Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
60. Pengadilan


__ADS_3

"Aku tidak mau kita berpisah Zahira!" Radit ikut beranjak dari tidurnya.


"Terserah saja Radit, aku akan menggugatmu besok." Zahira berlalu keluar dari kamar itu, rasanya kamar manapun sudah tak nyaman ia tinggali. Malam itu Zahira keluar dengan tas kecil di bahunya, kali ini ia menyetir sendiri.


"Zahira kau akan kemana? Tolong kembalilah ini masih malam!" Radit mengejar Zahira.


Namun wanita muda itu diam tak menjawab, ia masuk ke dalam mobil dan keluar meninggalkan Radit yang masih mengenakan celana pendek tanpa baju.


Radit masuk meraih baju dan kunci mobil, ia juga akan menyusul dan mengikuti kemanapun Zahira pergi, sungguh ia tak mau kehilangan Zahira lagi.


Hampir satu jam mobil yang ditumpangi Zahira tak juga berhenti, entah akan kemana gadis itu pergi di waktu yang sudah larut seperti ini. Hingga akhirnya berhenti di sebuah apartemen besar, mobilnya masuk di ikuti mobil Radit. Dan di luar dugaan mobil Radit tidak di perbolehkan masuk, penjaga keamanan itu memintanya pergi.


"Tapi itu istri saya pak!" Radit tak mau menurut begitu saja.


"Kalau itu istri anda, mengapa tidak masuk dengan satu mobil saja?" Petugas itu menatap curiga.


Hingga Radit putus asa dan hanya bisa melihat istrinya ada di dalam masuk ke apartemen itu.


"Hay sayang!" Pria tampan dan rapi itu menyapa Zahira.


"Terima kasih bantuannya Om." ucap Zahira sopan.


"Apapun maumu." jawab pria itu lagi, dengan senyum mengembang.


"Dimana aku bisa istirahat." tanya Zahira setelah berada di dalam lift.


"Di lantai Lima belas, kau bisa beristirahat dengan tenang di sini." ucapnya lagi.


"Terimakasih." ucap Zahira menerima card.


"Selamat istirahat." pria itu meninggalkan Zahira setelah tiba di depan pintu dan Zahira berhasil membukanya.


"Om!" Zahira membuat pria yang sudah agak jauh itu berhenti melangkah.


Pria itu menoleh.


"Dimana alamat wanita itu?" tanya Zahira lagi.

__ADS_1


"Besok kau akan ke sana setelah berkasmu masuk pengadilan, aku sedang mempersiapkan semuanya. Apa kau membawa yang aku minta?" tanya Ricky sedikit mendekat.


"Ada." jawab Zahira yakin.


"Bagus." ucapnya tersenyum.


*


Pagi itu, Zahira sedang bersiap untuk pergi ke pengadilan agama sesuai arahan Ricky, tentu pria itu akan setia mendampingi Zahira.


"Kau yakin tidak akan menyesal menggugat suamimu?" tanya Ricky sebelum masuk ke dalam kantor pengadilan agama itu.


"Aku yakin." jawab Zahira pelan.


"Sekali lagi Zahira, apakah kau tidak akan menyesal berpisah dengan suamimu?" Ricky berkata tegas kali ini, ia tak mau ada sesal di kemudian hari, walaupun ia mendukung perpisahan Zahira tentu sesuai permintaan Anggara dia tak akan melakukan hal yang akan menyakiti Zahira.


"Aku tidak akan menyesal, dan siap dengan keadaan apapun." jawabnya sangat yakin.


"Baiklah, kita akan masuk dan mengurus semuanya." tak ada keraguan lagi, pengacara sekaligus asisten Anggara itu melangkah dengan pasti.


"Mama!" panggilnya pada Ayu, wanita empat puluhan itu sedang duduk di ruang keluarga.


"Iya." jawabnya pelan, wanita itu sudah tahu Radit akan mencarinya.


"Mama tolong aku, aku tidak mau kehilangan Zahira." pintanya dengan berlutut dan memegang ke dua tangan Ayu.


