Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
278. Tempat paling nyaman


__ADS_3

"Aku butuh waktu sebentar." Zahira duduk kembali di kursi empuk kebesaran suaminya.


"Baiklah." Jia kembali keluar, lagi pula di luar masih ada Ricky yang tentunya tak akan pulang jika Zahira belum keluar dari kantor tersebut.


Zahira mulai membuka map bertuliskan nama Radit, perlahan tapi kemudian lembar pertama telah tampak tulisan bercetak tebal, PENANG MALAYSIA.


Zahira semakin penasaran sehingga membuka lembar berikutnya, keterangan medis yang menjelas bahwa Raditya terkena Depresi berat, di rawat selama lebih dari enam bulan. Zahira membacanya dengan serius, hingga beberapa lembar berikutnya.


"Artinya Radit sangat menderita saat itu, jika aku mengalami koma dan hampir meninggal, Radit juga menderita. Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar." gumamnya menarik nafas sesak, tak menyangka akan semua itu.


Tangan halusnya kembali membolak-balik kertas yang susunannya masih tampak lumayan tebal.


Zahira kembali membuka lembaran-lembaran kertas tersebut, semuanya menerangkan perkembangan kesehatan Radit saat di rawat, hingga akhirnya di nyatakan sembuh, hampir bersamaan dengan kepulangan Zahira dari Singapura ketika itu.


Lembaran berikutnya, bertuliskan nama sebuah rumah sakit Jakarta.


"Rumah sakit Jakarta?" Zahira tampak berpikir. "Seingatku Radit tak pernah sakit." Zahira kembali bergumam sendiri, dia sampai lupa waktu membaca lembaran demi lembaran kertas tersebut. Bahkan tidak sadar Jia dan Ricky membuka pintu dan melihatnya sejenak.


"Apa yang dia baca?" tanya Ricky kepada Jia.


"Berkas Tuan Raditya." Jia menatap Ricky begitu juga sebaliknya, mereka sedang memikirkan sesuatu.


"Mungkin memang sudah waktunya." ucap Ricky kemudian, menyandar di dinding ruangan Zahira.


Jia tak menjawab, hanya diam dengan menatap tajam ke sembarang arah. Membiarkan Ricky kembali mengintip di pintu yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Zahira masih tampak serius, tapi kemudian tangan lentiknya terangkat menutup mulutnya yang terbuka dengan mata sendu dan sepertinya dia menangis.


Ricky segera masuk menghampiri, ia sudah menduga itu pasti akan terjadi.


Sejenak tak juga bicara, membiarkan wanita itu menunduk dan menangis.


"Om sudah tau?" tanya Zahira pelan, isaknya mulai mereda tapi dadanya masih naik turun.


Ricky menarik nafas lebih dalam. "Iya." jawabnya kemudian. "Aku yang mencari informasi tentang Radit, semuanya." jelas Ricky lagi.


"Mengapa tidak memberitahukan hal ini padaku? Apakah Papa dan Mama sudah tahu?" tanya Zahira menatap Ricky.


"Ya." jawab Ricky.


Zahira menunduk kembali, dia sedang berpikir jika selama ini dia benar-benar jahat. Sempat menjauhkan anak-anaknya dari Radit, dan memusuhinya ketika dia berkunjung. Tak bisa dibayangkan jika selama ini dia juga sedang memikul penderitaan, dan Zahira dengan seenaknya mengatakan kata-kata yang sudah tentu sering melukai hatinya.


"Lalu mengapa kalian tidak ada yang memberi tahu aku, harusnya aku juga ikut menjaga perasaannya." Zahira menutup berkas di tangannya, sesekali ia mengusap air mata.


"Karena saat itu, kau sedang mengandung. Anggara tidak mau kau banyak berpikir, walaupun sesekali ia merasa bersalah dengan perpisahan kalian, Radit tak sepenuhnya bersalah saat itu." Ricky berbicara pelan.


"Aku tidak menyesali perpisahan kami, karena Mas Anggara benar-benar mencintaiku." jawab Zahira melirik foto yang terpajang di meja tersebut.


"Aku tahu." Ricky meraih kursi dan duduk berhadapan dengan Zahira. "Tapi kau dan Radit juga korban dari seseorang yang terlalu berambisi. Kalian sama-sama menderita, dia tidak bahagia Zahira! Kau lebih beruntung sempat bahagia bersama Anggara, sedangkan Radit sama sekali tidak pernah, dia masih menyesali perpisahannya denganmu hingga saat ini."


