
"Kau mau memukulku di sini?" Anggara tersenyum memaksa, telunjuknya mengarah pada Zahira.
Radit membuang muka dengan berusaha meredam amarah yang sudah di kepala. Ia tahu jika Zahira tidak akan suka melihat ia berkelahi dengan Anggara.
Anggara berlalu menyusul istrinya tidak mau terlalu lama jauh dari Zahira. Tak peduli jika di belakangnya Radit memukul udara dengan sepuas hati.
"Mas!" Zahira menghentikan langkahnya saat di depan sana melihat beberapa anak buah suaminya sedang membawa seseorang laki-laki muda dengan kedua tangan di pegang dan terikat.
"Itu teman Radit dan juga istrinya." jelas Anggara memeluk Zahira di bahu.
"Dia yang menabrak mobilku?" tanya Zahira, meski tak perlu di jawab, matanya menatap wajah pria yang melangkah dan mendekati mereka. Pucat, lusuh, terlihat menyedihkan.
"Iya." jawab Anggara singkat.
Semakin dekat beberapa orang itu dan kemudian berlalu tanpa luput dari penglihatan Zahira.
"Berhenti!" perintah Zahira.
Tentu saja mereka berhenti, bahkan berbalik menghadap Zahira. "Iya Nona." jawab seorang yang paling besar dan menunduk.
"Kau sahabat Radit bukan?" tanya Zahira pelan, matanya menatap Vino.
Vino menunduk, tak berani membalas tatapan Zahira walaupun sebenarnya ia ingin sekali meminta maaf.
"Sayang, sebaiknya tak usah pedulikan dia. Bukankah saat ini Tuhan sudah membalasnya?" Anggara meraih bahu Zahira dari depan, ia memaksanya untuk meninggalkan Vino.
Mereka masuk ke dalam ruang rawat Merry, di sana suasana hening dan sedih langsung terasa. Namun sayangnya Vino tak melihat seorang bayi di sana, yang ada hanyalah Merry dengan luka perban menempel di bagian kepala juga tangan yang di balut lumayan tebal.
"Merry!" panggil Vino pelan, bahkan bola matanya belum berkedip.
Merry menoleh, dan sungguh terkejut ketika melihat Vino yang datang. "Kau?" tanya Merry dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Dimana bayimu?" tanya Vino.
Merry tak menjawab malah ia menangis, wajah yang kesakitan itu tampak putus asa.
"Merry, dia bayi kita bukan? Dia anakku?" tanya Vino lagi, masih tak mendapat jawaban.
Vino duduk ketika tangannya sudah di lepas dari ikatannya. Sungguh ia penasaran ingin tahu tentang anak Mery yang diyakini adalah anaknya.
"Benar! Dia anak kalian berdua." Radit masuk dan berdiri di dekat Vino. "Jangan bangga, aku ada di sini bukan untuk memperebutkan wanita seperti dirimu. Lagi pula hasil tes DNA sudah cukup untuk menjawab semua yang tidak ku ketahui." ucap Radit tenang.
"Radit!" panggil Merry, lirih namun terdengar sedih.
"Saya! Raditya Jovanka, menjatuhkan talak kepada istri saya, Merry Sandra binti Muhammad Anwar. Mulai saat ini kau bukan lagi istriku." ucap Radit lantang.
"Tidak Radit!" pekik Merry setengah tertahan air matanya jatuh membasahi pipi.
"Laura sudah meninggal, terlepas dari dia anakku atau bukan, aku tetap menyayanginya. Sekarang kau bebas, juga jika ingin melanjutkan hubungan kalian." Radit berbalik tak ingin berlama-lama di dalam sana.
"Karena kekasihmu yang membawanya kabur, melarikan dari dari aku dan semua orang."
"Seandainya kau bisa memaafkan Merry, mungkin Laura tidak akan meninggal." ucap Vino mengejutkan Radit.
"Kau masih bisa menyalahkan aku setelah semua yang kau lakukan pada istriku Zahira? Dan kau juga penyebab kematian temannya. Ku rasa Laura tak ingin hidup lebih lama, karena memiliki orang tua yang jahat, dan memiliki pemikiran aneh seperti kalian. Memalukan!" Radit keluar tanpa mau melanjutkan pembicaraan bodoh itu.
