
Hening, mereka duduk dengan saling berdiam. David dan Ayu tak berbicara, mereka menunggu hal apa yang membuat dua orang di hadapannya terlihat tegang.
"Papa!" ucap Zahira setengah terbata, menunduk dan meremas jari lentiknya sendiri.
"Ya, Sayang." David ikut tegang dengan udara yang mendadak beku.
"Aku ingin mengelola perusahaan Ibu, mulai pekan depan." ucapnya pelan, ragu namun terkesan keharusan.
David belum menjawab.
"Maaf, aku tidak memberi tahu Papa dan Mama sebelum ini, tapi aku sungguh-sungguh ingin bekerja dan... sepertinya bekerja di perusahaan Ibu lebih baik." Zahira masih tampak meremas jarinya sendiri.
"Tapi bukan itu yang akan kita bicarakan Sayang." Anggara menyela.
"Ya, tapi aku memang ingin berbicara soal ini sejak...sejak lama." ungkapnya gugup. Jelas sekali ia sedang berbohong.
"Perusahaan itu memang milikmu, keuangan dan pengelolaan di pegang seluruhnya oleh sekretarismu, Tina. Kau bebas mengambilnya kapan saja, juga aset-aset yang lain. Semua uangmu masih atas nama ayah dan ibumu. Tidak ada orang yang bisa mengambilnya kecuali dirimu, bahkan Papa tidak pernah memakainya." David meyakinkan Zahira agar tidak ragu untuk mengelola miliknya, tapi ia tetap merasa ada sesuatu yang lain.
Anggara memijat keningnya sendiri dengan pernyataan Zahira, ia merasa itu tak perlu terjadi.
"Apa yang sedang terjadi? Tidak mungkin jika Anggara sedang bangkrut?" Ayu menatap penuh selidik.
"Tentu saja tidak!" Anggara menjawab.
"Lalu?"
"Ibuku memiliki saudara tiri, saat ini di ada di Indonesia walau tidak menetap pad awalnya, tapi ia sering datang semenjak mendengar kehadiran putraku. Dan akhir-akhir ini ia sudah datang ke rumah sebanyak Dua kali." Anggara berhenti sejenak.
"Apa dia sedang mengambil hartamu?" Ayu sudah tidak sabar mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Belum, tapi dia menginginkannya." jawab Anggara.
"Tapi tidak semudah itu bukan, mengapa kalian seperti sedang berpikir terlalu banyak, terkesan sedang khawatir."
"Paman Daniel berbahaya Papa, Mas Anggara curiga jika dia adalah pelaku pembunuhan Mama mertuaku puluhan tahun yang lalu, dan dia datang lagi saat ini. Jujur saja aku tidak takut jika itu yang di incarnya adalah aku, tapi aku takut jika itu-"
"Papa tahu." David tak ingin mendengar Zahira menyebut Dua Jagoan mereka.
"Jika dia menginginkan uangmu, mengapa tidak kau berikan saja." Ayu memberi saran.
"Aku sudah menyarankannya!" Zahira melirik Anggara, mengisyaratkan jika suaminya belum setuju.
David dan Ayu menatap ke arah Anggara bersamaan, mereka sungguh ingin segera menemukan jawaban.
"Tidak semudah itu. Dia seorang pebisnis gelap, perjudian, wanita, obat terlarang dan banyak lagi. Jika aku memberikan semua hartaku padanya maka dia akan berkuasa dengan semua kekejiannya. Semua sekolah, rumah sakit dan fakultas pendidikan akan menjadi sasaran utamanya untuk menjadi bisnisnya semakin lancar. Banyak wanita yang akan peralat olehnya, banyak pegawai rendah yang terpaksa menurut dengan perbuatan jahatnya, dan banyak lagi hal-hal yang tidak pantas akan terjadi. Aku tidak bisa membiarkan itu." jelas Anggara sedikit mengerutkan keningnya.
"Tapi aku tidak mau kau mengorbankan keluarga kita, aku tidak bisa hidup tanpamu, apalagi jika sampai dia menyasar pada Satria juga Sadewa!" Zahira meluapkan kekhawatiran.
"Apa tidak ada pilihan?" ucap Zahira menunduk bingung.
"Papa akan bersamamu." David mencoba menenangkan Zahira.
"Aku akan menghadapinya, lagi pula aku sudah siap, bersiap sejak lima tahun yang lalu ketika pria itu datang ke Indonesia."
"Apakah dia sudah memulai bisnis di sini?" Ayu jadi semakin penasaran.
"Berbisnis dengan mantan besanmu, Anwar. Dia yang memberi asupan dana ketika aku menarik saham." jelas Anggara.
"Anwar? Darimana mereka saling mengenal?" Ayu jadi semakin heran.
__ADS_1
"Jika bermain bisnis gelap, maka akan mengenal Daniel sebagi Bos besar yang berkuasa. Dan akhir-akhir ini ku dengar Anwar sudah bebas, dan sedang berusaha membebaskan menantumu. Ricky sedang mempertahankan tuntutan saat ini." Anggara menjelaskan semuanya.
"Ku rasa mereka cukup dekat." David menyahut.
"Atau kita pergi saja ke London, di sana ada Mama Alisa dan saudara sepupuku!" Zahira seperti mendapat jawaban.
"Jika itu yang terbaik, maka kau dan anak-anak yang akan pergi." Anggara menggenggam tangan Zahira lembut.
"Kau keras kepala!" Zahira menarik tangannya dan beranjak dari duduknya.
"Sayang!" Anggara meraih tangan itu lagi, tapi percuma masuk ke dalam kamar, wajahnya terlihat kesal dan marah.
"Apa kau tidak bisa menurut saja dengan apa yang diminta istrimu?" Ayu merasa jika usul Zahira ada benarnya.
"Masalah tidak akan selesai hanya dengan berlari." Anggara menjawab pelan, hatinya sungguh tidak tenang Zahira merajuk.
"Aku tahu, tapi ini demi Dua anak-anakmu. Mereka butuh kenyamanan, mereka masih terlalu kecil." Ayu mencoba membujuk Anggara.
Anggara menarik nafas. "Aku sedang memikirkannya." jawab Anggara menoleh pintu kamar sedang tertutup. "Sebaiknya kita makan, aku akan membujuk Zahira." Anggara beranjak dari duduknya.
"Kita harus bagaimana?" tanya Ayu kepada David yang sejak tadi lebih banyak berpikir.
"Kita ambil Sadewa dan Satria." jawabnya singkat dan menerawang jauh.
"Kau yakin?" tanya Ayu memikirkan sesuatu.
"Ya, ku rasa Anggara masih sangat melindungi putranya. Dan mulai sekarang kita mengambil alih agar anak-anak aman dari incaran Daniel itu. Ku rasa dia tidak akan tahu kita adalah Kakek dan Neneknya, karena kita tidak pernah mengganti identitas Zahira sebagai putri Reva dan Aldo." David menoleh Ayu dengan yakin.
"Semoga saja." Ayu setuju.
__ADS_1
Tentu saja menyenangkan jika si kembar tinggal di rumah mereka, akan sangat menghibur untuk Ayu yang sering berada di rumah semenjak Radit pulang dan menggantikan dirinya. Merasa menjadi kakek dan nenek sepenuhnya setelah kehadiran Satria dan Sadewa, tentu hanya mereka harapan David dan Ayu.