Ucapan Ricky membuat bening mata Zahira menatapnya.

__ADS_1


"Dia tidak pernah jatuh cinta selain kepadamu. Sama seperti suamimu, dia hanya mencintai Ibumu hingga dia menemukanmu dan menjadikan dirimu cinta terakhirnya, dan maut menjemputnya demi dirimu."


"Om." Zahira menangis kembali, walaupun entah dia sedang menangisi apa, tapi saat ini hatinya kembali terluka.


"Seseorang hidup untuk memenuhi janji yang sudah kita terima sebelum kita dilahirkan. Dan saat semua sudah lunas maka selesai juga hidup kita. Lihatlah sekarang kita masih hidup, bernafas dan sehat. Itu karena masih banyak tugas yang belum kita selesaikan, termasuk membuat orang-orang di sekeliling kita bahagia."


Zahira menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.


"Tempat yang paling nyaman untukmu adalah kembali kepada keluargamu Zahira, ibumu, ayahmu, Radit saudara sekaligus orang yang selalu mencintaimu. Yakinlah anak-anakmu akan mendapatkan kebahagiaan yang utuh. Tidak ada yang menolak mereka di rumahmu, tidak ada seorangpun yang akan membenci mereka di keluargamu. Mereka akan aman, mereka akan bahagia, kau akan mendapatkan keluarga seutuhnya, walaupun tanpa Anggara." jelas Ricky menyadarkan Zahira.


"Aku tidak mau menggantikan suamiku dengan siapapun Om, dia adalah segalanya." Zahira berbicara dengan air mata yang kembali mengalir deras.


"Kau tidak menggantinya Zahira, dia akan tetap di hatimu. Semua orang tahu itu, dan kalian sudah terikat dengan dua putra kebanggaannya. Merekalah harta Anggara yang sebenarnya, dia sangat menginginkan mereka hadir ke dunia ini melalui dirimu, dan keinginannya sudah terpenuhi."


Zahira benar-benar pilu mengingat kehilangan itu, tapi kini kesedihannya bertambah lagi dengan kenyataan bahwa Radit juga tidak baik-baik saja. Rasanya ingin meraung-raung sekuat tenaga. Apalagi mengingat Ayu dan David, dua orang itu saat ini pasti sedang di rumahnya, menjaga dan menyayangi Satria dan Sadewa.


"Kita pulang." ucapnya meraih tas dan meninggalkan semua berkas di atas mejanya. Dia sudah tidak peduli, yang paling penting baginya adalah segera pulang dan bertemu kedua orang tuanya yang selalu menyayangi tanpa lelah, hingga sudah dewasa dan menikah mereka masih saja selalu ada.


Mungkin sekarang waktunya membuat mereka bahagia, membalas kasih sayang yang selalu di terima tanpa pernah mereka meminta balasannya. Pria yang selalu memanjakan dan sempat sakit jantung gara-gara kehilangannya, juga wanita yang menanggung banyak beban karena selalu menyayangi dia dan anak kandungnya, berusaha selalu adil, berusaha selalu kuat, berusaha selalu baik-baik saja. Tak hanya air mata, namun hatinya mungkin lebih hancur ketika kedua anak yang di besarkannya harus berpisah. Zahira sudah tidak sabar bertemu mereka.


Jia mendampinginya masuk ke dalam lift hingga kemudian menuju mobil bersama Ricky yang akan mengantar dengan mobilnya di belakang.


"Aku ingin segera sampai Jia." ucap Zahira mengusap air mata di pipinya.


"Iya." Jia menyalakan mobilnya dan mulai melaju, membiarkan Zahira menyandar dengan menatap langit yang mulai gelap, suara Adzan berkumandang merdu menandakan Malam telah datang.

__ADS_1


Zahira membuka ponselnya yang sempat berdering.


Nama Reza tertera di sana, setelah kejadian hari itu dia tak pernah muncul lagi. Tapi semuanya itu menyadarkan Zahira bahwa tempat yang paling aman dan nyaman untuknya adalah rumahnya sendiri. Tidak ada mertua di sana, tidak ada kata-kata ayah sambung di dalamnya, tidak akan ada kecemburuan di sana, tidak ada yang akan saling menyakiti di dalamnya, seperti kata Ricky.


__ADS_2