Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
217. Silahkan berkhayal


__ADS_3

"Tidak begitu, Jia juga harus diawasi! Jika dia sampai khilaf dan menghabisi anak Anwar itu, maka akan lebih kacau lagi."


"Bilang saja kau sedang mencari keuntungan dengan misi ini. Kau dapat enaknya, aku dapat susahnya." gerutu Radit menyandar.


"Tidak begitu, kau harus bisa berkorban sedikit, Merry hanya butuh dirimu. Ibarat ular kau adalah pawang terbaik yang bisa mengendalikan pergerakannya. Jadi harus konsisten dengan tugasmu, kau tidak boleh merasa lelah sebelum berhasil. Ingat ini tinggal sedikit lagi!" Reza menyemangati Radit.


"Omong kosong!" Radit kesal sekali.


Sementara Reza terkekeh kecil melihat wajah Radit, sungguh pria itu tak punya pilihan.


"Kau benar-benar menyukai Zahira?" tanya Radit lagi setelah sejenak berdiam.


"Ya." jawab Reza singkat, matanya menatap sangat yakin.


"Kau masih bujangan, harusnya kau memilih yang masih gadis saja." Radit mencoba membujuk Reza.


"Usia Zahira masih 25 tahun, penampilannya lebih cantik dari pada model papan atas. Soleha, lembut, dan menggemaskan. Aku sudah menentukan pilihan, aku akan memperjuangkan janda Anggara itu." tersenyum dengan penuh khayalan di wajahnya.


"Dasar mesum!" Radit menatap lelah, tak habis pikir dengan isi kepala Reza.


"Aku juga menyukai anak-anaknya. Bayangkan saja suatu saat nanti aku memiliki Dua orang anak laki-laki yang hebat, dengan segala kelebihan dan ketampanan. Dia akan memanggilku Ayah! Oh itu sangat membanggakan." Reza tertawa lebar, tak peduli dengan wajah kesal Radit.


"Silahkan berkhayal sampai besok, aku lelah!" Radit beranjak dari duduknya, malas sekali harus mendengar ocehan Reza yang terdengar seperti orang mabuk.


"Hei, tunggu! Kita belum selesai!" teriak Reza, namun tak di dengarkan Radit, pria muda itu sudah jauh berlalu.


"Dia pasti kesal sekali!" Reza kembali terkekeh-kekeh geli.


Perayaan hari berdirinya hotel Anggara Utama, seperti biasa akan sangat ramai di penuhi banyak undangan dari berbagai kalangan, tak terkecuali setiap perusahaan yang pernah menjalin hubungan kerja sama akan di undang.


"Om! Untuk apa mengundang musuh ke perayaan hotel suamiku?" Zahira tampak tidak suka dengan keputusan Ricky mengundang Anwar di perayaan malam ini.


"Kita punya rencana Zahira, kau tidak perlu takut akan kehadirannya. Beberapa asisten andalan suamimu akan hadir nanti malam. Kita akan melaksanakan inti dari rencana kita, semua akan bergerak nanti. Kau juga harus siap!" ucap Ricky sangat yakin.


"Mereka tidak tinggal diam Om, ingatlah bahwa anak buah Daniel sebagiannya masih dalam kendali Anwar." Zahira mengingatkan.


Ricky membuka kacamatanya, memandang wajah cantik itu dengan tersenyum kagum. "Kau mulai memperlihatkan ketangguhan mu. Aku menyukainya!" Ricky masih tersenyum.

__ADS_1


"Om, jangan bercanda! Aku tidak akan bisa menahan emosi jika melihat wanita itu berkeliaran di hotel suamiku, aku akan menghabisinya." geram Zahira.


"Tidak Zahira, kau hanya perlu hadir sebagai pemimpin yang berwibawa, jangan terpancing emosi." Ricky mengingatkan.


Zahira kembali duduk di kursinya, menghembus nafas kesal.


"Kehadirannya di butuhkan, agar rumah itu kosong dan orang-orang kita bisa menggeledah dengan cukup waktu." ucap Ricky lagi.


"Kau pikir rumahnya akan kosong? Tentu dia bukan Anwar yang dulu. Sekarang dia akan menjaga anaknya lebih ketat. Aku yakin sekali Anwar tidak bodoh." Zahira mendebat Ricky.


"Aku tahu Zahira, dan kita juga jangan lengah. Radit akan membawa Merry hadir di acara nanti malam."


"Om!" Zahira semakin kesal.


