
Malu rasanya ketika kembali berdandan untuk mendengar ijab Kabul yang ketiga kalinya.
Tak terbayangkan bukan, ketika dulu saat pertama kali menikah dengan Radit, merasa itulah pernikahan satu-satunya, terakhir dan selamanya. Tapi takdir kehidupan menentukan jalan yang berbeda, meskipun pada akhirnya dipertemukan lagi dengan dirinya, dipersatukan lagi dalam ikatan suci pernikahan. Tapi detik-detik menyaksikan tangan kedua pria itu bertaut, membuat dadanya sesak dan mengingat segala hal yang sudah di lewat.
Kebahagiaan.
Kerinduan.
Dan kehilangan.
Mendadak air mata bening itu turun dengan sendirinya, sesak itu naik hingga menutup telinga dan berdengung menghalangi pendengaran ketika bibir Rey berucap tegas dan akhirnya.....
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahira Putri Bramastya binti Aldo Bramastya dengan mas kawin tersebut di bayar, tunai!"
Kali ini tak hanya satu dua tetes, tapi ada banyak air mata yang mengalir, deras bagaikan air mata perpisahan.
Anggara.
Hatinya memanggil, tapi rasanya jarak begitu luas membentang, yang datang malah pria muda yang tampan, bermata sipit dan tersenyum manis, mengulurkan tangannya, Raditya.
Zahira terpaku menatap wajah yang seakan mengejutkan, padahal sudah sejak lama wajah itu menjadi kelopak mata baginya. Begitu dekat dan selalu ada, sempat tak terlihat dan tak dihiraukan, nyatanya tak mudah tanpa dirinya, dan tak bisa tanpa dirinya.
Pelukan hangat berlapis menghambur pada tubuh ramping Zahira, tangis bahagia dan haru, sedih dan banyak lagi semuanya tercurah pada sosok yang lembut tak mampu berucap apa-apa selain air mata.
"Terimakasih sudah kembali pada Papa dan Mama." ucap Ayu terisak begitu dalam memeluk Zahira.
"Anak Papa." ucap David tak kalah terharu, mata yang mulai mengendur di makan usia itu berkaca-kaca memeluk istri dan menantunya.
Radit tersenyum penuh haru, tangan yang terulur itu belum sempat di sambut, hanya mata mereka saling bertaut, berbicara tentang kesedihan juga kerinduan.
Dua anak laki-laki itu ikut mendekat menyaksikan tangis ibu dan yang lainnya. Mereka berdiri seolah menjadi penjaga untuk mereka.
Radit merangkul mereka dengan lembut memandang wajah tampan itu satu persatu, lalu keduanya menghambur memeluk Radit dengan hangat.
Semua orang yang hadir tak hanya merasa bahagia menyaksikan pernikahan itu, tapi ikut menangis haru ketika melihat seluruh keluarga saling memeluk, menangis dan bahagia bersamaan. Perjalanan mereka sungguh tak mudah, panjang dan berliku, semuanya tak lagi rahasia.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Ricky selaku asisten terdekat Zahira.
"Terimakasih Om, kau selalu ada untukku." ucap Zahira kepada Ricky.
"Itu sudah tugasku, jika tidak aku tidak di gaji." jawab Ricky tak mau kembali terbawa suasana haru.
__ADS_1
"Kau benar sekali." Radit memeluk Ricky, yang juga mengucapkan selamat dan menepuk pundaknya.
"Maaf, aku sempat andil dalam proses perceraian kalian saat itu." ucap Ricky lagi.
"Kami sudah menikah lagi kau baru mengaku. Sangat terlambat! Kau tidak mungkin lupa jika aku sudah sangat menderita hingga menjadi gila." kesal Radit pada asisten seusia David tersebut.
"Aku tidak lupa, aku hapal semua penderitaan mu. Itu sebabnya aku merekomendasikan namamu untuk menjadi pengganti Anggara." jawab Ricky enteng.
"Asisten durhaka." gumam Radit masih dapat di dengar Ricky.
"Kau baru tahu." Ricko ikut mendekat dan bercanda, sambil memeluk Radit dan mengucapkan selamat.
"Terimakasih untuk semuanya." ucap Radit pada Ricko juga Ricky yang tersenyum melihat ke arahnya.
Keduanya mengacungkan jempol, terlihat kompak sekali.
