
"Sayang, besok aku akan mulai masuk sekolah karena tadi aku sekalian mengurus kepindahan ku yang sudah di kirim ummi Nurul melalui E-mail." Radit melepas jasnya di bantu Zahira.
"Sementara kau belajar, aku akan mengerjakan projek pertamaku. Aku harap kau mengizinkan aku." Zahira mulai membuka kancing kemeja suaminya.
"Iya, kau boleh bekerja tapi jangan terlalu dekat dengan pria itu aku akan cemburu." Jawabnya, Radit begitu menikmati ketika Zahira melepas pakaiannya. Memiliki seorang istri membuatnya merasa begitu di perhatikan dan di manjakan.
"Iya, dia tidak akan macam-macam." Zahira tersenyum lebar.
"Dia laki-laki, pasti ada rasa kagum dengan wanita cantik sepertimu." Radit melihat wajah Zahira dari dekat.
"Aku ini istrimu." Zahira meyakinkannya.
"Zaman sekarang, istri orang lebih menarik dari pada gadis remaja." Radit mengerjapkan mata sipitnya dengan pelan, kedalaman matanya semakin tajam jika sedang bicara serius.
"Benarkah?" Zahira yang polos tampak begitu heran, mengurungkan tangannya yang akan melepas hijabnya.
"Iya. Aku bahkan pernah dengar dari temanku dia sangat mengagumi istri tetangganya." Jelas Radit, tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu gila." Zahira bergidik ngeri mendengar penjelasan Radit.
"Makanya aku cepat-cepat ingin menikah denganmu, aku takut menjadi gila karena selalu berkhayal tentang dirimu." Radit memeluk gadis kecil yang begitu membuatnya selalu rindu.
"Berarti sekarang tidak berkhayal lagi." Zahira tertawa.
"Tidak, tapi malah semakin gila karena ingin selalu melakukannya padamu." Radit memulai aktifitas yang sangat di sukai keduanya. Menghisap madu dari bunga yang sedang indah-indahnya, menikmati wanginya aroma kelopak yang masih halus dan cerah, tampak begitu menggoda untuk selalu di urai serbuk sarinya.
Matahari mulai tenggelam, bahkan setelah makan dan sholat kedua insan yang sedang di landa cinta itu kembali berdiam di ruangan bernuansa putih dan pink kamarnya, ruangan luas dan nyaman begitu membuat keduanya enggan beralih dari sana walau hanya sebentar saja. Malam panjang masih terasa singkat untuk ke duanya, waktu berjam-jam tak membuatnya puas, sungguh usia yang sangat muda membuat keduanya tak merasa lelah atau mengantuk.
"Radit." Zahira merengek di subuh yang dingin.
__ADS_1
"Iya sayang, ada apa?" Jawaban Radit terdengar sangat romantis, mata sipitnya masih enggan terbuka.
Tangan berjari lentik itu mengelus pipi Radit yang tampak ada bulu-bulu halus di atas bibirnya. Radit menangkap tangan kecil yang liar itu, dan mengunci semua gerakannya. "Masih mau lagi?" Radit berucap di wajah cantik itu dengan nafas berhembus begitu menghangatkan.
"Aku harus bangun menyiapkan pakaianmu." Zahira ingin beranjak membuka selimut.
"Sekali lagi." Ucapnya tak memberi kesempatan untuk menjawab dia sudah membungkam mulutnya. Mengulang dan mengulang lagi hingga selesai dengan seringai kemenangan di wajahnya.
Pria itu bergegas mandi lebih dulu meninggalkan Zahira yang masih diam dengan sisa-sisa wangi nafas Radit masih tercium di wajahnya. Radit juga bersiap mengganti pakaian dan sarapan tanpa Zahira, gadis itu kembali terlelap dalam selimut.
"Sayang, aku pergi dulu." Radit mencium kening gadis itu, membuatnya bangun dan menggeliat. Matanya terbuka dengan langsung memperhatikan suaminya begitu tampan dengan seragam sekolah yang ia tutupi dengan jaket mahal yang sangat pas dengan tubuh lebarnya.