"Dengar Zahira, kehadirannya di satu tempat, akan memudahkan kita untuk mengawasinya. Kita hanya perlu menemukan senjata itu, setelahnya terserah padamu. Kau bebas memutuskan akan membuatnya seperti apa jika barang bukti sudah ada di tangan kita." jelas Ricky.


"Dimana Reza?" tanya Zahira tiba-tiba.


Ricky menatap penuh selidik, sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan nama?"


"Dia akan datang!" Ricky tertawa kecil melihat tingkah Bosnya.


Zahira keluar dari ruangan Ricky, lucu sekali tiba-tiba dia harus menanyakan Reza pada assistennya. Niat sebenarnya hanya ingin tahu bagaimana sebaiknya nanti malam, sungguh Zahira khawatir dengan dirinya sendiri yang sudah pasti tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat Merry. Ya, tangan yang menembak suaminya!


Terkadang berdoa memiliki kesempatan untuk mematahkan tangan wanita itu, sungguh rasa tidak terima atas kehilangan Anggara kini berubah menjadi dendam. Terlalu banyak yang sudah dilakukan wanita itu dalam kehancuran hidupnya. Dan asal sebabnya tentu hanyalah karena seseorang, Radit.


"Aku mendengar tadi ada yang mencari ku."


Suara berat Reza memecah lamunan yang menyesakkan dada, marah dan benci membuat Zahira menahan nafasnya sendiri.


Reza tak butuh jawaban, pria tampan itu membuka pintu ruangan Zahira dan mempersilahkan Zahira masuk lebih dulu.


Manis sekali.


"Kau baru datang?" tanya Zahira melihat wajah Reza sejenak, pria disampingnya itu tampak tenang menutup kembali pintu.


"Sedikit terlambat, tadinya punya janji dengan asistenmu, tapi aku malah tertarik dengan makanan ini." Reza mengangkat bag paper berisi beberapa kantong plastik juga.

__ADS_1


"Apa?" Zahira melihatnya dengan penasaran, aroma harum bawang putih dan gula merah jelas sekali menusuk indera penciuman ibu hamil.


Reza membuka kotak makan dari plastik itu, dan memperlihatkan isinya.


"Dimana kau membelinya?" tanya Zahira tersenyum senang.


"Anggara pernah bercerita padaku, kalian pernah membeli ini di dekat taman." Reza mengatur posisi kursi kebesaran Zahira dan memintanya duduk.


"Untuk apa kau mengingat ucapan suamiku? Lucu sekali." ucap Zahira menatap heran, namun menurut pada akhirnya duduk dan mulai menusuk potongan buah itu dan mencobanya.


"Karena saat itu aku iri sekali mendengarnya, aku berkhayal memiliki istri seperti dirinya, lalu mengandung dan memanjakannya seperti yang di lakukan suamimu." Reza masih setia berdiri di samping Zahira, pergerakan jari lentik itu tak lepas dari penglihatannya.


"Terimakasih." ucap Zahira menikmati makanan yang sedang di kunyah olehnya.


"Apa rasanya enak?" Reza tampak penasaran.


"Hem. Mau? setelah mengangguk kemudian menawarkan potongan buah ditangannya.


Tentu saja dia mau! Tak menyia-nyiakan kesempatan segera menunduk dan menerima potongan buah dari tangan lentik Zahira.


"Uhhuk...uhuk." Reza tersedak segera meraih air putih di meja Zahira, langsung meneguk habis tak bersisa.


"Kau tidak suka?" tanya Zahira lembut, ia sungguh heran.


"Itu asam sekali!" bergidik ngeri menatap rujak di tangan Zahira.


"Tidak! Ini menyegarkan, aku jadi tidak mengantuk setelahnya." ucap Zahira terus menikmati makanannya.


"Oh baiklah." Reza duduk menyerah, membiarkan ibu hamil itu terus melahap makanannya.


"Jangan sampai kau sakit perut, asisten Ricky bisa membunuhku!" ucap Reza khawatir.


Zahira Terkekeh geli mendengarnya. Reza adalah orang yang baik sekali, tak salah jika Anggara memilihnya untuk terus bekerja sama.


"Apakah nanti malam kau akan ke rumah Anwar?" tanya Zahira kemudian di sela mengunyah makanan, matanya menatap serius.


"Tidak!" jawabnya singkat, kemudian mendekatkan wajahnya pada Zahira. "Aku akan mendampingimu nanti malam."

__ADS_1


__ADS_2