"Apakah mereka selalu seperti itu?" tanya Radit pada Zahira di sela menerima ucapan selamat dari banyak pihak.
"Ku rasa iya, Papa pasti lebih tahu." Zahira menertawai kedua asistennya.
"Tapi mereka meninggalkan sesuatu." ucap Radit melihat sesuatu yang di selipkan Ricko di jas Radit.
Radit membuka amplop berwarna hitam tersebut dan melihat isinya.
"Voucher hotel." jawab Radit terkekeh geli.
"Benarkah?" Zahira ikut terkekeh geli. "Ada-ada saja."
"Asistenmu itu sedikit pengertian." ucap Radit masih menertawai amplop tersebut.
"Pengertian bagaimana? Lusa kita sudah harus bekerja." jawab Zahira menggelengkan kepalanya sedikit.
"Tapi Voucher yang mereka berikan satu Minggu." Radit kembali terkekeh.
"Artinya aku tidak akan masuk satu Minggu." jawab Zahira masih tertawa.
Benar saja, Satria dan Sadewa pulang lebih dulu bersama Ayu dan David, mereka sengaja meninggalkan Radit dan Zahira.
"Sepertinya Voucher ini berguna." Radit mengeluarkan amplop berwarna hitam itu lagi.
"Terserah kau saja." Zahira melihat sekeliling sudah mulai sepi, hanya para asistennya yang tersisa mengurus segala sesuatu yang ada di gedung tersebut.
__ADS_1
Radit mengulurkan tangannya, mengajak Zahira masuk ke dalam mobil.
"Pergilah Nyonya." Jia tersenyum senang, sambil membantu Zahira mengangkat gaun yang menutup kakinya.
"Ya, tak perlu khawatirkan apapun." Alisa ikut menyahut, menggandeng Zahira menuju mobil Raditya.
Sekilas menoleh Ayra yang tampak frustasi dengan banyak makanan di mejanya bersama Reza.
"Pergilah Sayang." ucap Alisa lagi.
"Terimakasih Mama." jawab Zahira pada ibu Ayra tersebut.
Mobil melaju tak begitu kencang menelusuri jalanan kota menuju hotel berbintang yang tak kalah mewah dari milik Anggara.
Ya, walaupun milik Anggara yang paling mewah dan berkelas. Zahira tidak ingin memakai milik suaminya, itu akan membuatnya bersedih.
"Kita sudah sampai Sayang." Radit melihat hotel yang menjulang di depannya, menunjuk gedung tersebut pada Zahira yang menyandarkan kepala di bahunya.
"Hem." Zahira mengangguk dan ikut keluar bersama Radit, sopir keluarga Radit itu begitu sigap membawa dan melayani kedua orang pengantin baru tersebut.
"Terimakasih Pak." Radit mengambil barang-barang miliknya ketika berada di depan pintu kamar yang mereka tuju.
"Sama-sama Mas Radit, ini kunci mobilnya." pria itu memberikan kunci mobil Radit. lalu pergi bersama dua pelayan hotel yang menyambut kedatangan Radit dan Zahira.
"Ya." Radit mengambil kuncinya dan membuka pintu kamar mereka.
Zahira masuk lebih dulu, melangkah perlahan melihat kamar yang begitu luas dengan hiasan ala pengantin baru. Bunga, dan berbagai hiasan penuh keindahan, kedua asistennya itu sengaja memberi kado terindah untuk Zahira dan Radit.
Jari lentiknya menyentuh kelopak mawar yang bertaburan, teringat kala itu kelopak bunga yang sama juga menghias kala malam pertama bersama Anggara.
Bibir merahnya tertarik sedikit, mengingat betapa mesra dan hangatnya malam itu terlewati.
Tapi kemudian Zahira menggelengkan kepalanya, ingat jika saat ini ada Radit bersamanya, Radit suaminya.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Radit pelan, sepertinya dia memperhatikan Zahira sejak tadi.
Sedikit tersentak dengan pertanyaan itu, takut Radit marah atau kecewa.
Zahira berbalik dan menatap pria yang kini juga menatap dirinya.
"Delapan bulan bersamamu membuat aku tidak bisa jatuh cinta lagi pada siapapun, dan kau menikah dengannya selama delapan tahun." ucap Radit terus menatap mata bening Zahira.
__ADS_1