
"Sebenarnya ada temanku di sana yang ingin mengajakku untuk memulai bisnis, dan aku tertarik." ucap Radit, kata-katanya sedikit ragu.
"Tapi perusahan kita ada di sini Radit, untuk apa memulai bisnis yang baru, yang lama saja belum sepenuhnya kita kuasai." suara lembut itu begitu menenangkan tapi juga membuat Radit semakin gugup.
"Hanya tertarik sayang, lagi pula aku rindu masa-masa kita di negara itu. Kau dan aku begitu dekat, tapi juga begitu jauh, hingga akhirnya kau dan aku menjadi kita." Radit mencoba merayunya.
"Benar, aku begitu tak bisa jauh darimu, aku ingin selalu bersamamu dari dulu hingga saat ini, berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku Radit." ucap Zahira masih menyandarkan kepalanya di dada Radit.
"Sebaliknya akulah yang takut kau pergi meninggalkan aku Zahira." ungkapnya pelan. Hatinya bergetar hebat, kembali bayangan itu terlintas dipikiran Radit, membelah kasih sayang yang begitu besar, rasa bahagia itu menjadi tak bisa dinikmati sepenuhnya lagi dengan Zahira.
Malam semakin larut, sepasang suami istri itu masih enggan beranjak di balkon kamarnya. Zahira yang menyandarkan kepalanya di bahu Radit sudah terlelap jauh di alam mimpi. Radit menoleh wajah itu begitu membuat bahagia, tapi juga membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Biasanya akhir pekan adalah hal yang di nantikan Radit untuk menghabiskan waktu bersama Zahira, Namun beda kali ini Radit semakin gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi dengan Zahira.
"Radit." panggil Zahira menggeliat dalam selimut yang masih menutup sebagian tubuhnya.
"Iya sayang." Radit sudah bangun lebih dulu namun tidak seperti biasanya, dia menyandar dan melamun melihat ke arah yang jauh. Lalu kemudian Radit mengelus kepala Zahira yang mendekat dengannya.
"Biasanya kau akan memeluk dan menciumku di pagi hari, kenapa pagi ini kau tidak melakukannya. Apa rasa cintamu sudah berkurang?" tanya Zahira begitu polos, bibirnya mengerucut menunjukan ia tidak suka di acuhkan.
"Bukan sayang, cintaku, kasih sayangku masih sama." Radit segera meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat, sadar bahwa setiap malam ia tak pernah membiarkan Zahira tidur nyenyak, tapi tidak malam ini.
"Apa kau tidak enak badan?" Zahira mengulurkan tangannya menyentuh kening nan luas itu.
"Tidak sayang, aku hanya ingin melihat kau istirahat dengan nyenyak. Kau pasti lelah selama berbulan-bulan ini selalu menuruti keinginanku yang tidak pernah ada habisnya." Radit tersenyum dengan tatapan mesra.
__ADS_1
"Itu tugasku sebagai istrimu, aku bahagia jika bisa membuatmu bahagia, kau bebas melakukan apa saja termasuk memukulku jika aku salah."
"Tidak mungkin aku tega memukulmu Zahira sayang, suami adalah pelindung bagi seorang istri, melindungi dari rasa sakit hati dan fisik dan melindungi dari banyak hal lainnya yang sudah pasti kau lebih tau dari diriku." jawab Radit cepat, hatinya bergejolak.
Ada yang salah dari ucapannya, sungguh kemarin ia telah menyakiti hati Zahira, secara tidak sengaja sudah membagi miliknya dengan wanita lain. 'Aku sudah menyakitimu Zahira, aku bahkan sangat-sangat menyakitimu. Kau tau sayang, saat ini aku sangat takut kehilanganmu, rasanya lebih baik Tuhan mengambil nyawaku saja daripada harus kehilanganmu karena kebodohan ini.'
"Aku tau kau sangat menyayangiku." Zahira memeluknya erat.
"Hari ini aku ada rapat di kantor Mama sayang, lalu malamnya kita akan menghadiri acara peresmian cabang hotel Anggara yang baru." Radit mengelus kepala Zahira, sambil menjelaskan jadwal mereka hari ini.
