
"Merry!" panggil Radit di sore itu.
"Kau memanggilku?" tanya Merry dengan senyum di wajahnya.
'Senyummu itu membuat aku muak.' ucap hati Radit. "Apa Laura sudah bangun?" tanya Radit kemudian.
"Sudah." Merry menyingkir dari tempatnya berdiri, sehingga Radit dapat melihat Laura dari luar kamar.
Radit masuk menuju ranjang bayi berwarna merah muda itu, ia tersenyum melihat bayi yang sudah biasa tengkurap. Wajah bulat seperti bulan purnama itu tampak berbinar melihat kedatangan Radit, mata mereka beradu seakan sedang bertaut rindu.
Radit meraihnya, mengangkat tubuh bulat nan menggemaskan itu sedikit tinggi semakin membuat Laura kegirangan, senyum tanpa gigi memperlihatkan lidahnya yang basah.
"Kita main ke depan Sayang, sudah lama sekali Papa tidak mengajakmu bermain di halaman." ucap Radit tersenyum hangat.
Tentu saja itu tidak lepas dari tatapan Merry, wanita itu tersenyum senang melihat kedekatan Radit dan Laura putrinya. Ia masih tak beralih dari posisinya, memperhatikan kepergian mereka menuju halaman. Tapi entah mengapa kali ini ia merasa hatinya bersedih, padahal harusnya itu awal keberuntungan untuk Merry, bukankah jika Radit menyayangi Laura maka Radit akan menangguhkan tuntutan Anggara suatu saat nanti.
Mendadak Merry merasa takut, takut berpisah dengan Laura, takut berpisah dengan Radit, juga takut semuanya terbongkar dan akhirnya semua yang sudah ia dapat dengan susah payah akan hancur tak bersisa.
Sementara di luar rumah, Radit sedang asyik bermain dengan Laura. Bayi cantik itu masih terus saja memperhatikan Radit tanpa berkedip, bibir basahnya tersenyum dan mengeluarkan suara yang menggemaskan, sesekali tangan kecilnya mengepal dan ia masukkan ke dalam mulut kecilnya.
"Sayang apa kau lapar?" Radit mengecup pipi gembul Laura. Sungguh bayi itu tidak bersalah, bahkan keluarganya hancur sebab ia ingin mempertahankan Laura. Tapi jika ternyata? Lagi-lagi takdir begitu tega dengan hidupnya, Radit tersenyum getir.
Lama menggendong Laura di luar, ia jadi ingat sesuatu.
"Merry, bisa ambil Laura sebentar!" Radit meneriaki Merry dari pintu depan.
Tak begitu lama Merry keluar dan meraih Laura dari gendongan Radit, matanya melirik Radit yang tampan, ia sungguh berharap mereka menjadi suatu keluarga yang utuh suatu saat nanti.
__ADS_1
Radit berlalu masuk, meraih kunci mobil dan segera pergi tanpa bicara atau berpamitan. Sikapnya memang selalu begitu, apa saat menikah dengan Zahira dia juga seperti itu? Tapi Radit malah seperti budak cinta saat ketika mereka masih menikah. Kembali Dada Merry memanas jika mengingat Zahira.
"Kau ada dimana?" Radit sedang menghubungi seseorang.
"Di rumah." jawab laki-laki di seberang sana.
"Aku ingin bicara." meskipun terlihat malas, bahkan tak suka.
"Bicara apa?" yang di sebelah sana juga terdengar malas juga tak suka.
"Mas, itu siapa?" suara manja terdengar menggelitik dari sambungan telepon.
"Di Cafe Black White, Tiga puluh menit lagi." ucapnya kesal, wajah yang putih bersih itu kini memerah menahan emosi, ia bahkan mematikan ponselnya.
Tangan kokoh itu mengepal dan memukul kemudi mobilnya. "Dasar tua bangka, sok mesra, panggilan yang menjijikkan." desisnya dengan mata memerah.
