Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
232. Memikirkan keputusan


__ADS_3

Mobil Reza sudah berhenti di halaman rumah mewah Anggara, tapi kedua orang itu tak juga keluar. Bahasan tentang perasaan dari Reza Mahendra belum juga selesai, kali ini ia tak akan melepaskan Zahira begitu saja sebelum menjawab perasaannya yang sudah berulang kali dia utarakan.


"Zahira."


"Aku harus berpikir lagi untuk menjawab perasaanmu. Kau tahu jika tak mudah bagiku mengambil keputusan, terlebih lagi untuk menikah. Aku harus menanyakan apa keinginan putra-putraku, kau pun sama, bagaimana dengan keluargamu. Semuanya akan begitu rumit jika salah satunya menolak."


"Bukankah sudah berulang kali ku katakan aku sangat menyukai anak-anak, bahkan saat Anggara masih ada. Apa itu tak cukup membuatmu yakin?"


"Itu dirimu, bagaimana dengan orangtuamu? Mereka punya pertimbangan sendiri dan punya penilaian sendiri. Tidak seperti kita yang masih muda, mementingkan keinginan, mengesampingkan pendapat, mengedepankan ego dan cenderung memberontak saat keinginan kita tidak tercapai. Dan itu bukanlah cara yang baik untuk mendapatkan kebahagiaan."


"Aku akan mempertemukan mu dengan Mama, secepatnya dia akan pulang ke Indonesia. Aku benar-benar ingin menikahimu." Reza berucap serius.


Zahira sedikit tersenyum, walaupun hatinya sendiri tidak yakin tapi menghindar tak ada gunanya. Percaya bahwa Tuhan tidak akan menghadirkan orang yang salah. Lagipula Reza bukanlah orang yang buruk, dan yang paling penting juga menyayangi anak-anak.


"Ya."


Tentu dua huruf itu membuat hati Reza sangat lega. Keinginan memilikinya sudah semakin dekat, usahanya selama berbulan-bulan akhirnya menunjukkan hasil.


"Anak-anak belum pulang." Reza melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Belum."


"Istirahatlah, semua sudah berakhir bukan?" sedikit mengusap kepala yang terbungkus hijab itu.


"Iya, aku lega sekarang." Zahira tersenyum lebar mengingat Merry sudah di tahan.


"Ya, Allah selalu bersama orang baik, sepertimu." Reza masih setia memandangi wajah Zahira, semakin hari semakin cantik di matanya.


"Terimakasih."


"Untuk apa?" tanya Reza dengan lembut dan mesra.


"Mie ayam yang enak." Zahira tersenyum lebar.


"Hanya mie. Aku bahkan ingin bertanya sesuatu?" Reza sangat menikmati obrolan di dalam mobil itu.

__ADS_1


"Apa?"


"Kau ingin meminta apa? Aku ingin sekali memberikan sesuatu yang berkesan untukmu. Tapi aku tidak tahu apa, jika itu uang kau punya lebih banyak dariku." masih tak merubah posisinya, menikmati pemandangan indah dan menggemaskan.


"Hemm." Zahira tampak berpikir. "Sabar." jawabnya kemudian.


Reza terkekeh kali ini. "Itu sangat sulit, bahkan setiap malam aku membayangkan bisa bersamamu. Aku memanggilmu Sayang, dan kau menjawab dengan mesra. Seperti kau menjawab panggilan Anggara, itu membuatku berkhayal sejak dulu."


"Kau sering menguping?" Zahira menatap heran.


"Sedikit. Dan itu membuat hidupku tidak tenang sampai saat ini." jawabnya jujur, tapi juga salah tingkah.


"Itu akibatnya kalau terlalu ingin tahu kehidupan orang. Kau akan gelisah karena pikiranmu sendiri."


"Bagaimana aku tidak gelisah jika objeknya adalah dirimu." Reza semakin mendekatkan wajahnya. "Maka dari itu cepatlah memberiku kepastian, aku ingin kita segera menikah."


"Aku akan memikirkannya."


Lama saling menatap, mata mereka beradu menyalurkan kerinduan yang berbeda. Tidak munafik jika Zahira juga menikmati setiap kebersamaan mereka, penampilan yang sedikit memiliki kesamaan dengan Anggara membuat bening matanya terbiasa.