"Apa boleh aku ke salon? Aku ingin bersantai sejenak." pintanya begitu manja.
"Tentu boleh, nanti aku akan mengantarmu sebelum aku ke kantor mama. Lagi pula akhir pekan ini hanya Rapat staf saja." jelas Radit lagi.
*
Radit turun lebih dulu membukakan pintu untuk Zahira, perlakuan istimewa sejak Zahira masih kecil itu tak pernah berubah baik dari David dan Ayu juga Raditya sendiri. Zahira keluar dengan tas kecil di lengan kecilnya, jari-jari lentik itu langsung di raih Radit dan mengantarnya hingga ke dalam.
"Sayang aku pergi dulu, nanti setelah selesai rapat aku akan menjemputmu." ucap Radit tepat setelah Zahira di sambut pegawai salon dengan sangat ramah dan sudah berada di ruangan khusus.
"Iya." Zahira meraih tangan Radit dan mencium punggung tangannya.
Entah mengapa kali ini Radit merasa nyeri saat bibir mungil itu menyentuh punggung tangannya, Radit segera meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dan menciumi wajahnya berulang-ulang.
"Aku pergi sebentar sayang." ucapnya seperti enggan melepas Zahira, namun kemudian berlalu karena waktu rapat sudah dekat.
__ADS_1
'Apa karena semalam tidak melakukannya hingga membuatnya begitu bernafsu menciumku.' Zahira tersenyum geli memikirkannya.
Lama hingga satu jam sudah berlalu, Zahira masih bersantai dengan semua perawatan di seluruh tubuhnya, tapi sepetinya ada pelanggan yang lain masuk ke ruangan itu untuk melakukan perawatan. Terdengar langkah kaki dan percakapan antara pegawai dan seseorang wanita.
"Silahkan nona." ucap pegawai itu.
Zahira yang sedikit penasaran membuka matanya dan menoleh. Dan ternyata wanita itu adalah teman sekolah Radit, wanita yang terlihat di Restoran ayam bakar waktu itu. Zahira tersenyum sedikit, wajah cantik sehabis perawatan dengan bibir merah juga lesung pipi yang begitu menggoda terlihat begitu sempurna, gadis itu terkejut tapi juga kagum melihat kecantikannya. Seakan terpaksa ia membalas senyuman Zahira.
Tak ada percakapan, kedua wanita muda itu melanjutkan perawatan masing masing dan sepertinya Zahira sudah akan selesai.
"Assalamualaikum sayang." suara Radit terdengar begitu dekat.
Zahira membuka matanya dan terlihat jelas wajah tampan itu tepat di atas wajahnya, pria itu berdiri di belakang Zahira duduk setengah berbaring.
"Wa'alaikum salam Radit sayang." jawab Zahira tersenyum manis, Radit langsung menjatuhkan ciuman hangat di kening mulus dan bersih itu.
"Kita ke butik dulu, kau butuh gaun sayang." tanya Radit lagi karena pegawai salon itu sudah selesai.
"Iya." jawabnya halus, beranjak dari duduknya dan meraih hijab yang masih terlipat rapi di atas meja. Kemudian ia mengganti hijab yang ia pakai dengan yang baru.
Seseorang yang tak jauh disebelahnya melihat dengan tatapan begitu kagum tak percaya, matanya tak berkedip menyaksikan kecantikan yang di sembunyikan di balik hijabnya itu. Begitu sempurna dan belum pernah di lihatnya, wajar saja Radit begitu tergila-gila pada wanita itu.
"Ini." Radit menyerahkan sebuah kartu kredit untuk membayar tagihan kepada pegawai salon.
Zahira berdiri langsung di raih Radit dan memeluknya begitu mesra. mereka tidak sadar seorang wanita di sebelahnya menahan panasnya api cemburu, terlebih lagi bayangan hari kemarin masih terpampang jelas di ingatannya. Radit yang tampan dan gagah itu selalu membuatnya gelisah dan ingin memiliki, tepatnya ingin mengulang kegiatan itu lagi bersamanya.
__ADS_1