Radit mengehentikan mobilnya, ia berpikir untuk mengurungkan bertemu Anggara. Tapi sejenak kemudian ia kembali melaju karena ia memang harus bertemu dengan pria tua yang tak laku itu, dan hanya laku saat mencuri Zahira. Sungguh hati Radit sedang kesal sekali.
"Sudah lama?" suara Anggara membuatnya menoleh.
"Belum." jawab Radit singkat, ia teringat panggilan menjijikkan itu keluar dari mulut Zahira.
"Kau ingin bicara apa sehingga harus bertemu denganku." Anggara menyilang dua tangannya di dada, pria itu duduk menyandar dengan masih menatap wajah Radit.
"Aku ingin bertemu dengan laki-laki yang kau sebut dekat dengan Merry." jawab Radit balas menatap mata coklat Anggara.
"Untuk apa?" tanya Anggara masih tak merubah posisinya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu, lagi pula bagaimana ceritanya hingga aku yang harus bertanggung jawab jika ada laki-laki lain yang bercocok tanam dengannya." Radit tersenyum sinis, ia sedang tidak suka dengan nasibnya sendiri.
"Tentu saja karena kau juga menanam bibit di dalam lahan yang sama." jawab Anggara menggelengkan kepalanya.
"Menjengkelkan sekali." Radit menatap tak suka.
"Tapi aku khawatir jika yang kau dengar dan yang kau lihat akan membuatmu semakin marah, dan menghajarnya dengan membabi buta." Anggara mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Itu karena kau yang mengambil milikku." Radit menatap tajam pada pria yang sedang menyindirnya.
"Merry juga milikmu, hanya kebetulan ada yang juga sering memakainya." jawab Anggara tak mau kalah.
"Aku tidak menganggapnya milikku, jika laki-laki itu menginginkannya maka akan ku berikan dengan senang hati. Tapi tetap saja aku harus memberi mereka pelajaran, karena mereka sudah keterlaluan. Menipu, mencelakai Zahira dan banyak lagi kelakuan mereka yang harus di perhitungkan." Radit mencoba berpikir dewasa.
"Baiklah, kita akan ke sana, tapi jangan kau habisi dia. Atau jika tidak kau yang akan menggantikannya masuk penjara." Anggara menoleh sedikit, ia sudah beranjak keluar menuju mobilnya.
Radit mengambil Cup berisi kopi latte untuk di minum di dalam mobil, dan menyusul Anggara.
"Kau ikut mobilku saja." tawar Radit pada saingannya.
"Tidak perlu, nanti kau emosi melihat wajah tampanku." Anggara meraih Satu Cup kopi dari tangan Radit, dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Dia pikir wajahnya sangat tampan? Salah perasaan, sombong sekali padahal baru beberapa bulan ia laku tanpa sengaja." Radit berbicara sendiri, masuk ke dalam mobilnya dan segera meluncur menyusul Anggara.
Tiba di sebuah gedung, Dua mobil beriringan itu berhenti. Anggara turun lebih dulu dan di susul Radit ikut turun dari mobilnya. Tampak Tiga orang bodyguard mendekat dan berbicara pada Anggara. Lalu kemudian mereka masuk bersama.
Ruangan tak terawat itu terasa menyeramkan jika di masuki sendirian, Radit terus melangkah mengikuti Anggara beserta dua orang masuk membawa kunci. Ia sedang berpikir keras tentang siapa laki-laki yang dekat dengan Merry, dan lagi menurut cerita Anggara Radit juga mengenalnya, ia sedang mengingat-ingat siapa teman Radit yang juga berteman dengan Merry.
__ADS_1
"Masuklah!" Anggara meminta Radit masuk lebih dulu.
Tampak Ragu namun ia harus tahu, hatinya sungguh penasaran. Radit melangkah masuk dengan mata yang siap menemukan sosok yang membuat hidupnya hancur habis-habisan. Seketika mata sipit Radit terbuka dengan memaksa, saat ia melihat sosok yang sedang duduk memeluk lututnya itu adalah seseorang yang sangat ia kenal, bahkan sangat dekat.