Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
18. Sentuhan pertama


__ADS_3

Pemandangan yang mengharu biru itu begitu membuat orang-orang yang hadir ikut terharu, meski tak banyak tapi orang-orang terdekat terlihat memenuhi ruangan rumah itu.


Berbeda di satu tempat, rumah Empat lantai itu tampak begitu mewah, dengan lampu kristal cantik cahayanya menerangi di setiap sudut halaman luas itu. Seorang pria dewasa dengan pakaian kerja masih melekat ditubuhnya, rambutnya masih tersisir rapi lengkap dengan sepatu yang mengkilap, jelas stylenya begitu mewah. Dia duduk di taman sendirian menunduk menatap kertas berwarna dengan perasaan hampa.


Raditya J. & Zahira Putri.


Begitu tulisan itu mengusik jiwa, hatinya menjadi hampa tatkala rasa cinta itu harus mati dengan paksa, pupus untuk kedua kalinya. Kertas tebal berwarna itu terlepas jatuh menyentuh tanah. Jangankan untuk datang, melihatnya namanya saja dia terlalu putus asa.


"Hati ku ini, selalu sepi, selalu rindu tak bertepi semenjak dia pergi. Lalu kini rasa itu kembali harus ku lalui,.. Terkadang aku tak rela betapa takdir ini bermain sesukanya, begitu tak peduli hati yang sakit ini semakin hancur dengan kehilangan lagi, dan lagi..


"Jika memang dia tidak tercipta untuk ku miliki, mengapa harus bertemu lagi dan lagi. Andai garis tangan ini bisa di ubah, andai takdir hidup ini bisa di ajak bicara, bolehkah aku hidup dengannya sehari saja.


Walau terkadang ada sedikit percaya bahwa dia akan menjadi milikku kelak, tapi dengan kenyataan ini ku rasa aku hanya bermimpi. Dan saat ku bangun hanyalah sepi, bahkan rindu ini tak memiliki tempat untuk berbagi. Sebegitu kejamnya, sabar ini menjadi perjalanan dan permainan di sepanjang hidup.. Aku lelah."


Pria itu meninggalkan kursi taman itu dengan hati tak menentu, masuk ke dalam kamar dan mencoba memejamkan mata.


Malam semakin merayap, rembulan semakin melenggang naik ke singgasananya. Memamerkan keindahan yang redup nan syahdu, memanjakan mata yang begitu lelah karena menghabiskan waktu bersama matahari.


"Zahira sayang, Mama dan Papa akan pulang, besok mama akan kembali untuk mengurus semua yang masih belum rapi ini." Ayu menunjuk kursi dan beberapa perabotan yang sempat di geser.


"Mengapa Mama tak menginap saja?" Zahira masih memegang tangan Ayu.


"Mama masih ada yang harus di selesaikan bersama Nurul." ucap Ayu, yang ternyata sudah bersiap akan ikut kerumahnya.


"Kenapa Ummi ikut?" Zahira tak rela.

__ADS_1


"Kami harus membahas kepindahan Radit sayang, karena esok sore Ummi dah nak balik." Wanita itu menjelaskan dengan tersenyum hangat.


Zahira tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menurut ketika mereka meninggalkan rumahnya. Zahira berbalik dan melihat Rey juga sudah berdiri di belakangnya.


"Apa Pakde akan pergi juga?" Zahira menatap Rey dan Alisa bergantian.


"Ah tidak, kami hanya akan melihat rumah nenekmu. Karena besok Sudah harus kembali ke London Sayang." Rey dan Alisa tampak serba salah.


"Tidak akan lama Sayang, hanya sebentar dan akan kembali ke sini." Alisa ikut menjelaskan.


"Ini sudah malam." Zahira melihat jam dinding besar di ruang tamu.


"Jaraknya hanya setengah jam, mungkin dia jam kemudian sudah kembali. Kau tidurlah tak perlu menunggu kami sayang, kan ada satpam yang menjaga pintu. Lagi pula kami merindukan jalanan di sekitar sini, kami akan berkeliling sebentar." Alisa menjelaskan panjang lebar.


