
"Maaf Sayang, aku tak bisa berpaling dari bibirmu yang seksi ini, aku tidak bisa berhenti." Anggra terkekeh geli sambil memeluknya lebih erat, menghirup kembali keringat yang wangi dari tubuh istrinya.
"Apa kau akan selalu mencintai aku seperti ini?" tanya Zahira pelan.
"Tentu saja, aku akan selalu mencintaimu sampai nyawaku tak lagi menghuni raga ini. Aku akan selalu menjadi orang yang melindungi dirimu dengan nyawaku." jawab Anggara terdengar tulus dan romantis.
"Aku menyukai rayuanmu." jawab Zahira memejamkan mata.
"Aku tidak merayu Sayang, aku ingin sekali kita selalu bersama, menikmati aroma tubuhmu setiap waktu, memelukmu dengan erat hingga tak berjarak seperti ini, tanpa ada pembatas termasuk sehelai benang menghalangi. Aku sangat mencintaimu Zahira, sangat-sangat mencintaimu. Ku harap kau selalu di sisiku selamanya." ucapnya begitu dalam.
"Tentu saja aku akan bersamamu Mas, aku tak memiliki siapapun di dunia ini, hanya kau saja yang selalu ada untukku. Aku juga sangat mencintaimu Mas, selalu ingin bersamamu." jawabnya memejamkan mata dan menikmati dekapan hangat Anggara.
Rasa rindu yang menggelora, rasa cinta yang tak pernah padam, membuat pria itu tak mengizinkan Zahira jauh darinya walau hanya sebentar saja.
*
"Bagaimana putriku Dok?" tanya Anwar pada dokter wanita yang baru saja memeriksa kandungan Merry, wanita itu terbaring dengan perutnya yang besar.
"Dia tidak apa-apa, hanya mengalami kram biasa, mungkin karena stress. Tapi ini tidak boleh terulang kembali, kontraksi palsu yang terlalu sering juga disertai stres yang berterus-terusan bisa mengakibatkan kelahiran dini. Kandungan anak Bapak masih tujuh bulan, jaga mood dan pikirannya agar tidak stres ya!" Dokter itu tersenyum namun penuh ketegasan menatap ayah dan anak itu bergantian.
"Baik Dok, terimakasih." Anwar menunduk hormat dan tersenyum.
"Istirahat saja dulu, jika satu jam setelah ini masih merasakan sakit atau nyeri lebih baik menginap saja." tambah dokter itu lagi.
Merry tersenyum sedikit kemudian memejamkan matanya, dia benar-benar lemas, lelah juga khawatir.
"Merry, sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Anwar mendekati putrinya yang masih berbaring.
"Tadi aku pergi ke Toko Tas langganan ku Papa, tak sengaja aku bertemu wanita yang berhijab seperti mantan istri Radit. Dia mengambil tas yang ingin ku beli tanpa membeli sehingga aku berteriak dia pencuri. Tapi ternyata dia adalah istri Anggara, dia menutup wajahnya dan ku lihat matanya mirip sekali dengan Zahira." berhenti sejenak dia masih merasakan sesak di perutnya.
"Lalu?" tanya Anwar masih penasaran.
__ADS_1
"Aku memanggilnya, dia tak menjawab lalu pergi. Aku takut dia membalasku karena aku sudah menghancurkan pernikahannya, aku tidak mau Radit kembali mengejarnya setelah tau dia masih hidup." jelas Merry begitu khawatir.
"Dia sudah menjadi istri Anggara, sudah jelas pria itu lebih kaya dari Radit, jadi kau harus kendalikan ke khawatiranmu itu." Anwar memenangkan anaknya.
"Tapi Radit akan terus mengejarnya Papa!" tatapannya begitu cemas.
"Kau merebut kebahagiaan orang nak, jadi kau juga harus siap menghadapi karmanya. Hal yang kau dapat dengan memaksa, pada akhirnya akan kembali pada pemiliknya. Sekalipun ia bertahan kau tak akan bisa menikmati kebahagiaan Itu sepenuhnya, akan ada kegelisahan di setiap kau merasa bahagia, bahkan rasa bersalahmu akan semakin menyiksa hingga kau dewasa dan menua." Anwar menatap sedih pada putri semata wayangnya.
