
"Aku tidak mau menikah lagi." lirih Zahira menatap Ricky sejenak, lalu menunduk.
"Kau pasti akan menikah lagi, usiamu baru 25 tahun Zahira." Ricky menyandar lelah.
"Tapi di hatiku hanya ada Mas Anggara saja. Dia yang memberiku kebahagiaan, Dua anak laki-laki dan sekarang aku sedang hamil lagi. Dia sangat ingin anak perempuan, aku harap sesuai keinginannya." tertutup meja, tangan kecil itu memegang perutnya yang sudah mulai penuh.
"Mereka akan menerima kau apa adanya." Ricky menyatakan dukungannya.
"Om, aku tidak sedang ingin menikah lagi!" kesal Zahira.
"Jika kau tidak memilih salah satu maka mereka akan terus mengganggumu! Itu baru Dua orang Zahira! Belum yang di luar sana sudah berani bertanya-tanya tentang dirimu, mereka sedang menunggu celah." Ricky sedikit meninggikan suaranya.
"Aku tidak peduli!" kesal Zahira lagi.
"Kau tidak peduli! Aku bisa mati berdiri karena harus berhadapan dengan laki-laki pengejar cintamu setiap hari." Ricky menunjuk berkas yang baru saja di buka lalu terabaikan gara-gara saling meminta perhatian Zahira.
"Kalau begitu aku pulang saja, aku tidak akan masuk bekerja."
"Kau pikir mereka tidak tahu rumahmu." Ricky menggeleng sambil memijat keningnya.
"Jangan membuatku serba salah." Zahira menyandar lelah, kesal sekali harus mendengarkan ocehan asisten suaminya. "Aku akan meminta para bodyguard yang besar untuk menjagaku agar tidak di dekati siapapun."
"Reza Mahendra dan Raditya tidak mempan dengan bodyguard. Bahkan dengan tidak sopannya dia merayumu di depan semua orang. Sebentar lagi dia akan memanggilmu sayang pada rapat besar tahunan. Mengumumkan secara tidak langsung bahwa kau calon istrinya."
"Dia tidak akan melakukan itu!" Zahira menepuk berkas di atas meja.
"Bagaimana kalau dia melakukannya? Bahkan penolakan mu dia tak kan peduli."
"Baiklah, aku akan memanggil mereka masuk. Ini harus selesai dan aku menunggu hasilnya diruanganku." Zahira beranjak dari duduknya, menuju keluar menemui Dua orang pria yang baru saja di usir asistennya.
Zahira melihat Dua orang pria itu sedang beradu pandangan. "Masuklah, semua harus selesai. Jika tidak tim kita tidak akan bisa bekerja." Zahira berbicara pada keduanya, mereka tampak saling membuang muka.
Radit berjalan lebih dulu, tidak mau memulai perdebatan lagi.
"Kau mau kemana?" Reza melihat langkah Zahira akan berlawanan arah.
__ADS_1
"Keruangan ku, agar kalian lebih fokus bekerja." jawab Zahira halus.
"Aku-"
"Selesaikanlah berkas-berkas itu." Zahira memotongnya ucapan Reza. Lalu meninggalkan masuk ke ruangannya.
Ruangan kebesaran Anggara, foto pemimpin perusahaan itu masih terpajang pada tempatnya, dan foto Zahira di atas meja kerja itu. Semuanya membuat Zahira menarik nafas berat, suami sempurna dalam segala sisi, tapi begitu cepat dia pergi.
"Mana mungkin aku bisa menikah lagi."
...****************...
Tiga bulan kemudian.
"Sidang Merry Sandra sudah di putuskan, akan di jatuhkan hukuman penjara seumur hidup."
Keputusan pengadilan sudah mencapai titik akhir, namun hal yang mengejutkan kembali menghebohkan ruangan itu. Merry berteriak-teriak mengamuk membuat semua orang berlari dan sebagian mendekat untuk memegang wanita muda itu.
"Aku tidak mau kembali ke penjara. Aku ingin bebas!" begitu awal ucapannya. Namun selanjutnya malah ucapannya semakin tak karuan termasuk tentang mencintai Radit, sebagian orang di sana mengatainya 'Gila'.
