry dengan menyilang dada, tak melakukan apapun tapi sudah berhasil membuat wanita berteriak-teriak seperti orang gila.
"Radit!" panggilnya kemudian membuat bibir merah Zahira tertarik.
"Kau meminta tolong padanya? Kau lupa jika kau pernah menipunya?" Zahira tertawa kecil, tak habis pikir dengan wanita di hadapannya itu.
"Dia akan datang!" bentak Merry.
"Suamiku juga akan datang." Zahira menyandar santai.
"Tidak, tidak!" Merry semakin tegang, nafasnya naik turun dan berdiri tegak, entah karena terlalu takut membuat ia tidak bisa hanya berdiam diri di dalam toilet tersebut.
"Aku juga akan menghabisimu!" Merry maju menyerang Zahira, kedua tangannya mendorong bahu Zahira dan ingin mencekik.
"Sudah cukup kau menghabisi suami ku, dan jangan bermimpi bisa membunuhku juga!" Zahira juga mendorong dengan penuh amarah, giginya merapat dengan mata penuh dengan amarah.
"Kau juga harus mati di tanganku, kau pasti mati hari ini." kesal Merry berusaha sekuat tenaga untuk meraih leher Zahira, namun tidak bisa dengan mudah karena wanita cantik itu juga melawan, mendorong dan mencengkeram dada Merry sangat kuat.
Merry tak tinggal diam, menendang beberapa kali hampir mengenai perut Zahira, namun berhasil mengelak dan mengenai p*ha bagian atas, Zahira kesakitan dan mundur hingga menyandar di dinding.
__ADS_1
Tak menyia-nyiakan kesempatan Merry meraih leher Zahira dan mencekiknya. "Kau juga akan mati ditangan ku, menyusul suamimu ke neraka." geram Merry sudah tidak terkendali.
Zahira masih bisa fokus meski lehernya tercekik hebat, dapat melihat jika wanita dihadapannya memiliki sikap yang mengerikan yang muncul tiba-tiba.
Sejenak kemudian Zahira berhasil meraih tangan kanan Merry dan menguncinya di belakang, juga tak menyia-nyiakan kesempatan menendang kaki mulus Merry dengan hak tinggi miliknya, sehingga membuat wanita itu terjatuh dengan tangannya tetap dalam kuncian Zahira.
Krraakk!
"Aaaaakhhh!" suara jeritan melengking memenuhi toilet mewah itu, terdengar hingga keluar.
"Itu balasan untuk orang yang sudah menembak suamiku!"
"Aaakkhhh, Papa!" tangisnya terdengar menyayat hati.
Zahira kembali menginjak tangan dan betis mulus Merry dengan hak menancap di bagian tengahnya.
"Papa!" suaranya kembali menjerit hebat.
"Itu balasan untuk orang yang sudah menjadi penyebab terbunuhnya sahabatku Raya!" ucap Zahira semakin mengerikan dan mengeluarkan air mata.
"Dan ini, hadiah untuk wanita yang sudah membuat putra-putraku kehilangan ayah!" Zahira menginjak tangan Merry yang sudah patah, kini mengeluarkan darah.
"Aaakhhh...., Papa!" tangisnya seperti akan kehilangan nyawa.
"Zahira!" suara pintu di gedor dari luar, sepertinya Reza menyadari jika Zahira tak ada bersamanya dan mencarinya.
"Tolong!" ucap Merry dengan teriakan kesakitan.
Sementara di toilet laki-laki, beberapa orang yang ingin masuk tampak sedang kesulitan mencoba membuka pintu. Di dalam sana Anwar sedang menangis menahan sakit di dadanya, ia tidak kuat mendengar jeritan putrinya yang sayup terdengar namun jelas sekali jika dia sedang kesakitan.
"Merry! Maafkan Papa!" Anwar terus memegangi dadanya.
Hingga tak lama kemudian pintu berhasil di buka seorang petugas keamanan hotel. Tampak wajah babak belur Anwar sedang meringis, dengan tangannya memegang dada. Mereka semua heboh dan segera membawa Anwar ke rumah sakit.
"Zahira!" Reza terus memanggil hingga beberapa saat kemudian terbuka.
__ADS_1
Hening, Merry-pun tak berani menangis kencang. Reza menatap wajah Zahira yang tampak menatap lurus namun masih tersisa amarah di sana. Tubuhnya lemas dan bibir yang tertutup rapat, dapat di pastikan jika dia sehabis mengamuk, bulir bening jatuh di pipinya.
"Zahira!" Reza segera meraih tubuh yang terlihat kehabisan tenaga itu, memeluknya sangat khawatir.
Merry meringkuk dengan memeluk tangannya, wajah sembab dan ketakutan. Kakinya juga luka memar dan berdarah akibat di injak Zahira.
"Bawa dia ke rumah sakit!" perintah Reza pada beberapa orang petugas hotel, tangan kanan pria itu masih mendekap tubuh lemas Zahira di bahunya.
"Kita keruanganmu." Reza merangkul bahunya masuk ke dalam lift.
Isak tangisnya masih tak berhenti, malah semakin sesak terdengar.
"Kau terluka?" tanya Reza pelan sekali menoleh Zahira yang masih menyandar di bahunya.
Zahira menggeleng, hingga tak berapa lama tiba di ruangan Anggara, ruangan yang kini menjadi miliknya.
Foto pria tampan itu terpajang di dinding atas, senyum tipis yang penuh wibawa. Sekelebat bayangan ketika dia tersenyum dan mencium mesra, memeluk dan memanjakan.
"Aku mencintaimu Zahira sayang, istriku."
Suaranya masih terngiang di telinga, bahkan kecupan hangatnya masih terasa, menempel jelas di kening dan pipi sebelah kiri tempat dimana lesung pipi kesukaannya berada.
"Maaaas!" teriaknya dengan tangis pecah tak bisa di cegah, meraung-raung sepuas hati dengan tenaga yang tersisa. Jatuh dilantai berhadapan dengan foto Anggara. Terdengar pilu, menyayat hati, tak peduli segalanya, saat ini yang dia butuhkan adalah meluapkan semua emosinya dengan menangis sekencang-kencangnya.
Membiarkannya, hanya itu saja yang bisa di lakukan Reza.
Di luar hotel Anggara Jia masih sibuk berkelahi dengan sopir dan bodyguard Anwar, wanita kurus itu mengamuk tak bisa di cegah. Menyerang membabi buta bahkan tak mengizinkan yang lain membantu, dendam dan kemarahan yang sudah lama terpendam kini seperti menemukan pelampiasan. Hingga enam orang anak buah Daniel yang di bawa Anwar itu jatuh pingsan dengan rata-rata memar dan luka di wajahnya.
"Kau sudah puas?" Ricky mendekati wanita yang masih mengepalkan tangan itu, nafasnya masih memburu seakan kekurangan orang untuk di serang.
"Bahkan aku ingin sekali memukulmu!" kesalnya berlalu masuk ke dalam.
Ricky menggeleng dan mengikuti wanita itu masuk kedalam, tampak Radit di sudut ruangan sedang kesana-kemari mencari seseorang.
"Kau melihat Zahira?" Radit bertanya dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1