
"Sayang turunlah." Ayu mengulurkan tangannya setelah ia membukakan pintu untuk Zahira, Gadi itu masih melamun dengan tatapan kosong dan putus asa.
"Mama." panggilnya lirih, sungguh wajah cantik itu terlihat sangat menyedihkan.
"Iya sayang, kita pulang ke rumah." Ayu memang membawanya pulang ke rumahnya, dalam keadaan sedih Zahira tidak akan ia tinggalkan sendirian.
Zahira turun dengan berpegang pada tangan Ayu, matanya menatap halaman rumah itu. Tempat ia di besarkan bersama Radit, tempat ia bermain bersama Radit, berbagi kasih sayang pada orang tua yaitu Ayu dan David yang merupakan ayah dan ibu Radit. Hingga akhirnya ia merasakan jatuh cinta dan menikah dengan Radit.
"Radit!" ucapnya, langkahnya terhenti dengan tangis pilu, dadanya terasa sesak dan tubuh itu kembali lemas.
Ayu memeluknya erat, segera membawanya masuk ke dalam rumah.
"Kita minta tetangga saja untuk memotongnya, pohon yang besar seperti itu akan sulit untuk di tebang dengan golok." seru salah satu satpam ketika Zahira sudah ada di teras.
"Ada apa pak?" Ayu menghentikan langkahnya.
"Itu Nyonya, pohon mangga itu lebih baik di tebang saja sudah berpuluh tahun tapi tidak berbuah." jawab satpam senior itu.
"Oh." Ayu melanjutkan langkahnya dengan masih merangkul Zahira.
"Tunggu!" Zahira memanggil satpam senior itu.
"Iya Nona." jawabnya sopan.
"Jangan di tebang, aku menyukainya." ucapnya dengan berlinang air mata.
"Kenapa Nak?" Ayu menatap heran pada Zahira.
"Sungguh tak berguna pohon yang tidak mau berbuah itu Mama, tak peduli seberapa rimbun daunnya jika tak berbuah maka akan di singkirkan di ganti dengan yang lain. Seperti aku yang Tidak bisa mengandung anak untuk Radit sehingga dia memilih wanita lain." jelasnya dengan tangis kembali pecah dan semakin menjadi.
"Tidak sayang, jangan berkata seperti itu, ini salah Radit. Bukankah kalian belum lama menikah dan wajar saja kau belum mengandung anaknya." Ayu ikut menangis dan menenangkan hati Zahira.
Tangisnya semakin menjadi dengan kedua tangan bertumpu di lututnya, tidak bisa di bayangkan jika ia sudah bertemu Radit.
"Ayo sayang istirahat di kamarmu." Ayu mengajaknya menaiki tangga, biasanya tangga itu terasa begitu dekat dengan jumlah yang hanya beberapa puluh saja, namun kali ini rasanya seperti ribuan, dengan kaki berat dan tenaga yang nyaris tak ada ia berusaha bertahan.
__ADS_1
"Mama!" panggilnya lagi.
Ayu menatap sendu pada anak sekaligus menantu yang tersakiti, entah mengapa panggilan mama itu membuat hati Ayu tersayat-sayat pedih. "Iya." jawabnya pelan.
"Aku lelah Mama." tangisnya masih tak berhenti. Ayu memeluknya dan segera membawa Zahira menuju ranjang yang empuk.
"Sayang kau masih punya Mama dan Papa, jangan bersedih seperti ini. Mama tidak tahan melihatnya." Ayu kembali terisak.
"Tapi, rasanya sakit sekali Ma." jawabnya terdengar parau dan bergetar.
"Mama tahu sayang, Mama juga terluka karena kau di sakiti. Radit anak Mama, kau juga anak Mama, dan kau tahu Papamu akan sangat marah. Mama tidak bisa membayangkan betapa hancurnya keluarga kita jika Radit benar-benar melakukan itu."
Zahira mencoba memikirkan kata-kata Ayu, sungguh ia mengerti jika keadaan ini berat dan menghancurkan hati semua orang. Tapi bagaimana dengan Radit, bahkan dia tak pernah berpikir dengan keadaan yang rumit ini.
Siang itu ia habiskan dengan menangis dan berpikir, hingga menjelang sore ponselnya berbunyi.
