
Beberapa hari di rumah sakit, kondisi Merry mulai membaik. Namun trauma akan melihat hantu yang dianggap halusinasi oleh dokter masih terus membuat Merry terkadang ketakutan dan waspada dengan keadaan sekitarnya.
"Siapa dia Papa?" Merry menatap seorang pria yang di bawa ayahnya sengaja untuk menjaga Merry mulai saat ini.
"Dia akan menjagamu setiap waktu, di rumah atau dimana saja." jawab Anwar meminta seorang Asisten rumah tangga juga mengemasi barang Merry, hari ini dia akan kembali pulang ke rumahnya.
"Tapi aku tidak butuh dia." tunjuknya pada laki-laki bodyguard pilihan Anwar.
"Lalu kau menginginkan anak David? Itu sama sekali bukan pilihan Merry. Tetaplah dengan kehidupan kita seperti biasa, jangan membawa orang asing ke dalam rumah." Anwar kembali mengingatkan.
"Dia bukan orang asing! Dia akan menikahi ku Papa!" rengek Merry membantah.
"Kau terlalu mudah percaya dengan rayuannya. Jika benar-benar serius harusnya di datang saat ini." Anwar menatap kesal dengan putrinya itu.
Terdengar pintu di buka.
"Radit!" Merry berdiri cepat dari ranjang rumah sakit langsung memeluk Radit.
"Kau sudah sembuh?" tanya Radit melirik Anwar yang tampak membuang muka.
"Ya, aku rindu padamu." rengeknya masih memeluk Radit.
Senyum sinis yang nyaris tak terlihat terbit dari bibir merah Radit, tentu Raditya memahami keadaan jika mantan mertuanya sangat tidak suka, dan lagi ada seorang bodyguard sengaja untuk mengawal putrinya, sebisa mungkin Radit harus menghindari, atau mungkin bisa beradu otot suatu saat nanti.
"Ayo kita pulang, aku sengaja menjemputmu." Radit tersenyum sedikit, merangkul Merry yang tampak begitu manja.
Memperoleh tatapan tajam dari Anwar dan seorang bodyguard tak membuat nyali Radit menciut, pria tampan itu tetap menggandeng Merry masuk ke dalam mobilnya.
"Mengapa kau ikut!" Merry kesal sekali pada bodyguard baru itu.
Diam tak menjawab, hanya menunjukkan wajah datar dan masuk ke mobil Radit duduk di belakang Merry.
"Menyebalkan!" ucap Merry kesal, namun kemudian tak mempedulikan setelah mobil melaju, Merry menyandar di bahu Radit.
"Kemana saja selama tiga hari kau tidak datang menjenguk ku?" tanya Merry masih tak mau menjauh.
"Aku bekerja." Jawab Radit singkat.
__ADS_1
"Bekerja sampai melupakan aku?" Merry mendongak wajah tampan Radit yang tak juga meliriknya tetap fokus pada jalanan.
"Aku tidak lupa, buktinya aku datang hari ini, aku tidak meninggalkanmu begitu saja, tetap mencari kabar darimu dan tahu jadwalmu kembali ke rumah."
"Darimana kau tahu?" tanya Merry lagi.
"Aku sempat datang di hari pertama kau dirawat, tapi pagi itu Ayahmu kesal sekali melihat aku. jadi ku putuskan untuk pulang dan meminta informasi dari seorang suster yang merawatmu." jelas Radit sangat meyakinkan.
"Papa jahat!" suara Merry terdengar sedih.
"Dia ayahmu." jawab Radit lagi.
Memejamkan mata hingga kemudian terlelap, bahu Radit memang menenangkan.
Sesekali Radit melirik laki-laki yang sejak tadi belum buka suara, usia sekitar tiga puluhan seumuran dengan Reza Mahendra. Sepertinya Anwar mencurigai hantu yang di ceritakan anaknya. Jika benar seperti itu, artinya tidak bisa lagi menakut-nakuti Merry dengan menyamar sebagai Anggara.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di kediaman Merry. Radit keluar lebih dulu dan membuka pintu untuk menggendong Merry.
"Tidak perlu!" akhirnya bodyguard itu buka suara, tangan besarnya mencegah Radit dan bergerak meraih tubuh Merry yang tertidur.
