Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
Ingin di peluk


__ADS_3

"Ayo kita masuk, Paman ingin tidur di kamar kalian yang bau keringat itu."


"Apa waktu kecil kamarmu tidak bau keringat?" tanya Satria membalasnya.


"Tidak, aku anak baik saat itu." bohong Radit memeluk Sadewa dalam gendongannya.


"Benarkah?" Satria berhenti sejenak, sedikit berpikir dengan memiringkan kepalanya. "Aku tidak percaya." gumamnya lagi.


"Dia lebih nakal darimu, bahkan suka berkelahi." ucap Zahira mengajak Satria masuk ke kamar mereka.


"Rasanya aku tertarik." jawab Satria naik ke atas ranjang bersama Radit dan Sadewa.


"Tidak boleh seperti itu. Kau tahu, Paman berkelahi karena ada anak laki-laki yang suka menggoda ibumu." jelas Radit mengajak keduanya berbaring.


"Apakah saat itu ibu menangis?" tanya Sadewa tertarik.


"Ya. Itu sebabnya Paman menjadi marah dan memukul anak laki-laki itu hingga terjatuh." jelas Radit lagi, terdengar sangat seru.


"Aku juga pernah memukul anak ibu guru." akunya dengan bangga.


"Benarkah?" Radit menatap Satria yang sombong, mirip seperti dirinya saat kecil.


"Tentu saja, dia lebih besar dari kami. Dia tidak suka karena kami lebih pintar darinya. Dia merusak buku Sadewa sehingga kehilangan tugasnya. Aku sangat marah dan memukulnya lebih dulu."


Suara yang semakin meninggi itu membuat ketiga orang itu menatapnya dengan tak percaya.


"Kata Ibu itu tidak baik." ucap Sadewa menyahut.


"Tapi kata Ayah, itu lebih baik daripada dipukul duluan." ucap Satria lagi.


Kedua anak itu tertawa lepas, juga Radit dan Zahira ikut tertawa dengan tingkat mereka. Anak-anak itu tak akan kehabisan alasan untuk melakukan apa saja yang mereka suka.


"Apa yang dikatakan Ayahmu benar, Paman mendukung kalian."


"Nenek mendengarnya!" Ayu berdiri di pintu kamar anak-anak.


"Mama." Zahira beranjak dan menghampiri Ayu di luar kamar.


"Bagaimana hari kalian? Mama harap selalu menyenangkan." Ayu memeluk Zahira.


"Tentu saja, anak Mama selalu menyenangkan." Zahira terkekeh.


"Ah, syukurlah." Ayu ikut tertawa.


Beberapa bulan kemudian.


"Mama, aku ingin membicarakan hal penting." ucap Zahira ketika mereka duduk di ruang keluarga.


"Apa Sayang?" Ayu duduk berdekatan dengan Zahira.


"Aku ingin mengajak Radit kembali berobat di rumah sakit Jakarta."


Ayu menatap wajah Zahira sejenak, mencari sesuatu yang menjadi jawaban.

__ADS_1


"Aku sudah meminta seseorang mengirim ulang berkas Radit, dan Besok aku dan Radit akan pergi ke sana."


Ayu dan David saling pandang.


"Apakah suamimu mau?" tanya Ayu sedikit khawatir, karena sebelumnya Radit selalu menolak.


"Aku akan membujuknya lagi, hanya..."


"Hanya apa Sayang?" tanya Ayu lagi.


"Kita akan pergi bersama, Satria dan Sadewa tidak mau ditinggal."


"Tentu, sekalian kita jalan-jalan." Ayu sangat setuju. "Tapi, bukankah ke rumah sakit tidak akan lama?" Ayu merasa heran.


"Jika memungkinkan, aku ingin melakukan inseminasi." ucap Zahira yakin.


Ayu sampai menutup mulutnya dengan apa yang disampaikan Zahira. "Mama tak menuntut apapun dari pernikahan kalian. Ini saja sudah cukup, Mama sudah bahagia."


"Aku tahu Mama, hanya aku juga ingin memiliki anak dari Raditya, anak Mama." jawabnya tulus.


"Aku rasa itu terlalu rumit."


Ternyata Radit sudah mendengarkan pembicaraan mereka.


Zahira menatap Ayu dan David bergantian.


"Belum tentu berhasil, dan dokter laki-laki itu sudah menyentuhmu." Radit terlihat tak suka.


Radit mendengus kesal, meninggalkan mereka pergi ke kamarnya.


"Radit!" Zahira mengejarnya.


Pria itu tak mau menoleh, juga tak peduli.