"Maaf." Zahira menunduk malu, tentu saja kesadarannya masih penuh, jangan sampai membelai wajah Reza seperti Anggara. Walaupun terkadang benar apa yang ucapkan Reza Mahendra, tapi sekuat hati dia akan menahan. Anggara sosok yang berbeda, memiliki tempat istimewa yang sulit digantikan, tidak akan tergantikan oleh siapa saja.


Reza beranjak membuka pintu.


"Tidak usah, aku akan masuk dan istirahat. Sebaiknya kau kembali ke kantor, bukankah tadi asistenmu menelepon." Zahira memperbaiki tas di bahunya.


"Kau yang paling penting."


"Pekerjaan juga penting, aku tidak mau kau jatuh miskin hanya karena sedang merayuku." ucap Zahira sedikit berani.


Reza tertawa lebar, menurutnya sangat lucu ucapan yang keluar dari bibir merah itu. "Ternyata calon istriku mata duitan juga." dia kembali melanjutkan tawanya.


"Tentu saja, aku ingin meminta banyak hal nanti." Zahira membuka pintunya sendiri.


"Mintalah semuanya, aku akan memberikan apapun maumu." membuat Zahira menoleh.

__ADS_1


"Kau sudah janji." jawab Zahira melangkah keluar.


Merasa tak puas Reza membuka kaca mobilnya. "Apapun." ucapnya tersenyum lembut.


Entahlah, mendadak pertemuan dengan Zahira mengubah hidupnya. Keinginan untuk menikah dan memiliki keluarga yang utuh selalu menjadi impiannya jika melihat wajah meneduhkan itu. Cantik dan begitu membuat bahagia, mengalahkan banyak gadis-gadis cantik yang selama ini datang menghibur dan memberikan kesenangan dengan tanpa di minta. Bahkan hanya membaca tulisan nama Zahira hatinya memberikan respon bahagia.


"Pantas saja Anggara sampai menyerahkan semua padanya, dia begitu membuat tergila-gila." gumamnya menatap punggung Zahira hingga menghilang masuk ke dalam rumah mewah itu.


Sementara itu, Radit masih di kantor polisi memastikan keadaan Merry. Semenjak dia di tahan Dua bulan yang lalu, Merry memiliki kebiasaan yang berubah-ubah, terkadang menangis histeris, terkadang tertawa dan berkhayal tentang kebahagiaan bersama Radit. Tentu saja membuat malu dirinya, tapi tak punya pilihan ia harus tetap ada di sana.


"Bagaimana Pak?" Radit langsung bertanya ketika seorang dokter dan polisi keluar dari ruang tahanan.


"Saudari Merry Sandra mengalami Depresi sehingga butuh penanganan khusus. Untuk sementara hanya di beri obat penenang dan harus di minum rutin." jelas Dokter tersebut.


"Apapun yang terjadi, dia harus tetap di tahan Pak, jangan sampai dia bebas dengan alasan Depresi atau apapun lagi." Radit berkata tegas.


"Kami mengerti, bagaimanapun juga riwayat kejahatannya menjadi pertimbangan."


"Baiklah, kalau begitu terimakasih." Radit mengulurkan tangan kepada Dokter dan Polisi itu bergantian.


Radit hanya ingin memastikan Merry tidak bebas dan tidak membuat ulah lagi. Sudah cukup Zahira mengalami banyak penderita karena dirinya, ya walaupun itu bukan kehendak Radit, tapi semuanya ada hubungannya dengan Radit.


Benar kata Anggara, jika kehilangan Zahira adalah akibat kesalahannya tak bisa menjaga Zahira dengan baik. Begitu juga kata ayahnya, David begitu menyalahkan Radit ketika Zahira dianggap meninggal. Harusnya Radit tidak gagal menjaga istrinya, jika pun gagal sebagai suami, paling tidak jangan gagal sebagai saudara. Ini yang sedang dia lakukan, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Ponsel di saku jasnya berbunyi, ia segera masuk ke mobil dan mengangkatnya.


"Halo Mama!"


"Mama ingin pulang, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Ayu di seberang telepon.


"Sudah, aku akan menjemput Mama, sekalian ingin bertemu anak-anak." Radit langsung menghidupkan mobilnya.


"Baiklah, mereka baru saja pulang." jawab Ayu.


"Sekitar Tiga puluh menit lagi." Radit kemudian mengakhiri panggilan telepon, melaju menuju rumah Zahira.

__ADS_1


__ADS_2