Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
190. Makam suamimu masih basah


__ADS_3

"Apa aku harus ikut?" tanya Zahira, sepertinya ia enggan kemana-mana.


"Ya, jika itu suamimu maka kami akan pergi bersama. Ide dan perjanjian non formal ini datang darinya, jika keuntungan lebih dari Lima puluh persen maka akan di berikan kepada panti asuhan, dan beruntungnya kami selalu mendapatkan keuntungan lebih setiap kali menyelesaikan suatu kontrak." jawab Reza tak memaksa.


"Baiklah." Zahira setuju, apalagi alasannya selain mengikuti apa yang pernah suaminya lakukan. Dia akan melakukan semuanya, walaupun dulu Zahira tak tau apa-apa.


"Ajaklah sekretarismu, kita akan pergi dengan mobilku saja." usulnya lagi.


"Apa sebaiknya-"


"Aku menyetir, aku akan menjadi sopirmu hari ini." Candanya seraya berdiri, tentu tak ada alasan untuk menolak, Reza tau jika Zahira tak akan mau diajak duduk berdekatan.


Zahira tersenyum, mengikuti langkah Reza keluar dari ruangannya. Sekalian mengajak Lili untuk ikut bersama mereka, sekretaris Anggara yang tadinya bekerja di luar kota, kini diminta Ricky untuk menemani dan membantu Zahira.


"Kau akan menyukai aktifitas ini, seperti suamimu yang selalu menunggu waktu untuk berkunjung dan memberikan bantuan untuk mereka." Reza memulai obrolan ketika sudah berada di mobil. "Anggara mengatakan, ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan." sambungnya lagi.


"Dia memang orang baik." jawab Zahira mengenang Anggara, wajahnya selalu mendung, sendu dan tak pernah bersemangat ketika mengingat suaminya.


Reza meliriknya dari kaca depan, ia paham betul wajah seperti itu, sedih dan rindu tentu sedang menyerang hatinya. Beruntungnya laki-laki yang menghuni hati wanita seperti itu, muda, cantik, Soleha, dan mencintai Anggara dengan tulus. Menangis meraung-raung hingga bengkak mata dan bibirnya. Reza masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita yang ada di belakangnya menangisi Anggara. Mungkin jika para model dan artis yang suka berkencan dengannya di posisi Zahira, maka akan bertepuk tangan dan menikmati harta yang banyak itu dengan suka cita, sudah membeli banyak barang mahal, liburan dan pergi bersenang-senang dengan laki-laki yang lebih muda dan tampan.


Reza menggeleng, dan itu juga penyebab ia belum juga menikah. Benar kata rekan kerjanya yang berkepala botak, jika wanita sederhana seperti Zahira sudah sangat langka.


"Pak Reza, bisa berhenti sebentar?" pinta Zahira melihat di depan ada sebuah toko.


"Tentu." jawab pria itu dengan senang hati.


Zahira turun bersama sekretarisnya, membeli banyak makanan ringan untuk anak-anak. Selain haus wanita cantik itu juga ingin berbagi makanan.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Reza ikut turun dan membawa makanan yang lumayan banyak.


"Sudah. Maaf jadi merepotkan." ucap Zahira sopan.


"Tak masalah." jawab Reza dengan senyum manis.


Mereka melanjutkan perjalanan, hari yang cerah itu habis dengan hal yang menyenangkan, berbagi uang, makanan, pakaian, Reza menyiapkan banyak barang yang ternyata sudah di kirim lebih dulu ke panti asuhan. Itu membuat Zahira senang bukan main, terlebih lagi saat membuka sebuah kotak besar yang ternyata adalah bermacam-macam mainan.


"Tak pernah menyangka, rasanya berbagi secara langsung seindah ini." ungkap Zahira dengan senyum lebar. Mata beningnya berbinar ketika melihat kegembiraan anak-anak dengan mainan di pelukan mereka. Ternyata semudah itu membuat mereka bahagia, ternyata semurah itu itu barang yang membuat mereka tertawa. 'Mas, ternyata kau menyukai hal baik seperti ini, hal sederhana yang tak seberapa bagimu, tapi membuat orang lain begitu bersyukur dan bahagia. Tidak salah aku sangat mencintaimu, tidak menyesal aku menggila karena cintamu. Aku merindukanmu Mas.' ungkapnya di dalam hati.


