Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
12. Sejauh apapun kau pergi


__ADS_3

"Tentu saja aku butuh dirimu, aku harus menjadi wanita yang bisa mengurus diri sendiri." Zahira menunduk.


"Kalau begitu cepatlah belajar, setelah ini aku harus mengurus perusahaanku, anak buah ku sedang repot sekali." Anggara sekilas menatap gadis manja itu tak sepeti biasanya.


"Apa aku ini menyusahkan mu?" Zahira bertanya serius.


"Tentu saja kau menyusahkan ku, apalagi saat kau malas belajar dan banyak merengek." Anggara berucap tegas, dengan sekilas menatap sinis.


"Kalau begitu aku tidak akan belajar lagi denganmu, lusa aku akan ke Malaysia agar kau tidak kerepotan lagi karena aku." Zahira merasa tersinggung dengan tatapan dan ucapan Anggara.


"Terserah saja." Anggara tidak peduli.


Hari itu di habiskan dengan tak banyak bicara, ke dua orang itu tampak serius bekerja dan belajar. Tanpa Zahira sadari pria dewasa itu selalu memperhatikan dirinya, hingga sore hari Zahira sudah bersiap dengan tas di tangannya.


"Aku akan mengantar ke rumah ayahmu." Anggara sudah bersiap untuk meninggalkan mejanya.


"Aku akan menunggu Papa." Zahira mencoba menolak.


"Papamu sedang melihat proyek dari perusahaan lain, tidak bisa mengantarmu." Anggara mendekati gadis belia itu.


"Aku_" Zahira belum selesai bicara.


"Aku akan mengantarmu." ucapnya lagi, kali ini dia tak ingin di bantah, dan akhirnya Zahira menurut ikut dengan Anggara. Di dalam mobil kedua orang itu tak bicara apapun hingga tiga puluh menit mereka tiba di rumah Zahira. Rumah yang dulu sering di datangi Anggara juga, ada kebahagiaan di sana, ada orang tercinta, ada rekan yang baik, ada Zahira kecil menggemaskan kala itu. Anggara membuka pintu untuk gadis kecil di dalamnya, lalu ia berdiri tegak memandang rumah yang masih tampak memenangkan hati.


"Kau benar akan pergi ke Malaysia?" pertanyaan Anggara menghentikan langkah gadis yang baru saja melewatinya, gadis itu berbalik.


"Bukankah kau tidak menyukaiku?" jawab Zahira serius.


"Tidak bermaksud begitu, aku hanya bercanda." Anggara menatap Zahira, langkahnya perlahan mendekat.


"Tapi aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu!" ucap Zahira lagi, langkah Anggara terhenti.

__ADS_1


'Mengapa mendengar kalimat itu hatiku sakit sekali, apa aku akan kehilangan untuk kedua kali?'' Bisik hati Anggara, ia menatap wajah cantik itu dari dekat.


"Sejauh apapun kau pergi meninggalkanku, Aku yakin takdir akan membawamu kembali." ucapnya terdengar sedih, mata coklat itu menunduk menyelami kedalaman bola mata bening milik Zahira.


"Apa kau sedang mengharapkan aku kembali? Bahkan aku belum pergi!" Zahira tertawa.


"Aku tidak sedang bercanda Zahira." Anggara terus menatap mata dan wajah gadis itu.


Zahira tampak berpikir, wajah tampan dengan tubuh tegap beraroma maskulin itu sangat dekat sekali, terlihat sangat sempurna dan hangat. "Aku bahkan tidak tau takdir apa yang sedang menungguku di depan sana." Zahira menatap wajah sedih itu.


"Tuhan akan mengendalikan semuanya dengan sempurna, melebihi apa rencana kita." Anggara mundur dan berbalik melangkah meninggalkan Zahira di rumahnya.


Zahira terpaku menatap kepergian pria dewasa itu, entah apa yang sedang ia rasakan sehingga terlihat begitu rumit. Zahira masuk ke dalam rumah di sambut mbok Tuti yang terlihat bahagia.


"Akhirnya non kembali, mbok senang sekali." Wanita tua itu memeluknya.


"Makasih mbok, aku ingin menginap di sini." Zahira membalas pelukan wanita itu.