Radit
Nama itu terpampang jelas di layar ponselnya, dia memang tak pernah merubah nama itu sejak mereka masih sekolah menengah, ketika pertama kali mendapat izin memegang ponsel dan bersekolah di Malaysia. Laki-laki yang menjadi idolanya di rumah atau di sekolah itu selalu menjaganya dengan baik. Ada banyak larangan saat ada bersamanya, tidak boleh berteman dengan sembarang orang bahkan hanya boleh pergi dengan dirinya saja.
Berulang kali ponsel itu berdering namu tak juga di jawab oleh Zahira. Hingga belasan kali dan berhenti, mungkinkah pria tampan itu akan mencarinya, atau malah ia senang saat kehilangan Zahira.
Suara Deru mobil beriringan di luar rumah itu, terdengar dari kamar Zahira bahwa yang datang adalah David juga Radit suaminya. Teringat saat dulu Radit baru pulang dari Malaysia Zahira akan berlari menemuinya, juga memeluknya dengan penuh rindu. Tapi tidak dengan kini, rasa sakit itu begitu berkuasa dan tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Di lantai bawah tampak Ayu sudah menunggu kedatangan putra semata wayangnya, sungguh dengan mata sembab itu dapat di pahami semua orang dia sedang tidak baik-baik saja.
"Mama?" Radit masuk dan menghampiri Ayu lebih dulu meninggalkan David di belakangnya. Niat hati ingin segera menemui Zahira namun ia mendapati ibunya sedang menangis.
"Duduk!" perintahnya, suara dan tatapan dingin itu begitu menyeramkan.
Radit terkejut dan menatap ibunya, hatinya merasa ada hal yang tidak baik akan terjadi.
"Ada apa sayang?" David ikut duduk mendekati istrinya yang tampak menahan emosi.
"Jelaskan pada Mama kapan kau menikahi anak rekan bisnismu itu?" Tanya Ayu tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Hah!" David menatap heran dan seakan mendengar candaan dari istrinya.
Berbeda dengan Radit, ia sungguh terkejut seperti ada batu besar yang menghantam dadanya, hal yang ia tutupi selama ini malah sudah di ketahui ibunya.
"Jawab!" Ayu membentak putra semata wayangnya itu, hingga membuat ia begitu terkejut.
"Apa maksud Mama?" Radit mencoba berkilah.
Ayu mendekati Radit, menatap wajah tampan mirip dirinya itu sedang menahan gejolak dan terlihat pucat. "Jawab!" ucapnya pelan namun penuh tekanan.
"Tidak ada Ma." jelasnya terbata-bata tenggorokannya seakan sulit mengeluarkan suara.
Plakk
Satu pukulan mendarat di pipi mulus putranya, dengan rasa emosi yang tak tertahankan ia kembali menangis sambil memarahi Radit.
"Dapat dari mana kelakuan brengsekmu itu? Apa Papa dan Mama pernah mengajarkanmu? Jawab Radit!" Teriaknya.
"Aku_" Radit tak mampu bicara, ia menunduk bersalah.
"Apa maksudnya?" David masih terlihat bingung.
"Anakmu sudah memiliki wanita lain dan sedang mengandung anaknya, apa itu tidak brengsek?" jelas Ayu dengan masih berteriak emosi.
David masih tak percaya, ia ingin bicara namun ia bingung harus mengatakan apa.
Terdengar suara langkah menuruni tangga dengan pelan, sudah pasti itu Zahira.
Radit menoleh, dengan rasa takut yang semakin berkecamuk Radit beranjak, menatap wajah cantik istrinya sembab dan dapat di pastikan ia sudah tahu perihal Merry.
"Sayang." panggilnya setelah berada di awal anak tangga, namun Zahira berhenti di ketinggian.
Radit sungguh berharap Zahira segera memeluknya seperti biasa, namun itu tidak terjadi dia sedang terluka.
"Zahira." panggilannya lagi, suaranya bergetar.
__ADS_1
"Kau membohongiku Radit." ucapnya pelan dan menyedihkan.
"Tidak sayang, aku hanya mencintaimu, hanya kau saja." Radit mencoba menaiki tangga namun tangan Zahira mencegahnya.