Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
222. Salahkan Jia


__ADS_3

"Dia di atas, bersama Reza." Ricky meraih laptop dari tangan Radit dan membawanya naik ke ruangan Zahira.


"Kau tidak ingin melihat keadaan mantan istrimu?" tanya Ricky, melangkah ke dalam lift diikuti Radit.


"Untuk apa?" Radit berdiri di samping Ricky.


"Dia terluka karena Zahira mengamuk, mana tahu kau masih punya perasaan dan ingin menolongnya." ucap Ricky tersenyum, meski hanya mendapat tatapan kesal dari Raditya.


"Aku khawatir dengan Zahira." ungkap Radit kemudian.


"Aku sampai bingung harus bagaimana, undangan yang membeludak itu sangat heboh dan akhirnya bisa aku minta pulang. Takut terjadi kekacauan dengan berbagi alasan tentunya." jelas Ricky cukup kewalahan dengan kekacauan malam ini.


"Aku juga tidak bisa meninggalkan laptop ini, CCTV perlu dikendalikan. Dan masih ada satu tempat yang sedang bergerak." Radit kembali meraih laptopnya dari tangan Ricky setelah keluar dari lift. Radit memilih satu ruangan untuk kembali membuka laptop untuk mengawasi anak buah Anggara yang lainnya.


"Mereka masih di rumah Daniel." gumam Radit mencoba menghubungi mereka.


"Tuan Ricko mohon datang kemari, kami menemukan banyak hal disini." lapor seseorang yang sedang menerima telepon Radit.


"Dia akan segera datang." Radit mengganti panggilannya kepada Ricko.


"Om, datanglah ke rumah Daniel sekarang." ucap Radit cepat.


Terdengar suara pertengkaran di luar, membuat Radit menghentikan panggilan teleponnya. Ia beranjak dan memastikan jika itu bukan Zahira.


"Harusnya kau tidak bertindak sembarangan!" kesal Ricky membentak Jia.


Jia mendengus kesal, menuju ruangan Anggara dimana saat ini Zahira sedang berada.


Radit mengikuti kedua orang beda usia itu, tampaknya sedang terjadi perdebatan.


Ruangan besar Anggara, wanita cantik itu masih terduduk lemas dengan gaunnya ikut tergelar. Tangannya bertopang pada lantai yang dingin, tertunduk dengan isak tangis masih terdengar tarik menarik dengan nafasnya.


Entah mengapa Reza Mahendra tak melakukan apa-apa kali ini, pria itu hanya diam terpaku ikut menikmati suara tangisan memilukan.

__ADS_1


Radit melangkah pelan melewati Reza, berkecamuk rasa tak menentu melihat wanita yang pernah menjadi istrinya kini sangat menderita. Radit ikut duduk menekuk lututnya, menatap wajah yang menunduk itu dari dekat, matanya sembab, bibir merahnya sedikit bengkak.


"Maafkan aku Zahira." ucap Radit pelan sekali, mata yang menyipit itu mulai berembun. "Semua salahku." sambungnya lagi pelan dan sendu.


Perlahan kepala yang menunduk itu terangkat, mata sembabnya menatap pria yang sedang duduk sejajar di hadapannya.


Tangisnya kembali deras, matanya menyiratkan kepedihan dan luka. Amarah dan benci juga lelah. "Ya, semua gara-gara dirimu, kaulah penyebabnya. Kau membuat aku begini Radit!" tangis Zahira dengan nafas terputus-putus.


"Aku memang salah Zahira, aku yang salah. Aku yang membuatmu menderita." akhirnya butiran bening di mata Raditya jatuh juga. "Aku harus bagaimana agar kau tidak lagi menderita?" tanya Radit meraih tangan Zahira.


Zahira menghindari tangan Radit, namun Radit tetap meraihnya, berusaha menenangkan Zahira. "Zahira aku mohon jangan seperti ini, jika kau ingin menghukum ku maka lakukanlah." Radit masih berusaha memegang kedua tangan Zahira.


"Aku benci padamu, aku benci padamu Radit!" teriaknya mengamuk, memukuli Radit dan mendorong tubuh gagah itu untuk segera menjauh.


Namun tak seberapa tenaga yang tersisa, sehingga dengan mudah Radit meraih tubuh lemah Zahira dan memeluknya. Tak peduli bagaimana tangan kecil itu tetap memukul dan mencengkeram dada Radit, ia tetap memeluknya erat.


