Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
50. Maafkan Aku


__ADS_3

"Jika kau mencintaiku, kau tidak akan sampai menduakan aku, kau membohongiku seakan aku adalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, seolah aku hanyalah pajangan kesayanganmu yang bisa kau alih posisikan kemana saja sementara kau diam-diam bermain hati di luar sana, memberikan cintamu untukku lalu padanya, kau jahat Radit, kau tega sekali padaku."


"Aku tidak pernah membagi cintaku pada orang lain, aku hanya terjebak dengan hal yang sama sekali tidak aku inginkan. Dia menipuku dan menjebak ku, bahkan aku tidak pernah menyentuhnya Zahira." Radit berusaha menjelaskan.


"Tidak menyentuh bagaimana Radit? Sampai dia hamil Tiga bulan kau bilang tidak pernah menyentuhnya, lalu bagaimana dia bisa mengandung anakmu? Mana mungkin benihmu bisa tumbuh begitu saja tanpa melakukan hubungan dengannya. Kau pembohong, penghianat, kau menjijikkan Radit, kau menyakiti ku, aku benci padamu!" Teriaknya penuh emosi, Zahira berlari menuju kamarnya, dia tak memberi waktu Radit untuk mendekatinya.


"Zahira tunggu! Aku tidak seperti itu, aku hanya mencintaimu saja, aku tidak mau kehilanganmu." Radit mengejarnya hingga ke kamar namun pintu itu tertutup Rapat, berkali-kali Radit memintanya membuka pintu tetap sia-sia Zahira sungguh tak ingin bertemu.


"Zahira maafkan aku." ucapnya sedih, suaranya bergetar menahan kesedihan dan putus asa. Tubuh gagahnya terduduk lemas di depan pintu, ia tidak mampu menahan beban dan sesak atas semua yang sudah terjadi, sungguh Radit tidak mau semua berakhir seperti ini, sungguh ia tak pernah menginginkan anak dari seorang Merry, dia bahkan tidak pernah berpikir akan memiliki wanita selain Zahira, hatinya hanya di penuhi Zahira saja, sejak kecil hingga besar ia tak pernah memikirkan wanita manapun, seluruh hidupnya hanya ingin di habiskan bersama Zahira selamanya.


Tapi


Hal yang sangat di takutkan Radit sudah terjadi Zahira marah dan kecewa, Radit tidak tau harus bagaimana, bahkan membuang Merry pun belum tentu bisa membuat Zahira memaafkannya. Lalu apa? Apa yang bisa menyelamatkan pernikahannya? Dia salah mengira semua sudah baik-baik saja.


Hingga beberapa saat masih tak berhasil membuat Zahira membuka pintu. Radit beranjak dari duduknya dengan mata merah dan wajah kusut, terdengar deru mobil di bawah sana membuat ia ingin tahu siapa yang datang.


"Selamat sore pak David." Sapa pria itu datang dengan raut wajah pucat dan sepertinya dia sedang takut.


"Duduklah, aku ingin bicara denganmu." David berbicara serius.


Radit yang baru saja menuruni anak tangga sejenak ia menghentikan langkahnya melihat siapa yang datang.


"Apa benar Radit putraku sudah menikah dengan putrimu?" tanya David tanpa basa-basi, terlihat jelas dada pria Empat puluhan itu menahan emosi.

__ADS_1


Pria itu diam tak langsung menjawab, namun akhirnya Radit datang dengan langkah pelan dan takut, pria muda dan tampan itu mendekati David dan ayah mertua dari istri kedua itu, sementara Ayu masih duduk tak henti menangis.


"Jawablah, jangan sampai kesabaran ku habis karena ulah kalian." David melihat pria paruh baya itu dan Radit bergantian.


"Benar pak David." jawabnya singkat.


David seakan mendapat tembakan di dadanya, dia tak menyangka mendapatkan kebenaran seperti itu, putra semata wayang yang sangat ia banggakan malah sedang menghancurkan keutuhan keluarganya, mencoreng nama baik, harga diri David dan Ayu sebagai pemimpin dua perusahaan besar.