"Bye sayang." Alisa mengecup pipinya sekilas, Zahira tersenyum dengan melambaikan tangannya hingga mobil itu menghilang.


"Apa kita hanya berdua?" Radit datang mendekat saat Zahira menutup pintu.


"Tidak, Pakde tak akan lama." jawabnya polos, berbeda dengan Radit, dia sudah tau jika Rey hanya membohongi istrinya.


Radit tersenyum manis sekali, meraih tangan kecil itu dan mengajaknya naik ke atas.


"Kau sudah makan?" Radit menanyainya saat bersama menaiki tangga.


"Sudah, tadi setelah kau makan bersama papa dan pakde.

__ADS_1


Radit terus menggenggam tangan itu hingga di dalam kamar yang luas, cantik indah di penuhi bunga-bunga segar dan wangi. Radit tersenyum melihat semua itu telah di siapkan ibunya.


"Kenapa?" Zahira melihat senyum yang sedikit itu.


"Kau tau, mereka pasti berpikir aku sudah tidak sabar ingin melakukan itu denganmu." ucap Radit menoleh Zahira yang saat ini sudah memakai gaun panjang berwarna biru tua dan hijab senada.


"Apa lagi, bukankah keinginan seorang suami begitu. Kau bebas mengambil hak mu." Zahira menatapnya lembut sekali.


"Aku tau, tapi lebih penting bagiku adalah memilikimu. Setelah akad ini ku lakukan maka tak ada satu laki-laki manapun yang akan berani melirikmu." ucap Radit tersenyum manis.


"Dan tidak boleh melirik gadis yang lain setelah menjadi suamiku." jawab Zahira membalas senyuman manisnya.


Radit menghadap Zahira, tangannya meraih hijab yang melekat erat di kepala istrinya. Ingin melihat wajah cantik itu kini tak lagi haram untuk di nikmati. Dia begitu indah dengan rambut lurus lembut harum dan wangi.


"Aku tidak salah memilih istri, begitu cantik dari semua yang cantik. Kau indah sekali Zahira." Radit memujinya dengan tatapan penuh cinta.


Zahira tak menjawab, dia tersenyum semakin membuat wajah itu bercahaya, bibir merah merekah yang bernaung di bawah hidung meruncing itu sungguh menantang untuk di nikmati, pipi yang mulus dan mata bening menghanyutkan. Radit tak kuasa untuk tidak menyentuhnya, perlahan menundukkan wajahnya, menatap mata itu dari dekat, perlahan bibir basah Radit mengecup pipi yang begitu menggoda sejak lama. Sejenak hingga nafas hangat itu membuat gadis itu meremang dengan sentuhan pertamanya. Radit tak beranjak, hanya menggeser kecupan itu ke sudut bibir, hingga akhirnya bibir merah merekah dan basah itu bertaut.


Lama, saling bertukar nafas yang semakin menusuk hingga ke relung jiwa. Lama, hingga berkali-kali bermain dengan lembut dan mengecap pelan. Lama, hingga gadis itu tak kuasa bertahan dengan jantung yang semakin berdetak cepat, hati yang tergelitik serta jiwa yang melambung bersama hasrat remaja yang membuncah, tak tertahankan rasa itu menggelora hanya dengan berciuman. Tangan kecil Zahira meraih baju di dada Radit, membuat Radit semakin menikmati indahnya bermain di bibir merahnya, semakin mengecap dan menggigit pelan di sana. Seolah tak mau melepas lagi, nafas hangat itu menderu hebat, gadis cantik itu seakan lemas dan jatuh di pelukan hangat Radit. Radit memeluknya erat perlahan melepaskan ciumannya, masih menikmati wajah itu sudah terbakar api cinta yang di nyalakan suami tampannya.


Radit tersenyum bahagia menatap wajah pasrah itu, sungguh gadis cantik itu sudah sangat siap untuk memberikan hak suaminya.


"Malam ini kita istirahat sayang, kau pasti lelah bukan?" Radit mengecup kening gadis yang sudah jatuh di pelukannya.


Zahira tak menjawab, lagi-lagi dia hanya menurut apa saja yang di katakan Radit padanya.

__ADS_1


__ADS_2