"Aku tidak mau!" tangisnya semakin menjadi.


Radit semakin membenamkan kepalanya di bahu Zahira, rasa bersalah dan berdosa menyelimuti hatinya. "Maafkan aku Zahira."


"Aku ingin suamiku." air matanya membasahi kemeja yang di pakai Raditya.


"Aku benci padamu." suaranya semakin pelan di dalam pelukan Radit, lama membiarkannya menangis, mengamuk dan menyakiti Radit, hingga beberapa saat setelahnya kepala Zahira menyandar di bahu Radit dengan tangan kecil itu terlepas jatuh.


"Zahira!" Radit menggoyang bahu Zahira, ia khawatir jika dia pingsan lagi.


Jia mendekati Zahira, segera membawanya duduk di sofa bersama Radit. "Minumlah Nyonya, kau kelelahan." Zahira meraih air mineral di atas meja, membuka dan segera memberikan pada Zahira.


Isakkan yang masih terdengar menarik dadanya, tubuh lemas dengan mata bengkak dan mengabur.


Tak ada yang berani berbicara, semuanya diam dengan pikiran masing-masing. Termasuk Radit masih duduk didekat Zahira.


"Aku sedang menjadi orang gila" ucap Zahira pelan, disela isak tangis yang masih sesekali terdengar. Dia mengingat bagaimana dirinya mengamuk.

__ADS_1


"Wanita mana yang tidak menjadi gila jika suaminya di habisi di depan mata. Dan pelakunya masih hidup baik-baik saja." Jia menyahut, dengan tatapan tajam namun memberikan kekuatan untuk Zahira.


"Entahlah Jia!" Zahira mengusap wajahnya.


"Anwar sedang dirawat, keadaannya darurat." Ricky mulai bicara. Sedikit melirik bodyguard Zahira yang juga mendelik tajam tak mau disalahkan.


"Biarkan saja!" ucap Jia tak peduli.


"Jika dia mati kau ditahan!" Bentak Ricky.


"Aku tidak peduli!" jawab Jia kesal sekali.


"Kau tidak peduli, lalu bagaimana yang lainnya? Jika kau ingin menghabisi Anwar harusnya tak perlu melakukan penggeledahan hingga berkelahi mati-matian." kesal Ricky lagi.


"Aku tidak menghabisinya!" Jia terus melawan.


"Kalau bukan kau lalu siapa? Hanya kau yang bisa membuat seseorang mati mendadak!" Ricky balas meninggikan suaranya.


"Aku tidak melakukan itu, aku hanya menghajarnya hingga babak belur dan mengurungnya di toilet. Jangan menuduh sembarangan." Jia menghempaskan tubuhnya, menyandar di sofa bersebelahan dengan Zahira.


"Bukankah sudah ku ingatkan sebelumnya untuk tidak bertindak sendiri. Dan kau sudah keterlaluan." Ricky duduk di kursi terpisah sambil memijat kepalanya.


"Keterlaluan bagaimana? Bukankah harusnya mereka di habisi sejak lama? Agar tidak menghawatirkan. Lagi pula jika Anwar mati musuh kita tinggal satu, itu juga jika hidupnya masih normal." desisnya di ujung kalimat.


Ketiga pria tampan itu langsung melihat ke arah Zahira, mereka sedang membayangkan keadaan Merry saat ini. Terlebih lagi Reza, bahkan tangan Merry tampak menyakitkan dipangku pemiliknya, juga betis mulus anak Anwar itu tadi luka berdarah.


"Jika ada yang di tahan hanya karena malam ini, itu adalah aku!" ucap Zahira lantang.


"Tidak! Jika Anwar mati aku yang di tahan. Aku juga masih punya hak untuk membela diri." Jia berucap dengan santai.


"Kau juga harusnya tidak membiarkan Zahira mengamuk!" Ricky kembali memarahi Jia. "Kau dan Teddy sama saja! Sepertinya kalian sengaja membuat majikan kalian berkelahi." Ricky memukul meja di sampingnya.


"Kesempatan tidak datang dua kali, jika tidak di hajar sekarang lalu kapan? Enak sekali hidup mereka, sudah melakukan banyak kesalahan malah tidur nyenyak dan banyak uang." gerutu Jia dengan wajah sinis.

__ADS_1


"Kau juga! Bagaimana bisa Zahira lolos dalam pengawasan mu? Jangan-jangan kau sibuk merayu wanita?" Ricky juga memarahi Reza Mahendra.


__ADS_2