"Sebaiknya kita pulang, biarkan polisi mengurusnya." Reza merangkul bahu Zahira seperti biasa.
Berbeda dengan Radit, lebih banyak diam dan fokus dengan pekerjaannya saja. Hanya sesekali ia datang ke rumah Zahira, itu juga karena menghantar Ayu yang lebih sering menginap di rumah Zahira.
Bukan sebab tak cinta, tapi memilih menjaga hubungan baik saat ini lebih penting bagi Raditya. Selepas hubungan yang kacau karena kehadiran Merry Sandra, dan kini telah berakhir dengan hukuman yang mungkin membuat Zahira puas, tapi tentu luka yang tertinggal tidak semudah itu sembuh dan terlupakan. Radit paham jika Zahira butuh ruang, dan meski sulit dia akan mencoba ikhlas, membiarkan takdir membawa arah kehidupan mereka hingga akhirnya.
"Apa dia sudah gila?" Zahira masih memikirkan Merry, yang beberapa kali persidangan memperlihatkan kelakuan yang aneh, dan sikap berubah-ubah.
"Bisa jadi, mungkin dosanya terlalu banyak." Reza menoleh Zahira sedikit.
"Aku lapar." Tiga bulan terakhir Reza selalu mengejarnya hingga kecanggungan itu hilang dengan sendirinya.
"Mau makan apa?" Reza menanyainya.
"Kita makan di kedai pinggir jalan saja sepertinya enak. Aku pernah makan bersama Jia di ujung sana." Zahira menunjuk tikungan sebelah kiri di hadapannya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan ke sana." dengan senang hati Reza menuruti apa yang di inginkan Zahira.
Mobil mereka berhenti di depan kedai mie ayam yang cukup ramai. Seperti biasa Reza turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Zahira.
"Pesan apa Sayang?" Reza meraih menu makanan di atas meja.
"Mie ayam saja. Kemarin itu Jia memesankan aku dengan cabai lumayan banyak." Zahira tertawa mengingat dia dan bodyguard-nya makan sangat lahap bulan lalu.
"Baiklah, yang ini Dua." Reza memberikan menu itu kepada pemilik kedai.
"Di sini menenangkan." Zahira melihat sekeliling memang belum begitu padat penduduk.
"Kau suka tempat yang jauh dari keramaian?" Reza sedang berpikir untuk membeli tempat yang di inginkan Zahira.
"Aku punya Vila, pemberian Mas Anggara saat aku dilahirkan." Zahira tersenyum getir.
"Kita bisa ke sana jika kau mau. Besok akhir pekan dan kita bisa menghabiskan waktu dua hari di sana."
Zahira menatap wajah pria yang belakangan selalu saja mengingatkannya dengan Anggara. Atau dia sengaja agar Zahira betah memandanginya lama-lama.
"Zahira, menikahlah denganku. Agar aku bebas membawamu kemana saja dan membuatmu bahagia. Tak ada batasan walupun aku tahu kau masih mengandung anak sahabatku. Aku akan sabar, yang terpenting aku bisa menjagamu setiap waktu, tidak ada batasan dalam memberimu perhatian."
Zahira menarik nafas untuk kedua kalinya. Sudah tidak terkejut karena ini bukan yang pertama, tapi sudah berkali-kali Reza mengungkapkan.
"Mengapa harus buru-buru, aku masih hamil dan kau tahu aku memiliki anak-anak. Aku takut kau menyesalinya nanti. Kau punya kesempatan untuk memiliki istri yang masih gadis, banyak yang mengejarmu."
"Tapi aku hanya menginginkanmu. Bukan mereka!" Reza menatapnya serius.
"Aku-"
"Jangan menolakku Zahira, cobalah untuk membuka hatimu dan aku akan menunggu sampai kau bersedia." Reza meyakinkan Zahira lagi, meraih dan menggenggam tangan kecilnya.
"Silahkan." pelayan kedai menghidangkan mangkuk berisi mie hangat. Menghentikan obrolan serius Reza dan Zahira.
"Terimakasih." ucap Reza masih memandangi wajah cantik di hadapannya, dia sangat yakin Zahira akan menjadi miliknya.
__ADS_1
"Bisa minta sendoknya?" Zahira menunjuk sendok yang lebih dekat dengan Reza.
"Tentu Sayang."