Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
53. Dia menghilang


__ADS_3

"Tidak ada Tuan David, Tuti bilang Non Zahira menginap di rumah Tuan David!" jawab satpam senior itu.


"Iya, tadi pagi dia ke kampus dan belum pulang." seakan tak percaya David masuk ke dalam rumah untuk memastikan keberadaan Zahira, ia mencarinya di atas hingga ke kamarnya namun benar, Zahira tak ada.


"Sayang Zahira tak ada di sini." David menghubungi Ayu dan langsung memberitahukan keadaan di rumah itu.


"Lalu bagaimana David, kemana dia pergi?" suara Ayu terdengar sangat khawatir.


"Aku akan mencarinya di rumah ibu, atau di apartemen milik ibunya." jawab David masih berpikiran baik, walaupun sebenarnya ia sangat takut terjadi sesuatu pada putrinya.


"Semoga saja dia ada di salah satu tempat itu." jawab Ayu penuh harap.


"Iya." David memutuskan panggilan teleponnya dan segera keluar, melajukan kembali mobilnya menuju apartemen Reva, jarak perjalanan menuju ke sana hampir satu jam. Sesekali ia mencoba menghubungi Zahira namun ponselnya tidak aktif, membuatnya semakin khawatir memikirkan keadaan Zahira.


Dan, hingga tiba di apartemen itu tetap tak menemukan Zahira, lama ia menunggu mencoba mencari jejak mungkin ia pernah datang ke sana. Tapi percuma apartemen itu sudah kosong sejak lama, hingga ia berpikir tempat terakhir yang mungkin di kunjungi Zahira adalah rumah neneknya, tentu itu kemungkinan yang paling benar, Zahira sering datang ke rumah itu bersama Ayu atau Radit untuk melihat keadaan dan melepas rindu saja.


Mengingat hal itu, Zahira kecil akan selalu suka bila di ajak berkunjung ke rumah ibu karena ada banyak bunga di taman depan. Zahira kecil akan memetik sekian banyak bunga dan mengumpulkannya dalam satu wadah, dia akan tertawa senang melihat bunga yang begitu banyak dengan berbagai macam warna.


Tiba di rumah nostalgia itu, David masuk dan menemui asisten rumah tangga yang masih bekerja di sana. Namun lagi-lagi Zahira tidak ada, bahkan dia tak pernah datang ke sana dalam waktu yang cukup lama.


David meremas rambutnya, dia sungguh bingung mencari keberadaan anak sekaligus menantu tersebut. David duduk sejenak menyandar lelah di sofa ruang tamu sambil kembali berpikir dimana anak itu berada, hingga akhirnya menyerah untuk sementara dan pulang menemui Ayu.


Sementara di rumah, Radit baru saja pulang dengan wajah kusutnya, pria itu masuk dan langsung menaiki tangga.


"Radit! Apa hari ini kau bersama Zahira?" tanya Ayu.


Pertanyaan itu menghentikan langkahnya, pria itu berbalik dan kembali turun mendekati Ayu. "Bukankah dia bersama Mama? Dan Papa tidak memberitahuku tadi pagi." jawabnya dengan heran juga merasa khawatir.


"Dia pergi ke kampus, tapi tidak pulang dan tidak ada di rumahnya." jawab Ayu cemas.


"Apa? Lalu dia kemana Ma?" Radit mulai gelisah, hatinya di selimuti kekhawatiran.


"Kita tunggu Papamu, mungkin saja dia sudah menemukan Zahira di rumah ibu atau barangkali di apartemen." Ayu kembali duduk dan memijat keningnya, dia tak bisa membayangkan jika sampai kehilangan Zahira.


Tak lama setelahnya terdengar deru mobil dan langkah kaki yang masuk terburu-buru, tampak David datang dengan wajah tegangnya.


"David! Bagaimana, apa kau sudah menemukan Zahira?" Ayu sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.

__ADS_1


"Belum." jawabnya lemas, duduk dan menyandar lelah di sofa empuk itu.


"Seandainya Papa memberi tahuku tentang keberadaan Zahira tadi pagi, kita tidak akan kehilangan dia." Radit yang duduk diam ikut menyahut dan mengungkapkan kekesalannya.


David kembali mengangkat kepalnya yang sedang menyandar istirahat, dia sungguh marah mendengar ucapan Radit padanya.