"Kau suka?" Reza mendekat, melihat Zahira tersenyum-senyum sendiri.


"Ah, iya." Zahira tersenyum lalu menunduk.


"Mereka juga menyukaimu." Reza memujinya, walaupun memang benar jika anak-anak menyukai Zahira.


"Bukankah kau putri dari tuan David dan Nyonya Ayu?" tanya Reza begitu heran.


"Mereka Mama dan Papa, orang yang menyayangi dan membesarkan aku. Hingga aku dewasa dan mengetahui jika mereka bukanlah orang tua kandungku. Aku beruntung di besarkan Mama dan Papa." obrolan itu membuat Zahira rindu kepada David dan Ayu, mungkin turut menghindari mereka adalah berlebihan, tapi sungguh ia tak punya pilihan.


"Jadi berita yang berhembus itu benar? Bahwa kau adalah anak pasangan pengusaha muda yang meninggal kecelakaan pesawat Dua puluh tahunan yang lalu." ungkap Reza serius.


"Iya." Zahira mengangguk.


Terkadang, dunia terasa begitu kejam, kehilangan ibu dan ayah ketika masih balita, menikah dan bercerai muda, hampir kehilangan nyawa kerena wanita perebut suaminya, hingga akhirnya bertemu dengan laki-laki hebat seperti Anggara, suami tercinta. Tapi, kini malah harus menjadi janda disaat anak masih kecil dan hamil muda. Sungguh Allah sedang menguji kesabaran seorang Zahira.


"Kita akan kembali kekantor, untuk panti asuhan yang lain silahkan di kirim saja, atau bisa di jadwalkan di lain hari. Ibu Zahira tidak bisa terlalu lelah." Sekretaris Lili melihat jam yang melingkar ditangannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengantarmu. Lagi pula sebentar lagi makan siang." Reza setuju. Tak lama kemudian mereka pulang bersama menuju kantor Anggara.


"Anda lelah?" tanya Lili pada Zahira, sepanjang jalan ia hanya menyandar.


"Sedikit." Zahira melihat jalanan seperti biasa. Sesekali juga menatap langit biru di atas sana, mencari sosok yang tak akan pernah ia temukan lagi.


Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di kantor mewah itu, tampak Ricky sudah berdiri di depan kantor menunggu kedatangan Zahira. Asisten Anggara itu langsung mendekat.


"Kau lelah?" tanya Ricky perhatian sekali, membuat Reza sedikit memicingkan mata.


"Sedikit, aku ingin istirahat sebentar." ucapnya melangkah pelan memasuki kantornya.


"Kalau begitu istirahatlah, maaf sudah mengajakmu pergi. Reza berkata dengan sopan meski ia tidak tahu apa yang membuat semua orang sangat memperhatikan Zahira, mereka juga tampak sangat khawatir.


"Tidak, justru aku berterimakasih. Aku senang bertemu mereka." Zahira tersenyum manis, ia benar-benar menikmati kebersamaan dengan anak-anak panti asuhan.


"Baguslah jika kau menyukainya, aku juga senang jika bisa membuatmu senang." Reza juga tersenyum dengan mata menatap kagum.


"Sejak kapan kau dekat dengannya?" Radit mendekat dan menatap tajam pada Reza juga Zahira.


Zahira menoleh, ia heran mengapa Radit ada di sana. "Sedang apa kau disini?" dengan wajah lelah.


"Sedang menunggumu, sejak tadi!" Radit berdiri tegap dengan wajah arogan melihat Reza tak suka.


"Aku ingin istirahat." Zahira melangkah masuk, malas sekali harus berdebat dengan Radit, terlebih lagi banyak karyawan dan rekan bisnisnya.


"Tunggu!" Radit menghentikan langkah Zahira. "Kau menghindari aku, tapi malah pergi berdua dengan laki-laki lain." Radit tersenyum sinis. "Bahkan makam suamimu masih basah." geramnya mendekati Zahira.

__ADS_1


"Kau tahu makam suamiku masih basah, lalu kau marah-marah ini untuk apa?"


__ADS_2