Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
130. Memohon 2


__ADS_3

"Tidak Tuan Anggara, aku benar-benar memohon padamu untuk tidak memenjarakan putriku, Aku akan menjamin bahwa putriku tidak akan mengulangi kesalahannya lagi, aku berjanji." ucap Anwar bersungguh-sungguh.


"Kau memang tidak akan mengulanginya lagi, lagi pula Zahira ada bersamaku siapa yang berani menyentuhnya?" sengaja Anggara membuat pria itu semakin takut.


"Tuan Anggara, aku benar-benar meminta belas kasihanmu, tolong beri putriku kesempatan untuk berubah. Aku yakin sekali dia tidak bermaksud mencelakakan istri Anda. Aku berani bersumpah." kali ini Anwar berlutut di hadapan Anggara, pria itu sampai menjatuhkan air mata.


"Sumpahmu sudah tidak berguna sekarang ini, aku tidak akan merubah keputusanku untuk tetap menghukum putrimu. Aku tidak suka ada orang yang menyentuh istriku, atau berniat mencelakakan istriku. Dan aku tidak akan memberi harga murah untuk teman istriku, dia kehilangan nyawa akibat ulah anakmu yang kau manjakan itu."


"Tentu saja, dan karena ulah anak kesayanganmu aku harus berpisah dengan Zahira."


Radit melangkah mendekati Anwar mertuanya, membuat pria tua itu semakin tersudut, sungguh dalam posisi ini ia sudah tidak sanggup untuk hidup. Rendah, hina dan malu, itu menghampirinya bersamaan. Di hadapan Anggara, juga di hadapan menantu yang selama ini di harapkan bisa menolong Merry, dengan alasan Laura.


"Maafkanlah dia, lagi pula putriku itu hanya berniat mencelakai Zahira, bukan dia pelakunya." jawab Anwar membela putrinya.


"Semuanya akan mendapat bagian masing-masing. Merry, teman laki-lakinya, dan kau juga." jawab Anggara dengan wajah tenang.


"Tolong dengarkan aku, aku hanya memiliki Merry saja di dunia ini, dan sekarang dia memiliki anak bayi. Tidakkah kau mengasihani putriku?" Anwar memohon pada Anggara. "Laura juga putrimu!" ucapnya pada Radit.


Sudut bibir merah Radit tertarik sedikit, ia merasa aneh dan juga kecewa. Entahlah, apa ia harus senang jika Laura bukan anaknya, atau harus bersedih karena perjuangannya mempertahankan Laura sungguh berat.


"Aku tidak lupa dengan Laura, tapi aku juga akan selalu ingat jika penyebab kecelakaan Zahira adalah kalian semua." jawab Radit geram.


"Tapi Merry adalah ibu dari anakmu Radit!" Anwar sedikit berteriak.


"Tapi dia juga penyebab semua masalah hidupku, aku digugat cerai istriku, kehilangan dia dan aku menjadi orang gila, kau pikir aku akan membiarkan kalian semua begitu saja? Papa sampai sakit parah karena kehilangan putri kesayangannya, Mama harus terus-menerus menangisi aku dan juga Zahira, dan kau masih meminta aku memaafkan Merry dengan alasan Laura? Aku tidak menyangka kau adalah seorang ayah yang sangat buruk."


"Kau sudah menjadi seorang ayah, bagaimana jika anakmu akan di hukum di balik jeruji besi, apa kau akan diam saja?" tanya Anwar pada Radit.


"Tentu saja itu tidak akan terjadi, jika aku mendidiknya dengan baik sejak awal." jawab Radit menahan amarahnya.


"Dan kau, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah, bagaimana jika anakmu berada dalam posisi Merry saat ini, apa kau akan diam saja? Ku rasa kau akan lebih membela anakmu!" Anwar meluapkan kesedihannya kepadanya Anggara.


"Anakku tidak akan melakukan hal itu, dia akan di didik oleh ibu yang baik, juga ayah yang mengarahkannya pada hal yang baik. Tidak seperti dirimu, memohon padaku demi hal yang buruk, mungkin akan menjadi lebih buruk."

__ADS_1


Anwar menunduk lemas, bahkan untuk beranjak ia tak mampu.