"Kau menyalahkan aku?" tanya David menatap tajam padanya.


"Memang benar kan, jika saja aku menyusulnya ke kampus tadi pagi dia tidak akan menghilang!" Radit tampak kesal.


"Dia pergi sebab ulahmu, apa kau masih belum sadar juga?" David sungguh emosi dibuatnya.


"Tapi Papa juga salah?" Radit kesal dan bingung, ia beranjak meraih kunci mobil.


"Kau menyalahkan aku, lalu kau yang menikah diam-diam membohongi Zahira itu bukan kesalahan?" teriak David marah.


"Aku akan mencari istriku!" jawabnya melangkah menuju pintu.


"Aku tidak yakin kau akan menemukannya." ucap David sinis.


"Aku suaminya, aku akan mencarinya sampai dapat walaupun harus ke ujung dunia." jawab Radit geram.


Radit pergi walau entah ia akan mencarinya kemana, pria berharap bisa segera menemukan dan membawanya pulang, dia sungguh merindukan istrinya, ingin sekali memeluknya erat dan tidak melepasnya lagi selamanya.


*


Dua gadis muda itu duduk melamun di teras rumah yang di penuhi tanaman hias, keduanya terlihat tak mau beranjak dan tetap dengan posisi masing-masing, yaitu duduk saling membelakangi.


"Kalian berdua sedang apa?" wanita cantik berumur tiga puluhan itu mendekati mereka.


"Hanya duduk Mama." jawab gadis berambut panjang itu.


"Boleh Mama ikut bergabung?" tanyanya lagi, membuka jas putih khas dokter itu dari tubuhnya.


"Tentu saja." jawab Zahira lembut.


"Apa kau masih bersedih memikirkan tunanganmu kemarin itu Zahira?" tanya Dokter itu lagi.

__ADS_1


"Tidak, hanya aku sedang ingin berpikir jernih berusaha mendapatkan keputusan yang baik." Zahira berusaha tersenyum.


"Sudah jelas dia bukan yang terbaik Zahira, lebih baik kau tinggalkan saja." jawabnya meyakinkan Zahira.


"Sebenarnya kami bukan hanya bertunangan, tapi aku adalah istri sahnya." ungkap Zahira.


"Hah!"


Kedua orang ibu dan anak itu begitu terkejut, terlebih lagi Ana.


"Kau serius Zahira?" tanya Ana masih tak percaya.


"Iya." jawabnya pelan.


"Artinya dia membohongimu?" Ana jadi kesal mendengar kenyataan bahwa mereka sudah menikah.


"Itu sebabnya aku sangat terluka, rasanya sungguh sakit." Zahira menunduk lemah, hatinya kembali sesak dan mulai menangis.


"Kau harus sabar Zahira, jalanmu masih panjang." Dokter itu mengelus bahu Zahira.


"Aku tau Dokter, tapi saat ini rasanya duniaku hancur, dan tak mampu untuk melakukan apa-apa. Ingin sekali rasanya aku pergi jauh dari dunia ini."


"Itu salah satu bentuk putus asa sayang." sahutnya lagi.


Zahira terdiam, mungkin iya, dia sedang putus asa.


"Nyonya, ada orang yang datang mencari, katanya ingin berobat." satpam rumah itu memberitahu, benar saja di depan gerbang ada dua orang yang ingin masuk.


"Biarkan mereka masuk, mereka butuh pertolongan." jawabnya, diangguki satpam muda itu.


"Ini sudah malam Ma." Ana melihat jam tangannya.


"Kita bantu sebentar sayang." jawabnya, meminta dia orang yang datang itu untuk mengikutinya ke ruangan khusus.


"Ayo Zahira kita lihat mereka." ajak Ana pada sahabatnya.


Zahira mengikuti, ia juga ingin tahu sakit apa yang sedang di derita dua orang yang datang itu, sepertinya cukup parah.

__ADS_1


"Bu, Anda terkena asam lambung yang cukup berat. Selain minum obat, makan harus teratur dan istirahat yang cukup. Satu lagi yang paling penting, jangan banyak pikiran ya Bu, stres juga salah satu penyebab naiknya asam lambung, pikirkan hal yang indah-indah saja, hidup hanya sekali, jangan di buat makan hati." Dokter itu mengajaknya bercanda.


__ADS_2