"Maaf Papa, kejadiannya tidak seperti yang Papa pikirkan. A_"


Sebuah pukulan mendarat sangat pas sekali di wajah tampan Radit, tangan besar David membuat bibir merahnya pecah dan berdarah.


Pukulan yang membuat Radit terpaksa mundur beberapa langkah, namun tak cukup sampai di situ saja, David meraih kerah baju putranya dan melayangkan tinju besarnya sekali lagi. Kali ini ia terduduk, sungguh sakit di pukul hingga biru dan berdarah, tapi ia di paksa berdiri, David tak membiarkannya jatuh menikmati rasa sakit sejenak saja.


Radit menatap David dengan rasa sedih dan juga menahan perih di sudut bibirnya, matanya berembun tak menjawab apa-apa.


"Jawab Radit! Jawab aku apa rasanya sakit?" David berteriak penuh emosi.


"Iya Papa." jawabnya pelan, setetes bulir bening keluar di sudut mata.


"Istrimu lebih sakit dari ini, dia lebih sakit dari ini!" David membentak dan mencengkeram sekuat tenaga, ingin sekali ia menghajarnya hingga tak berdaya.


"Pak David, bukan Radit yang salah tapi putriku. Dia yang menjebak putra Anda dan memberikan sesuatu di minumannya, hingga semua ini terjadi dan menghancurkan semua. Dalam hal ini akulah bersalah." ucapnya dengan menunduk hingga ia bersimpuh di kaki David. "Aku mohon, jangan menyakiti putra anda sendiri, aku sudah membuang anakku, aku tidak membelanya namun iya! Aku yang menikahkan mereka karena saat itu Merry sedang mengandung enam Minggu. Tapi demi apapun aku tidak meminta hal lain hanya sekedar akad di hari itu, aku cukup tahu diri_"

__ADS_1


"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu!" David membentak pak Anwar hingga membuat pria itu tersentak.


Ayu beranjak dari duduknya dan perlahan melepaskan cengkeraman tangan David, kedua pria itu tampak sama-sama mengeluarkan air mata dengan tatapan yang berbeda.


"Pergi dari sini!" David mengusir putranya.


"Tidak Papa, aku tidak akan pergi meninggalkan istriku di dalam sana, dia sedang menangis, dia sedang tidak baik-baik saja." Radit memohon.


"Dia menangis karena dirimu, untuk apa kau peduli jika awalnya adalah kesalahanmu." David masih terlihat marah.


"Sudah ku bilang bukan keinginanku Papa, tidakkah Papa bisa mendengarkan penjelasanku? Hari itu aku akan belajar bersama dengan Merry dan teman yang lain Papa, tapi aku terjebak dan Merry memanfaatkan aku. Aku tidak bisa menolak dalam keadaan tidak sadar Papa!" Radit berharap David bisa mengerti, dia terus memohon.


"Masuk ke kamarmu." Ayu angkat bicara dan mencoba memahami keadaan.


"Kenapa kau membiarkannya tetap disini, itu terjadi karena dia memberi kesempatan!" David juga menatap kesal pada Ayu.


"Dia anak kita juga David." ucapnya setengah berbisik.


"Dan kau, pergi dan jangan pernah perlihatkan wajahmu, juga putrimu." David mendengus kesal meninggalkan Anwar yang masih duduk di lantai dengan berlutut.


Sore menjelang Maghrib, keadaan rumah David kacau dan mencekam, setiap orang sibuk dengan pikiran dan kesedihan masing-masing, tak terkecuali Zahira. Dia hanya diam menyandar di kamar miliknya, di bahkan bingung harus berbuat apa, rasa kecewa itu sungguh menghancurkan hatinya.


"Zahira anak Papa!"

__ADS_1


Terdengar suara berat itu di balik pintu. Zahira menoleh, ingin sekali bertemu dan memeluk pria yang sudah membesarkannya, tapi? Dia beranjak membuka pintu, dan langsung melihat pria tampan dengan banyak bulu di wajah itu sedang menatap sedih padanya.


__ADS_2