"Aku hanya tinggal menunggu kabar darimu." ucap Anggara pada Raditya.


Radit berlalu tanpa menjawab atau menoleh, ia kesal sekali menatap Anwar, tapi juga cemburu mendengar ucapan Anggara perihal anak-anak. Sungguh saat ini ia merasa tak berguna, bodoh sekali.


Radit berjalan dengan menunduk juga emosi yang tertahan. Langka panjangnya terus melaju tanpa peduli siapa di belakang atau di depannya.


Hingga


Sosok wanita cantik itu baru saja keluar dari kamarnya, ia sedikit mengusap mata sambil berjalan dan tanpa sengaja Radit menabrak lengannya hingga membuat wanita itu mundur dan terjatuh.


"Ahh!" ia sedikit menjerit namun tangannya berpegang kuat pada lengan seseorang yang meraih dan menahannya agar tidak terjatuh. Ia sangat beruntung pria itu menahan tubuhnya, tapi tidak beruntung jika melihat siapa yang menahan dirinya hingga posisi mereka seperti sedang berpelukan.


"Radit!" suara pelan itu ingin memekik.


Radit-pun tak kalah terkejut, ia sungguh tak menyangka bertemu Zahira, dan bisa menyentuhnya walau tak sengaja. Mata beningnya masih terlihat indah sekali, bibir merahnya dan hidung meruncing itu terlihat menggemaskan, Radit menikmati pemandangan itu dalam jarak begitu dekat.


"Minggir!"


Anggara menatap kesal pada Radit yang masih terpaku, ia mengajak Zahira segera pergi dari tempat itu.


"Kakiku sakit." ucap Zahira pelan, walaupun ia sedang tidak berpura-pura tapi dia merasa takut, wajah Anggara tak setenang biasanya.


Anggara menggendongnya dalam satu gerakkan dan membawanya keluar menuju mobil mereka.


Hening


Biasanya pria tampan itu akan menggenggam erat dan mengecup jari Zahira dengan mesra meskipun dalam keadaan menyetir. Tapi sekarang malah tak menoleh sama sekali, membuat Zahira serba salah duduk di samping suaminya itu.


"Bibi!" teriak Anggara setelah sampai di rumah.


"Iya Mas Anggara." jawab Bibi.

__ADS_1


"Tolong ambil air hangat, kaki Zahira terkilir." ucap Anggara terus menuju tangga dan langsung ke kamar mereka.


"Ini air hangatnya." Bibi ikut masuk melihat Zahira sudah ada di ranjang.


Anggara melepas sepatu yang memang agak tinggi dan mengompres pergelangan kaki Zahira. Entah mengapa kali ini ia tidak bersikap mesra.


"Biar Bibi saja, sekalian Bibi urut sedikit." ucap wanita yang sudah tua itu.


Sejenak, tetap hening di dalam kamar itu.


"Aduh Bibi!" teriak Zahira saat kakinya di tarik Bibi.


"Tahan Non, biar enggak bengkak." jawabnya dengan sabar.


"Sakit Bibi!" Zahira merengek memancing Anggara untuk mendekat padanya.


"Sudah Bi, mungkin sudah cukup." Anggara meminta Bibi mengakhiri pijatan di kaki Zahira.


"Baiklah, kalau begitu Bibi permisi dulu ya." Bibi tersenyum dan membawa air hangat juga busa tipis itu berlalu dari kamar Anggara.


Wajah Zahira masih mengerucut, ia benar-benar tak suka dengan sikap dingin Anggara padanya.


"Masih sakit kita ke dokter." ucap Anggara masih tak menyentuh istrinya.


"Mas." ucapnya manja, bibir merahnya mengerucut dengan wajah memelas.


"Apa?" tanya Anggara, masih berdiri.


"Sakit." jawab Zahira merengek.


"Aku akan menghubungi Dokter." jawab Anggara cuek, ia menghindari wajah yang sedang memelas itu.


"Mas...!" panggilnya lagi, lebih manja dan rengekan yang di buat-buat.

__ADS_1


Anggara memejamkan matanya, ia sungguh gemas dengan tingkah wanita di belakangnya, tapi ia masih kesal sekali.


__ADS_2