"Radit!!" Merry semakin menangis walaupun percuma, tak berguna karena talak sudah ia terima.
"Aku bahkan belum pernah melihatnya." lirih Vino sedih, pria itu hanya pernah menyayanginya saat Laura masih di dalam kandungan. Ketika mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama ketika Radit tidak peduli padanya.
Hari dimana mereka akan belajar bersama, tiba-tiba Merry menghubungi semua temannya dan membatalkan jadwal belajar, saat itu Vino juga menerima telepon dari Merry. Namun karena ia tidak memiliki kesibukan maka ia putuskan untuk tetap datang ke rumah Merry, ia ingin datang walaupun hanya sekedar mengobrol saja.
"Merry!" panggil Vino saat itu.
__ADS_1
Namun tak mendapat jawaban sehingga ia masuk ke dalam selangkah demi selangkah. Vino melihat ke kiri dan ke kanan sepertinya rumah sedang kosong. Namun semakin ke dalam ia melangkah, malah mendengar suara tangisan dan barang yang jatuh. Ia mendekat dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Merry!" panggil Vino ketika melihat kamar terbuka, berantakan dan Merry sedang menjerit-jerit. Vino segera masuk, tapi ia benar-benar terkejut ketika melihat Merry mengamuk tanpa memakai pakaian. Vino meraih selimut dan menutup tubuh polos Merry, sekalian ia memeluk dan menenangkannya.
"Ada apa denganmu Merry?" tanya Vino saat sudah memeluk Merry erat.
"Radit!" jawab Merry masih menangis.
"Kenapa dengan Radit, apa dia yang melakukan ini?" tanya Vino, ia tidak yakin karena di sekolah sahabatnya itu tidak agresif kepada gadis-gadis.
"Dia melakukannya, tapi dia bilang padaku untuk melupakan dan tidak mengingat semuanya." Merry kembali tersedu-sedu.
"Mengapa bisa seperti itu, bukankah dia orang baik, bahkan tidak pernah mendekati siapapun di sekolah." Vino menatap wajah Merry.
"Aku menginginkannya." jawab Merry jujur.
Vino semakin tak percaya dengan pengakuan Merry, ia tak habis pikir jika sampai harus melakukan itu dengan Radit yang belum lama di kenalnya. Walaupun terlihat baik, tetap saja jika tindakan Merry terlalu berani.
"Lalu sekarang bagaimana? Tentu jika Radit bilang tidak mau mengingat ini semua, berarti dia tidak menyukaimu Merry." jelas Vino.
"Tapi aku menginginkannya Vino, aku mau dia menjadi milikku, dia sudah menghinaku dan membandingkan dengan seseorang yang tidak ada apa-apanya. Dia tega sekali menganggap remeh diriku, bagaimanapun caranya dia harus menikahi aku." Merry menatap Vino, ia tahu jika Vino menyimpan perasaan padanya bahkan sejak lama.
"Bagaimana caranya Merry? Jika dia sendiri tidak mau." Vino semakin heran dengan sikap ngotot Merry.
"Aku akan hamil, anak Radit!" ucapnya pelan di tengah isakan tangisnya yang mulai mereda.
Vino tak menjawab, hanya bisa pasrah dan menarik nafas untuk tidak lagi berkomentar tentang keinginan Merry, namun rasanya nyaman sekali saat bisa memeluk wanita itu, meskipun di balut dengan selimut tebal.
Hari-hari berlalu, ketika itu Merry masih terus berusaha mendekati Radit, dan mengingatkan bahwa mereka sudah melakukan itu semua. Seperti sia-sia, Radit tetaplah keras kepala, ia tidak suka, bahkan terkadang jawaban dari mulut pria tampan itu semakin menyakitkan hati Merry.
Hingga di suatu malam pesta perayaan di hotel Anggara, Merry datang dengan gaun indah selutut, juga riasan dari salon ternama, dia sangat cantik sekali menurut Vino. Namun tak lama ia datang di acara mewah itu, Merry keluar dari hotel besar itu dengan menangis.
__ADS_1