
Pagi itu, kehangatan di meja makan kembali tercipta, David dan Ayu menginap di rumah Zahira.
"Non masih sakit, sebaiknya ditunda besok saja ke kantornya." Bibi Lastri sudah kembali.
"Benar." Ayu ikut menyahut.
"Aku bosan di rumah, lagi pula di kantor aku bisa istirahat." jawabnya melanjutkan sarapan.
"Aku akan bersamamu." Jia menyahut, dia sudah selesai sarapan.
"Sebaiknya kau bersama anak-anak." jawab Zahira.
"Hiko bersama mereka, kau tak perlu khawatir." Jia tidak mau di tolak.
"Baiklah, anak-anak berangkat bersama Kakek. Kalian sudah selesai?" David menengahi pembicaraan mereka, seperti biasa dia selalu bersemangat.
"Sudah, aku ingin membawa bekal." Satria meraih buah apel.
"Sadewa juga." Zahira mengambil satu buah apel lagi, lalu memberikannya kepada Sadewa.
"Terimakasih Ibu." Sadewa memeluk Zahira, Satria juga tak mau ketinggalan mendapat pelukan ibunya.
"Pergilah Sayang, Kakek menunggumu." Zahira mengecup pipi mereka bergantian.
"Assalamualaikum Ibu." mereka berangkat, berlari ke arah David.
"Aku akan menyiapkan mobil." Jia berjalan ke depan lebih dulu.
"Sepertinya Mama harus pulang sebentar, Mama melupakan sesuatu di rumah." Ayu tertawa sedikit.
"Maafkan aku merepotkan Mama." ucap Zahira menatap sendu kepada Ayu.
"Tidak ada kata merepotkan Sayang, kau putriku." Ayu memegang tangan Zahira.
"Aku Seperti orang buta yang kehilangan tongkat untuk berjalan. Aku merepotkan kalian semua setelah Mas Anggara tidak ada. Aku tidak tahu harus menjadi seperti apa? Bahkan menjadi diri sendiri aku masih merasa tidak berguna." Zahira menunduk sedih, piring yang sudah kosong menjadi titik objek kegundahannya.
"Ini hanya terlalu cepat untukmu, kau masih terlalu muda untuk merasakan hal sulit ini. Tapi Allah sedang memilihmu Nak, kita tidak tahu hadiah seperti apa yang akan kau dapatkan nanti, bisa saja kebahagiaan itu datang setelah kesulitan berlalu. Tak selamanya sedih ini kau rasakan, semua akan bergantian."
"Terimakasih Mama, aku senang memiliki Ibu sepertimu." Zahira menatap wajah putih bersih itu, dia masih terlihat cantik saat usia sudah lima puluh tahun.
"Mama tak kalah bahagia memilikimu Nak." Ayu mengelus kepala Zahira.
__ADS_1
"Aku berangkat." Zahira beranjak setelah meraih dan mengecup tangan Ayu, tak ketinggalan mengecup pipinya.
"Hati-hati." Ayu mengingatkan.
"Assalamualaikum Mama."
"Wa'alaikum salam Sayang." jawab Ayu ikut beranjak dari meja makan.
Di luar tampak masih ramai, mobil David belum juga berlalu dari pagar rumah itu.
"Ada apa?" Zahira melihat semua orang berkumpul di depan gerbang rumahnya.
"Banyak polisi di luar Nyonya." Jia menunggu Hiko yang sedang berbicara kepada Polisi.
Tak lama kemudian Hiko mendekati kedua wanita cantik itu.
"Merry Sandra melarikan diri, kondisi kejiwaannya belum pulih tapi gesit sekali berlari dan bersembunyi." Hiko memberitahukan apa yang sedang di sampaikan polisi.
"Anak-anak." Zahira menatap mobil David.
"Aku bersama beberapa orang akan mengawasi putra Anda, Anda tak perlu khawatir." ucap Hiko lagi.
"Aku akan selalu bersamamu." Jia menatap dingin, dia ingat betul senjata yang di gunakan untuk menghabisi Anggara belum ditemukan hingga sekarang.
"Tuan Ricko yang meminta mereka mengawasi rumah ini." jelas Hiko lagi, pria berwajah Indo Jepang itu berbalik menuju mobil di belakang David.
"Jangan tinggalkan Satria dan Sadewa." pinta Zahira kepada Hiko sedikit meninggikan suaranya.