"Mau di kamar ibu saja mbok, aku menyukainya." diangguki bibi Tuti, lalu ia membuka pintu kamar itu.


"Makasih mbok." ucap Zahira mulai melangkah memasuki kamar luas dan nyaman.


"Sama-sama non, mbok tinggal ya." Wanita itu tersenyum lalu meninggalkan Zahira di kamarnya.


Zahira melangkah mendekati meja rias berukiran emas itu, menatap wajah-wajah bahagia ayah ibunya yang tergambar jelas di foto yang terpajang di sana.


"Ayah, ibu, aku pulang, aku sudah besar dan saat ini aku sedang gelisah. Aku bingung ibu, aku harus menjalani hidup ini sendirian atau segera menerima lamaran Radit." Zahira meraba foto wanita cantik itu. "Tapi aku tidak bisa berbohong, aku juga mencintainya ibu." Zahira terus berbicara sambil memeluk foto berukuran sedang. Larut dengan perasaan rindunya pada ibu dan ayahnya hingga membuatnya tertidur di sudut ranjang nan luas itu.


Malam hari, suasana di rumah Radit begitu hening. Ayu dan David terlihat gelisah, makanan di atas meja kembali menjadi tontonan. Terutama Radit hanya menunduk dengan satu sendok makanan yang di angkatnya namun tak kunjung masuk kedalam mulut.


"Aku akan datang ke rumah itu." David meletakkan sendok dan memakai jaket yang di letakkan di kursi belakangnya.

__ADS_1


"Aku ikut." Ayu ikut beranjak. Mereka berdua meninggalkan Radit sendirian.


"Bukankah dia meminta aku yang datang, mengapa Papa dan Mama yang pergi ke sana?" Radit ikut meletakkan sendok dan menyandarkan diri di kursinya.


Di rumah Zahira, gadis belia itu sedang melaksanakan sholat dengan hikmat, hingga selesai dan terlihat sedang berdoa begitu khusyuknya.


"Non, makan dulu." Mbok Tuti mengetuk pintu.


"Iya mbok." Zahira segera melepaskan mukena dan segera turun ke bawah.


Baru saja Zahira menuju meja makan, langkahnya terhenti. "Zahira!" Suara Ayu memanggilnya seperti sedang terburu-buru.


"Mama!" Zahira segera mendekat dan memeluk wanita cantik dan putih itu, wanita yang selalu menjaga dan menyayanginya.


"Kau tidak pulang, Mama khawatir Nak." Ayu melonggarkan pelukannya menatap wajah tanpa hijab itu sangat cantik sekali, wajah halus dan lembab, bibir merah dan basah dengan mata bening dan lesung pipi yang menggoda. Wajar saja putranya tergila-gila.


"Aku hanya ingin melihat foto-foto ayah dan ibu mama." jawabnya dengan suara lembut merdu dan pelan.


"Tak apa, ini memang rumahmu." David yang ada di belakang Ayu ikut bicara.


"Maaf Papa." Zahira menunduk.


David melihat anak gadisnya menunduk dan tampak berpikir, gadisnya sudah tumbuh cantik sempurna. David mendekat dengan menatap wajah yang bersembunyi itu. "Kau tidak sedang berlari dari Papa kan Nak?" David bertanya pelan.


Zahira mendongak, wajah cantik itu menangis dan menghambur memeluk David. "Maaf Papa, aku tidak meninggalkanmu." tangisnya kian menjadi, terisak pedih dan pilu.


David tak berani membalas pelukan anak gadis itu, dia sadar dia bukanlah ayah kandungnya. Tapi hatinya tak mampu berbohong dia sangat takut kehilangannya. "Papa mengerti sayang, Papa hanya takut." jawabnya pelan.


Zahira melepas pelukannya pada David, mengusap air mata itu sejenak lalu duduk mengatur nafas dan menunduk. "Aku sedang memikirkan lamaran Radit mama." ucapnya kemudian.


"Mama tidak memaksa sayang, semua terserah padamu. Mama ingin kau bahagia tidak dengan mengikatmu pada Radit atau siapapun, turuti saja kata hatimu." Ayu menggenggam tangan kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2