"Radit." Zahira mengejar dan memeluknya setelah ada di kamar mereka.


"Aku tidak suka milikku di lihat dan disentuh-sentuh orang." ucapnya tak membalas pelukan Zahira.


"Tapi aku ingin hamil!" Zahira memegang perutnya.


Radit menghadap Zahira, menatap wajah yang belakangan sering merengek dan banyak maunya.


"Kau bilang akan melakukan apa saja untukku." ucapnya sedikit merajuk.


Radit menarik nafas beratnya, "Aku harus bagaimana? Aku takut kecewa Zahira. Dan mengecewakanmu." ucapnya terdengar sedih.


"Aku tidak akan kecewa jika tidak berhasil, hanya aku ingin memberimu seorang anak. Satria dan Sadewa sudah cukup besar untuk menjaga anak kita nanti."


Tangan halusnya menyelip dan memeluk Raditya, membujuk juga merayu dengan caranya.


Radit tersenyum dengan tingkah istrinya yang ternyata pintar merayu. Entah sejak kapan wanitanya menjadi seperti itu.


"Apa dia sering mengajarimu merayu?" tanya Radit memegang tangan Zahira yang mulai nakal.

__ADS_1


"Tidak!" jawabnya terus memasang wajah tak peduli. "Justru dia yang sering merasa bodoh karena rayuanku." jawabnya lagi.


Radit sedikit kesal membayangkan bagaimana Meraka saat itu, tapi juga gemas dengan istrinya.


"Aku benci harus berpuasa." jawab Radit sudah satu Minggu tak mendapat jatah dari istrinya.


"Besok aku masa subur, lusa kau boleh mengambil jatahmu setelah prosesnya selesai." rayunya lagi masih tak menyerah.


"Baiklah, siapkan dirimu." Radit memeluknya erat, mengunci tangan yang selalu membuatnya sakit kepala.


Tentu, kehidupan yang tak sempurna ini akan membuat seorang Radit kesepian. Walaupun tak terucap tapi Zahira sangat mengerti jika seorang laki-laki akan sangat menginginkan anak saat sudah menikah.


Dulu mereka berpisah hanya karena seorang anak yang di nyatakan Merry sebagai anak Raditya. Walau akhirnya semua terbongkar, semuanya bohong dan hanya menyakiti semua orang, tentu itu jangan sampai terulang lagi saat ini.


Beruntung Radit bersedia.


...Satu bulan kemudian...


"Bagaimana jika gagal?" tanya Radit pada Zahira di pagi itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja tidak terjadi apa-apa." Zahira enggan menanggapi, mata indahnya masih menutup, malas walau hanya sekedar mengintip.


"Baiklah. Aku harus bekerja." Radit mengecup bibir Zahira dengan sangat nikmat, tempat favoritnya itu sungguh tak pernah terlewatkan.


"Hem, Radit." Zahira menahan Radit agar tidak beranjak.


"Aku ada rapat penting pagi ini Sayang." Radit memeluknya sejenak, sungguh pagi hari adalah momen yang begitu menyenangkan.


"Aku masih ingin bersamamu." rengeknya terdengar sangat manja.


"Baiklah istriku." Radit kembali berbaring dan meraih ponselnya. "Hubungi yang lain, tunda tiga puluh menit."


Zahira tersenyum mendengar Radit menunda rapatnya.


"Tiba-tiba istriku sangat manja, apa sedang menginginkan sesuatu?" tanya Radit menangkap senyum tipis di wajah yang bersembunyi itu.


"Ingin jalan-jalan dan makan malam diluar." ucapnya kemudian.


'Tepat sekali, dia sedang menginginkan sesuatu.' gumam Radit di dalam hati.


"Ini masih pagi, apakah harus pergi dari sekarang?" tanya Radit memeluk erat Zahira.


"Tidak, hanya sedang ingin di peluk sepanjang hari."


Radit tersenyum penuh arti, sepertinya yang diinginkan Zahira bukan hanya di peluk.


"Baiklah, kita akan menghabiskan waktu sepanjang hari." candanya memulai aksi jahilnya.


"Ini bukan memeluk." protes Zahira tak bisa menolak, membiarkan Radit bergerak liar.


"Tentu saja Sayang."


Hingga tiga puluh menit kemudian, selesai dengan lega. Wajah cantik Zahira terlihat puas dan tak berkutik. Hanya menerima saat Radit masih saja sibuk menikmati bibir merahnya, bertaut penuh kasih sayang tak kenal bosan. Baru sejenak kemudian ia beranjak, mandi dan pergi ke kantor dengan senyum puas melihat Zahira kembali tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2