Ayu diam sambil memperhatikan wajah putra semata wayangnya, wajah tampan yang biasanya penuh karisma itu kini kurus dan pucat. Dia sungguh tak tega melihat penderitaan putranya, namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa, seperti yang Zahira katakan 'jika mama menjadi aku'.


"Apa yang harus Mama lakukan sayang, Mama tidak tahu?" ucap Ayu kemudian.


"Zahira akan menggugat cerai aku Ma, aku tidak mau kehilangan istriku, anak Mama juga." ucapnya terus memohon.


"Jadi kalian akan bercerai?" tanya David tiba-tiba keluar dari kamarnya.


"Papa, tolong aku!" ucapnya memohon pada keduanya.


David diam tak bergerak, pria itu tampak tak bisa bicara, wajahnya tegang dan bingung.

__ADS_1


"David!" panggil Ayu pada suaminya.


"Artinya kita akan kehilangan anak?" ucapnya lagi masih berpikir jauh entah kemana.


"David itu belum pasti, tenangkan dirimu." Ayu beranjak dan segera menggandeng suaminya untuk duduk.


Radit menatap wajah David yang masih menegang, entah mengapa ia khawatir David sedang tidak baik-baik saja.


"Aku ingin bicara dengan Zahira, dimana putriku berada." ucapnya sedih.


"Apa Papa sedang sakit?" tanya Radit.


"Semenjak Zahira menghilang dua hari lalu, Papa mencarinya hingga lelah dan kemarin ia sakit." jelas ayu.


Radit menunduk, ia bersalah, sungguh-sungguh merasa bersalah. Keluarganya hancur, pernikahannya akan hancur, semuanya berantakan, itu semua karena Radit.


"Aku akan bawa Zahira kemari." ucapnya lemas, Radit beranjak dari duduknya dan segera mencari Zahira.


"Tunggu!" Ayu menghentikan langkah Radit.


"Ya!" Radit menoleh.


"Katakan padanya, Papa sakit dan ingin bertemu." ucap Ayu penuh harap, ia tidak tahu harus menghubunginya kemana bahkan ponselnya tak pernah aktif.


"Iya." Radit melangkah keluar.


Zahira tak mau menemuinya lagi, ditambah lagi sebab semalam Zahira pergi dari rumah dan bersembunyi di apartemen besar itu. Radit menarik nafas dalam, sungguh ia putus asa dengan keadaan ini, belum lagi semalam ia mengatakan ia akan menggugat cerai. Tunggu! menggugat cerai berarti ke pengadilan agama.


Radit merubah haluan, ia bergegas menuju pengadilan agama terdekat dan berharap menemukan Zahira, pasti akan menemukannya.


Pukul 9:40, Zahira baru saja selesai mengajukan surat gugatan beserta menjawab banyak pertanyaan dari petugas itu, banyak sekali hal yang harus ia jawab, dan akhirnya sidang pertama sudah di tentukan Minggu depan, hari Senin tepatnya beberapa hari lagi.


"Kau baik-baik saja Zahira?" tanya Ricky melihat wajah cantik itu tampak menunduk dan sedih.


"Aku hanya tidak menyangka pernikahan yang amat bahagia itu akan berakhir di pengadilan ini, tak pernah terpikirkan olehku akan meminta berpisah dari suami yang teramat aku cintai, suami yang merupakan tumpuan hidup dan satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini." Zahira menangis pilu, wajahnya pucat dan sedih. "Sekarang aku sendiri Om, aku tidak punya siapa-siapa. Suamiku, Papa, Mama, aku kehilangan mereka semua." Zahira menangis dan kali ini ia duduk menutup wajah dengan kedua tangannya.


Ricky menatapnya dengan iba, sungguh ia tak dapat membayangkan betapa sedihnya gadis itu, pantas saja Anggara mengatakan dia sedang sangat menderita. Hidup tanpa orang tua, dan harus bercerai di usia yang masih sangat belia. Teman tak punya, keluarga apalagi. Ricky terpaku menatap gadis itu menangis pilu, ingin rasanya membawa gadis itu pergi dari negara ini agar tidak menderita lagi. Ah pikiran Ricky jadi macam-macam melihat gadis pujaan Anggara itu, Ricky menepuk-nepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2