"Radit, nanti jangan dekat-dekat dengan teman perempuan di sekolahmu." Zahira meraih tangan Radit seakan enggan untuk di tinggalkan.
"Iya, aku janji. Dan akan cepat pulang untuk menjemputmu." Radit mengelus kepala Zahira dan berlalu meninggalkannya.
Zahira memejamkan mata, teringat kegiatan panas itu selalu berlangsung lama, kembali rasa manis dan enak itu mengganggu pikirannya, seorang Radit memang sulit di lupakan. Zahira bangun dan mandi, menyiram kepalanya yang panas dengan air dingin untuk menghilangkan rasa-rasa itu berseliweran di kepala tak mau pergi.
"Kau terlambat sepuluh menit." Anggara menatap jam tangannya sambil bicara dengan Zahira yang baru saja datang.
"Maaf." Zahira mendekat dengan wajah bersalahnya.
"Maaf tidak di butuhkan dalam bisnis." Anggara membuka pintu mobilnya dan mengisyaratkan Zahira segera masuk.
Zahira menurut dan duduk di samping Anggara. "Apa tempatnya jauh?" Zahira bertanya, dengan sekilas melirik sopir Anggara sedang fokus menyetir.
"Lumayan." Jawab pria dewasa itu singkat.
Tak ada obrolan diantara mereka dalam waktu perjalanan sudah satu jam, suasana sepi membuat Zahira mengantuk. Matanya yang indah sudah tertutup rapat dengan tangan bertumpuk di perut. Lama setelah tiba di lokasi Anggaran mencoba membangunkannya.
__ADS_1
"Bangun." Anggara sedikit meninggikan suaranya namun tak ada jawaban. "Bangun Zahira putri." Suaranya semakin meninggi. Tetap tak ada jawaban dan ia mengambil botol minuman untuk mendorong wajah Zahira.
"Apa yang kau lakukan?" Zahira bangun dengan tatapan kesal.
"Kau mau bekerja atau mau tidur, jika ingin tidur di rumah saja, atau di hotel!" Anggara jadi kesal karenanya.
"Dasar mesum!" Zahira menggerutu.
"Mesum apanya?" Anggara tidak jadi membuka pintu gara-gara mendengar ucapan Zahira.
"Kau bilang tidur di hotel?" Zahira memarahinya.
"Kau yang mesum, aku bahkan belum pernah menikah, jadi aku tidak tau pikiran mesum yang seperti apa di kepalamu!" Anggara menunjuk kepala Zahira. Dengan tatapan kesalnya dia turun lebih dulu meninggalkan Zahira didalam mobil.
"Silahkan nona?" Sopir Anggara membuka pintu mobil dan meminta Zahira keluar.
"Terima kasih, kau baik sekali berbeda dengan bosmu yang perjaka tua itu." Zahira bersungut-sungut.
"Apa kau bilang?" Anggara tiba-tiba mendekat dan ternyata dia mendengar ucapan Zahira. "Kau baru seminggu menikah, jangan-jangan besok kau menjadi janda. Itu lebih menyedihkan!" Anggara sangat kesal.
"Kau menyumpahiku, bagaimana jika itu terjadi?" Zahira menjadi takut.
"Biar saja." Anggara berlalu, dengan tidak perduli.
Sementara di sekolah Radit, Pria tampan itu menjadi pusat perhatian. Wajah tampannya dengan mata elang yang begitu menantang membuat para gadis muda berbisik mengaguminya. Ditambah lagi dengan gaya dan stylenya yang mahal semakin membuat para wanita ingin mengejarnya. Meski tidak di lirik mereka berlomba-lomba untuk menarik perhatian seorang Radit.
Salah satunya gadis cantik anak pengusaha kaya yang begitu populer dan berkelas, mata bulatnya begitu fokus menatap Radit yang sudah duduk di bangku tak jauh darinya.
"Kau baru pindah dari Malaysia?" Dia memberanikan diri untuk menyapa.
__ADS_1
"Iya." Jawab Radit. Gadis itu begitu senang mendapat jawaban yang singkat itu.
"Merry." Gadis itu mengulurkan tangan dengan gaya termanis dan senyum yang mengembang.