Pria itu berbalik kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Kita berangkat Nyonya." Jia membukakan pintu mobil untuk Zahira.
Zahira segera masuk, kemudian mobil mereka melaju mengiringi mobil David dan Hiko di setengah perjalanan, lalu berpisah menuju kantor Anggara.
"Apakah dia masih mencariku?" Zahira menatap jalanan dengan khawatir.
"Mungkin saja, bisa Anda atau Tuan Radit. Hanya kalian berdua yang ada dalam pikirannya. Terakhir aku melihatnya, dia berteriak-teriak memanggil nama Tuan Radit, kemudian marah menyebut namamu." jelas Jia semakin membuat Zahira khawatir.
"Mengapa harus ada Merry Sandra di dunia ini?" kesal Zahira menggeleng pelan.
"Bahkan seekor nyamuk hidup bisa menciptakan banyak lapangan pekerjaan." Jia tersenyum sedikit, tangannya sibuk memutar kemudi.
__ADS_1
"Aku benar-benar lelah menghadapinya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana cara membuatnya berhenti?" Zahira sedikit menekan ucapannya.
"Nyawa harus di bayar nyawa."
Tentu saja itu hanya diucapkan dalam hati seorang Jia. Bibirnya bungkam hatinya tak bisa diam, mereka sudah tiba di kantor di kantor Anggara.
"Sepertinya kantor juga sedang di jaga." Zahira melihat banyak bodyguard Ricky berdiri di sepanjang parkiran hingga di depan pintu kantor besar miliknya.
"Tentu saja Nyonya, jangan sampai dia menyelinap masuk dan membahayakan mu." Jia turun bersama Zahira, masuk ke kantor dan memastikan semuanya aman.
Sementara di tempat lain, Radit juga tak kalah khawatir mendengar kabar tentang Merry Sandra. Dia sedang memikirkan sesuatu di meja kerjanya.
"Apakah saat kemarin melihatku dia langsung melarikan diri?" Radit bergumam sendiri. Sejenak kemudian, ia meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Halo!" suara seseorang di seberang sana.
"Apakah kau sudah mengirim pengganti sopir dan bodyguard Zahira?" tanya Radit menghubungi Ricko.
"Ya, sudah sejak semalam. Polisi juga sedang berjaga di sana." jawab Ricko menjelaskan.
"Baiklah." Radit menarik nafas, sedikit lega.
"Ada kemungkinan juga dia akan menemui mu. Kau juga harus hati-hati mengingat senjata yang di pakainya menghabisi Anggara belum kita temukan. Bisa saja dia menyimpannya dan mengambilnya lagi untuk menghabisi kau atau Zahira."
"Aku tahu, hanya aku sedang mengkhawatirkan Zahira dan anak-anak." Radit menjelaskan apa yang sedang di pikirannya.
"Aku juga sedang berusaha menjaga semuanya. Berdoa saja mantan istrimu itu segera di temukan." ucap Ricko menyindir Radit lagi.
"Aku sedang tersinggung." Radit tertawa sedikit.
Terdengar gelak tawa di seberang sana. Ricko benar-benar memiliki kegemaran tersendiri dalam mengatai seseorang, bahkan Anggara tak luput dari kata-kata menjengkelkan darinya saat itu.
Radit mengakhiri panggilan teleponnya. Sedikit tenang, dia kembali fokus bekerja hari ini, hingga sore hari kemudian dia akan kembali khawatir. Tentu tenggelamnya mata hari akan meningkatkan kekhawatiran seseorang, terlebih lagi sudah menyangkut bahaya atau nyawa.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang saja, lanjutkan besok karena hari sudah sore sekali." Jia melirik jam di pergelangan tangannya, pukul 17:00.
"Ya, hanya aku perlu membaca beberapa berkas." Zahira menyusun berkas yang tadi di berikan sekretarisnya.
"Kalau begitu Anda bawa pulang saja." Jia mengusulkan.
Zahira mengangguk, menumpuk beberapa berkas dan memasukkan ke dalam satu map besar.
__ADS_1
Lagi-lagi mata indahnya terganggu dengan berkas yang sudah sejak beberapa Minggu di atas mejanya. Berkas bertuliskan nama Raditya Jovanka. Tangan lentiknya mengambil berkas itu sebab rasa penasaran sering kali menghampirinya ketika selalu melihat tapi tak sempat di baca.