Radit tak keberatan, membiarkan laki-laki itu menggendong mantan istrinya. Dengan langkah tenang dan wajah tanpa dosa Radit juga ikut masuk ke dalam rumah Merry.
"Sebaiknya kau pulang, putriku ingin istirahat." Anwar mencegah Radit.
Radit tersenyum penuh arti, tentu ia menunggu Anwar mengusir dirinya, agar tidak terlalu mencurigakan.
"Katakan padanya untuk menghubungiku besok malam, jika ingin hadir di perayaan hotel Anggara." pesan Radit dengan nada tenang dan sedikit sombong.
"Dia tidak butuh dirimu!" marah Anwar dengan mata mendelik tajam.
"Buktinya dia selalu memintaku datang." senyum Radit semakin membuatku Anwar emosi.
"Sebaiknya kau jauhi putriku, aku tahu kau tidak bersungguh-sungguh dengan hubungan ini." geram Anwar lagi.
"Aku tidak bisa! Jika kau bisa menjauhkannya dariku? Silahkan saja!" jawab Radit seolah menantang.
"Ingatlah bahwa masih ada aku, aku tidak akan tinggal diam jika putriku dalam bahaya!" Anwar mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Aku tahu, sejak dulu kau hanya bisa melindungi dirinya, tanpa peduli salah dan benar, sehingga sampai saat ini hidupnya menjadi semakin sulit. Harusnya kau tidak seperti itu Tuan Anwar! Rasa sayangmu padanya menjadi penyebab kehancuran dirinya sendiri. Kau pikir dia menjadi seperti sekarang karena apa?" tanya Radit seakan memberi teka-teki.
"Aku yakin kau tahu sesuatu." ucap Anwar sangat khawatir.
"Yang aku tahu putrimu masih sangat ingin bersamaku. Dan jangan lupa, dia tidak akan percaya dengan pak tua tidak berguna seperti dirimu." ucap Radit pelan, namun penuh tekanan.
"Aku akan menghabisi siapapun yang akan membahayakan putriku!" Anwar benar-benar marah.
"Kau menuduhku berbahaya? Bukankah kami sering berdua? Jika aku mau sudah lama putrimu meregang nyawa di tanganku. Tapi tidak terjadi bukan?"
"Aku tetap tidak percaya padamu! Pergilah dan jangan kembali lagi!" usirnya lagi.
"Tentu saja aku akan pergi, dan akan kembali jika putrimu meminta." Radit tersenyum menang, melenggang pergi tanpa merasa takut dengan kemarahan Anwar.
"Aku harus mengawasinya." nafas di dada tua Anwar semakin terlihat naik turun tak beraturan.
Sementara Radit kembali melaju, kini menuju sebuah Cafe. Wajah tampannya tampak sedang berpikir, sepertinya ada yang penting sehingga dengan segera ingin bertemu seseorang.
"Hei, cepat sekali kau datang?" Reza baru saja tiba dan belum lagi masuk ke dalam Cafe, Radit juga sudah berdiri di belakangnya.
"Kita perlu bicara!" Radit mengajak Reza masuk ruangan VIP.
"Ada apa?" Reza juga sudah tidak sabar.
"Aku baru saja dari rumah Merry." Radit memesan minuman juga Reza.
"Lalu?" Reza tampak serius.
"Anwar sudah curiga. Dia melarangku datang menemui anaknya, dan meminta seorang bodyguard menjaga Merry." jelas Radit.
Reza masih menyimak, menunggu minuman selesai di letakkan pelayan Cafe.
"Dan kau tidak bisa lagi menjadi hantu!" ucap Radit lagi.
"Kita akan merubah rencana, Ricky bilang akan mengundang Anwar pada perayaan hotel besok malam, dan kita akan menyerang ke rumah Anwar. Jika orang-orang Anggara sudah berkumpul, maka semuanya akan lebih mudah. Kau mengawasi Merry, aku dan Jia akan bersama Zahira."
"Kau memanfaatkan keadaan! Curang sekali, aku harus menghadapi rengekan menyebalkan dari wanita itu, sementara kau asyik berdekatan dengan Zahira!" kesal Radit meninggikan suaranya.
__ADS_1