"Aku tak mungkin melepaskan Radit Papa, ada anaknya di sini." Merry mengelus perut besarnya.
"Papa tau, walau Papa tidak tahu kemana takdir akan membawa kesalahan ini berakhir." Anwar menatapnya penuh kasih sayang. Pria tua itu menunduk pasrah.
"Papa tidak mau membantuku?" tanya Merry penuh harap.
"Papa bisa apa nak, bahkan saat rapat tadi pagi, Anggara memarahi Nyonya Ayu atas kehilangan gadis itu, juga Papa!"
"Papa?" Merry sungguh terheran-heran.
"Dia masih marah atas terbakarnya mobil beserta seorang gadis yang meninggal itu, tapi papa berpikir ada yang dia sembunyikan dari semua orang." Anwar tampak berpikir dengan matanya memandang jauh ke luar.
"Wanita yang menjadi istrinya." jawab Anwar menghembuskan nafas berat.
"Beri aku uang lagi Papa, aku akan meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu siapa wanita itu." Merry menjadi bersemangat atas penasaran yang menghantuinya.
"Kau lupa dia istri siapa, bahkan seekor cicak pun sulit masuk ke rumah besarnya." Anwar memberi tahu Merry.
"Tak perlu masuk rumahnya Papa, kita akan menunggu kemana dia pergi, aku ingin tahu wajahnya." Merry yang tadi berbaring kini sudah duduk menghadap ayahnya.
"Dia tidak akan pernah sendirian, sudah pasti di temani bodyguard pilihan suaminya."
"Aku akan hati-hati." jawabnya masih bersikeras, membuat pria yang sudah beruban itu lelah berbicara.
__ADS_1
Sementara di Penang Malaysia
"Apa aku sudah bisa pulang Mama?" tanya Radit menoleh Ayu juga David.
"Belum Sayang, tunggu satu atau dua Minggu lagi. Dokter akan memastikan kau benar-benar pulih, setelahnya kau akan pulang bersama Mama dan Papa." jelas Ayu dengan lembut sekali.
"Aku sudah bosan disini, aku ingin memulai usaha baru, dan tidak mau tinggal di rumah kita." ucapnya sedih.
"Terserah kau saja, Mama akan ikut apa yang menurutmu terbaik." Ayu tak menunjukkan dukungannya.
"Jika pulang ke rumah, sudah pasti akan membuat aku selalu teringat dengan Zahira. Aku akan semakin tersiksa karena merasa bersalah, jadi aku ingin membeli rumah baru dan mencoba melanjutkan hidup walau tidak akan pernah seperti saat Zahira masih ada." ucapnya lagi.
"Mama hanya bisa mendoakan mu Nak, juga mendoakan Zahira di sana." Ayu tersenyum penuh kasih sayang.
"Kau benar sudah siap pulang?" tanya David serius.
"Iya Papa." ucapnya.
"Baiklah, Papa ingin berbicara pada Doktermu." David beranjak dari duduknya, meninggalkan Ayu dan Radit masih sibuk dengan rencana kepulangannya.
"Zahira wanita yang baik sekali Mama, dia tidak butuh doa orang-orang bersalah seperti kita." sambungnya menunduk sedih, mata sipitnya mulai berembun dengan sesak kembali melanda.
"Tetap saja kita harus berdoa untuknya, jangan sampai lupa bahwa dia adalah bagian dari keluarga kita, Kakakmu, juga anak Papa dan Mama." Ayu ikut bersedih, butiran bening jatuh di disudut matanya.
"Delapan belas tahun aku bersama dengannya, itu waktu yang lama dan tidak terasa sudah berakhir." ucapnya lagi.
"Mulailah hidup baru sayang, Mama sudah kehilangan Zahira, Mama tidak mau kehilangan kau juga." Ayu meraih wajah Radit, dan sedikit mengelusnya.
"Iya Mama." jawabnya pelan.
*
__ADS_1
Tiga mingu kemudian
Radit pulang ke Indonesia dan langsung menuju tempat tinggal yang baru, Ayu sengaja membeli rumah yang agak jauh dari rumahnya juga rumah Zahira agar Radit bisa memulai semuanya dengan tenang.